Proud of You…

Ortu datang, aku malah sibuk kerja plus nongkrong. Yah, mau gimana lagi, belum waktunya cuti sih. Pasti ada waktu spesial buat Mamak-Bapak deh… Bentar lagi juga cuti, lumayan 5 hari… Mantap!

Cerita kehidupan mengalir dari seorang Bunda yang tetap tabah dan tersenyum disaat kehidupan tidak sejalan dengan keinginan (Bunda, aku gak jadi pindah kost deh…), membuatku harus berkata aku BANGGA punya Mamak-Bapak. Bangga sekali… Di waktu sesulit apapun, keluarga ini tetap utuh, tetap satu, tetap saling setia dan menjaga.

Entah kenapa tiba-tiba teringat kebon sepetak yang dulu ada pohon cengkih dan rambutannya dijual untuk biaya akhir kuliah dan wisudaku (kelak aku akan mengganti tanah itu untuk keluarga ini)… Teringat Bapak yang terkena outsource dan tidak dapat pesangon disaat aku sebentar lagi akan selesai kuliah… Teringat Bapak yang harus cuti 3 bulan karena sakit disaat aku mulai kuliah… Teringat Bapak yang kecelakaan jatuh dari pohon diawal semester aku kuliah sehingga harus ICU dan terkapar berbulan-bulan (dan aku sibuk pacaran saat itu…= aku sangat menyesal).

Hidupku memang tidak mudah. Hidup semua orang tidak ada yang mudah. Kalau aku teringat dan menangis, bukan karena aku menyesali nasib atau tidak bersyukur. Tapi, aku berterimakasih pernah mengalami itu semua. Banyak sekali hal yang tidak terduga terjadi setelah atau diantara itu. Berkah yang luar biasa dari Sang Maha Pecinta.

Aku harus mundur 3 tahun untuk kuliah. Aku ingn S1 HI, tapi menjadi D3 PR pun aku sangat bangga. Aku pernah kerja jadi buruh pabrik kacang selepas SMEA demi cita-cita kuliah yang mulia, walau hanya sebentar, sekarang aku tau alasan kenapa aku sering ikut demo mahasiswa untuk negeri ini. Tidak ada buruh yang merdeka. Aku juga harus bertarung di Jakarta, menabung dengan menangis bahwa aku memang sangat ingin kuliah. Setahun ayolah cepat berganti… Jogja adalah semua yang ada di mimpiku.

Awal kuliah, aku tidak diberitahu bahwa Bapak kecelakaan parah (aku sungguh menyesal mengingat ini), mereka tidak ingin aku panik disaat aku ingin menikmati semua yang indah yang baru aku nikmati sebagai mahasiswa. Semester kedua, setiap kali aku menanyakan kabar ke rumah, yang ada hanya doa, supaya aku kuat menjalani semua ini. I’m struggle girl, I never fall! Sekeras apapun hidup menindihku, aku akan mengangkat hidup itu kearah yang aku inginkan. Aku harus berusaha sendiri, berdiri di kakiku yang sudah lama kutempa melalui batu-batu terjal di gunung yang aku daki. Aku mencari kerja part-time di sebuah distro di sebuah mall Jogja  yang sekarang sudah pindah entah kemana. Aku tidak akan menyerah untuk ini, aku tau apa cita-citaku, aku harus bisa dan aku harus berhasil. Aku juga ikut kegiatan kampus yang menghasilkan uang. Jadi Panitia Mahasiswa Baru, sebar brosur, apapun! Aku mendapatkan beasiswa kuliah untuk orang tidak mampu, lumayan untuk bayar kost dan beli USB. Aku juga menerima rental ketikan laporan kakak tingkatku, yang penting uang halal.

Tidak ada kebaya baru untuk wisuda, aku hanya pinjam kebaya pada Bulikku di Klaten. Tidak ada salon agar aku tampil cantik dan mempesona. Wajahku dicoret-moret Bulikku sendiri. Setelah wisuda adalah yang paling penting. Aku sudah merancang hidupku yang baru. Kembali ke tiada, ke titik nol.

Wisuda. Memori-memori indah saat kuliah bertaburan di kepala, yang sedih, yang lucu, yang mengharukan. Teringat aku siaran pertama kali di Radio Kampus, teringat aku sibuk berdiskusi di Pers Kampus, teringat tatapan bala Tapak, ketika aku bercerita perjalanan naik gunungku, teringat ucapan dosen favorit yang meninggal karena kanker, beliau yang bilang “Saya gak bisa bilang apa-apa lagi, pertahankan terus IPK kamu,” di semester pertama aku kuliah, teringat ngantuk saat kuliah, teringat saat tugasku di copy-paste temanku, teringat event Pameran Foto PR di Prameks, teringat Produksi Company Profile Taman Kuliner, Mak Nyusss PH, teringat 11 Januari GIGI yang aku tonton bersama anak-anak PR, teringat semua kenangan laporan akhir yang data-datanya hilang dan aku harus mengetik ulang… Dan, di bulan puasa aku Pendadaran…

Aku bisa seperti ini karena keluarga mendidikku dengan kepercayaan. Air mata yang mengalir karena aku lega aku sudah bisa mempersembahkan yang terbaik untuk Mamak-Bapak. Aku bukan bangga akhirnya bisa cum-laude tapi aku bahagia karena setelah ini akan jarang membuat darah tinggi Mamak kumat karena memikirkan biaya kuliahku.

“Yang penting kan sekarang hasilnya,” kata temanku.

“Belum berhasil…” kataku. Maksudku masih banyak hal yang belum aku capai. Ada cita-cita besar dalam dada. Belum tercapai.

“Ya sekarang buktinya…” aku sudah bekerja, pekerjaan yang lumayan manis. CSR. Itu mungkin maksudnya.

“Kenapa orang selalu minta-minta-minta tapi gak pernah terimakasih…” aku diam. Ya, temanku itu selalu mengingatkanku untuk bersyukur-bersyukur-bersyukur dan berterimakasih. Aku sangat bersyukur untuk semua yang sudah aku dapat sekarang ini. Pekerjaan yang manis, teman-teman yang lucu, teman-teman yang selalu mendukungku. Aku yakin bisa lebih dari ini, untuk itu aku akan kesana. Setidaknya temanku itu pernah tau cita-citaku. Aku akan kesana, berlari menemui cita-citaku.

*Dedicated for Mamak-Bapak, para sahabat dan My Dreamland.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s