Reza Gunawan on Female Radio

Ketika kita marah pada orang lain, pada suatu sikap orang lain terhadap kita, dan kita meluapkan emosi atau amarah tersebut kepada orang itu, sebenarnya kita sedang marah pada diri kita sendiri atau bisa jadi sebenarnya kita yang seperti itu. Kita yang sebenarnya seperti orang yang kita marahi itu. Jauh dalam diri kita, sebenarnya kita membenci apa yang orang lakukan itu terhadap kita karena mungkin kita pernah seperti itu, pernah melakukan hal tersebut dan kita membenci sikap yang kita lakukan itu.

 

Kalau kita sudah menanamkan cap tertentu pada diri kita, atau pikiran tertentu tentang diri kita, sebagai contoh misal kita berpikir kita tidak layak untuk dicintai, maka pikiran itu akan tertanam dan melekat dalam benak kita. Otak kita akan terus berpikir seperti itu dan hal iitu akan mempengaruhi setiap langkah kehidupan dalam keseharian kita. Hal yang terjadi di sekeliling kita akan terus kita kaitkan dengan cap dan pikiran tersebut.

Contoh : Pekerjaan menumpuk dan kita tidak bisa fokus pada pekerjaan itu dan akhirnya pekerjaan tersebut tidak bisa selesai tepat waktu maka pikiran kita akan tertuju dan mengaitkan kejadian tersebut dengan  karena kita tidak layak dicintai.

Kekasih kita membatalkan janji bertemu karena ada urusan mendadak, kita akan menganggap hal itu karena kita tidak layak dicintai.

Saudara kita diberi hadiah oleh orang tua kita karena sesuatu, sedang kita tidak, sekali lagi kita menganggap bahwa hal itu terjadi karena kita tidak layak untuk dicintai.

 

Ketika kita mengalami suatu peristiwa, sebisa mungkin untuk memisahkan kejadian dan penilaian. Peristiwa adalah hal diluar diri kita dan penilaian kita tidak ada kaitannya dengan peristiwa itu.

Contoh : Pagi ini aku makan kue mangkok. Rasa yang aku rasakan dari kue mangkok adalah manis. Semua orang akan merasakan rasa yang sama, yaitu kue mangkok itu manis. Tapi, penilaian aku soal enak atau tidak enak kue itu kembali ke penilaian diri kita sendiri saja.

 

Setiap manusia punya perasaan takut. Misal takut tidak bisa makan maka orang tersebut mencari pekerjaan atau mencari uang. Selain itu manusia juga punya harapan, misal karena takut pada masa depan yang tidak pasti maka orang tersebut mencari pekerjaan yang lebih baik  atau mencari uang yang lebih banyak. Manusia juga punya cinta. Tinggal pada hal apa manusia tersebut akan lebih menggantungkan diri. Pada rasa takut, harapan atau cinta.

 

Setiap orang selalu ingin merasa bahagia. Dan terkadang tidak memberi kesempatan pada rasa tidak bahagia untuk muncul. Biarkan natural, artinya ketika kita sedang bahagia, jangan abaikan rasa tidak bahagia. Karena rasa tidak bahagia itu juga butuh eksistensi dan juga ingin muncul ke permukaan. Ketika kita memaksa agar rasa tidak bahagia itu untuk terus tidak muncul, yang terjadi adalah akumulasi dari rasa tidak bahagia itu sendiri. Sehingga akhirnya kesedihan menjadi berlarut-larut.

 

*Renungan pagi hari,  20 agustus 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s