Untitled

Semilir angin Merbabu mengurai keheningan pagi yang semerbak oleh harum Edelweiss yang merekah tertimpa sinarmentari yang selalu bangun lebih awal dari semua penjaga alam.

Bowo menghisap rokok kreteknya dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Dia memandang pagi yang tenang, menyapu ke semua penjuru, hanya lereng, hanya hijau… hanya kesejukan, hanya kedamaian, hanya dengan kuasa Tuhan yang bisa membawa kaki manusia melangkah setinggi ini. Pun, juga Bowo yang mendaki sendiri, berteman rembulan baru dan nyanyian alam, dengan niat suci menenangkan diri, dia tak dibuat nyasar atau terluka di perjalanan. Bowo tersenyum sendiri. Gitar di tangannya hanya didekap dan belum dimainkan. Dia tidak tahu ingin bermain lagu apa, karena pagi ini terlalu indah untuk diusik ketenangannya,. Akhirnya Bowo hanya bisa mendesah, berharap dia bisa setenang pagi di Merbabu.

“Ada-ada aja si Saras, ke gunung bawa rok batik, mau fashion show ya?” ujar Ariesta sambil tertawa geli. Saras hanya mengerling saja,

“Merbabu itu spesial, jadi aku pengen foto pake baju spesial juga disini, ” Saras menunjuk kamera.

“Oh, iya aku lupa. Tujuan kamu bela-belain ikut kesini kan karena mau cari view bagus buat foto-foto… Sampe-sampe gangguin aku sama Wahyu ya… hahaha…” Ariesta menyebut nama kekasihnya.

“Aku gak bakal ganggu kok, habis ini aku mau hunting sendiri…”

“Trus, siapa yang mau memfoto dirimu?”

“Pasti ada…” Saras tertawa.

Bowo sedang berduka, sedang bersedih, sedang merana. Rasanya ia ingin menangis saat ini. Rasanya kemarin dia begitu kuat, begitu tegar, tapi ketika sudah berada di ketinggian ini, semuanya luruh dan semuanya lenyap. Hanya dera yang dirasa. Bowo memetik gitarnya dengan sakit yang ditahan,

“Sampai saat ini tak pernah terpikir melupakanmu…

Didalam hatiku ku tak pernah mau melupakanmu…

Melupakanmu…”

Saat itulah Saras melintas, mencincing rok batiknya yang berwarna gradasi biru dan putih, yang lebar menyentuh tanah, rambutnya terurai disapa lembut angin pagi yang berhembus melewati rimbun-rimbun Edelweiss yang tumbuh tinggi, selendang tipisnya berkibar mengikuti angin, menutupi lehernya yang jenjang. Saras menatap Bowo, Bowo menatapnya terpana. Dunia bergerak dalam slow-motion, lagu-lagu indah syahdu pun mengalun. Saras menatap Bowo tanpa kedip, seakan menemukan sebentuk harta pusaka yang telah lama hilang. Bowo masih terpesona dan berpikir dia sedang melihat bidadari yang kepergok manusia.

“Hei…” bidadari itu mengibaskan tangan membuat Bowo tersadar.

“Kamu lagi sedih ya, lagunya kayak keluar dari dalam jiwa…” Bowo tertawa, kok bidadari tahu lagu Jikustik? Bidadari gaul.

“Kamu ke gunung kok pake batik, memang ada peragaan busana disini?” ucapa Bowo. Saras ikut tertawa.

“Petikan gitar kamu bagus…” puji Saras tulus.

“Batik kamu bagus, beli dimana?” balas Bowo.

“Ah, Bowo…” Saras ikut duduk di dekat Bowo.

“Kenapa kamu juga ada disini Saras?” tanya Bowo. Dua orang ini sudah saling mengenal, setidaknya begitu, karena mereka teman satu angkatan di kampus.

“Aku gak tau kalo kamu juga ada disini…” ujar Saras.

“Gimana… Udah lebih baik belum?” Saras memandang Bowo.

“Hmmm…belum, Saras. Perceraian orang tuaku maksud kamu? Aku masih bingung aja bagaimana cara menghadapinya… walau aku sudah sebesar ini…” Bowo tertawa, hambar dan sedih.

“Aku terlau dekat sama Ibu dan Ayahku… perceraian karena salah satunya harus pergi untuk membangun kehidupan lain yang lebih abadi… seperti sulit diterima.”

Saras merenung. Bowo baru seminggu lalu menghadapi sidang perceraian orang tuanya, kemudian sehari setelah sidang perceraian itu ayahnya meninggal karena serangan jantung. Saras mengusap matanya yang basah tiba-tiba.

“Maafkan aku, aku juga gak bisa menafikkan pesan itu, Saras…” Saras menunduk, hatinya bergetar hebat, seperti ada lubang yang mendadak menganga. 3 tahun dia lewati malam-malam harapan yang semakin membeku karena sungguh tidak ada celah yang bisa mencairkan itu.

Pagi yang tenang di Merbabu, harumnya merasuk ke dalam jiwa. Tapi, membuat paru-paru seakan sekarat, karena terlalu sakit dan banyak racun yang tertinggal.

“Aku tau, Bowo…” Saras mengusap matanya lagi. 3 tahun lalu Bowo mengenalkan Saras kepada ayah-ibunya. Tapi, hubungan itu langsung renggang ketika orang tua Bowo mempermasalahkan perbedaan agama diantara mereka. Ayah Bowo yang memegang teguh prinsip sungguh tidak bisa ditentang, sampai menjelang ajalnya, ayahnya tetap berpesan untuk tidak hidup bersama dengan orang yang berbeda keyakinan. Betapa pun Bowo mencintai Saras, betapa pun Saras ingin sekali menentang itu.

” Aku menghargai perbedaan, Wo. Kasta masih bisa aku tentang, tapi aku tau ini juga tidak mungkin buat kita… aku rela jadi kasta sudra ataupun paria… tapi, bagi kita ini memang tidak mungkin… ” Saras berkata dengan serak, pundaknya dibelai tangan Bowo yang kuat.

“Bertahanlaah, kita pasti bisa…” hibur Bowo terlebih untuk dirinya sendiri. Bayangan Saras berlutut di depan pura membuatnya memejamkan mata. Sesaat mereka terdiam. Merbabu ikut diam, mereka merenung dalam diam.

“Eh, aku tadi buat mahkota, sengaja aku bawa kawat di ranselku, iseng-iseng aku buat mahkota… bagus tuh buat tambahan ward-drobe foto-foto kamu…” Bowo melongok ke dalam dome-nya, mengambil sesuatu.

Dan mahkota cantik itu berada di tangan Saras. Kawat dibuat melingkar seukuran kepala, kawat itu dipenuhi Edelweiss dan dedaunan kecil, entah bagaimana cara Bowo merangkainya. Mahkota itu unik, cantik dan indah sekali.

“Kamu merusak alam…” komentar Saras.

“Astagfirullah… bukan itu maksudku…” ujar Bowo. Saras tersenyum.

“Pas dikepalaku…” Saras memakainya. Darah Bowo berdesir, Saras memang seperti bidadari. Dan bidadari memang tidak untuk dimiliki manusia. Tapi, entah kenapa… tangan Bowo terulur untuk merangkai persembahan umtuk bidadari itu, hanya untuk bidadari itu.

“Ayo, temani aku foto-foto…” Saras berdiri dan menarik tangan Bowo. Bowo tersenyum manis.

Cerpen Intermezzo-Oct.21st.2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s