Bali

Ingin kesini lagi, menggapai kenangan 3 bulan di Bali tahun 2001. Bali yang indah, Bali yang ramah, aku suka ketenangan di sebuah kampung di Jl. Sahadewa No. 6 Denpasar Barat tempat aku tinggal dulu selama 3 bulan PKL SMK Pariwisata. Aku tinggal bersama temanku yang sudah dianggap saudara oleh mereka, secara gratis, benar-benar gratis-tis-tis dan kami diberikan kebaikan tiada tara dari semua penghuni rmah itu. Bukan cuma dijamin tinggal gratis, makan terjamin, tapi juga diajak liburan, jalan-jalan setiap akhir pekan. Sungguh menakjubkan semua yang terjadi disana.

Mbak Kadek Sri Mahartini, Mbak Komang Sri Maharani, Blide, Okik, Adik Oka, Yogi, Gusde, Kak Wayan, Kak Nyoman, Basir, Adnyana, semuanya baiiiiiik sekali. Kalau tidak salah ingat, temanku Basir (yang nama aslinya I Ketut Artadhana, karena dia mirip tokoh Basir di film kolosal jadilah punya julukan Basir) bilang begini :

“supaya kalau kami orang Bali pergi keluar daerah juga diperlakukan baik oleh sesama,” ketika aku tanya kenapa semua orang begitu baik kepada kami. “Itu yang disebut Karmapala,” tambahnya. Siapa menanam dharma, ia akan menuai hasil atas dharma itu suatu hari. Kira-kira seperti itulah.

Kalau bicara tentang tempat-tempat eksotis, Bali memang salah satu kota yang menawan hati deh. Kebetulan aku dan temanku PKL menjadi asisten Tour Guide, jadi tugasnya adalah membantu dan memandu wisatawan. Dan lebih menariknya lagi, kami khusus melayani wisatawan asing. Kami pernah membawa rombongan wisatawan yang mengadakan pertemuan dengan kampus besar IPB, yang terdiri atas mahasiswa domestik dan para profesor asing. Mereka datang dari berbagai negara. Dari USA, Greece, Texas, Japan, Korea dan lain-lain. Aku sempat terbengong-bengong ketika pertama kali ke Bedugul, ke perkebunan strawberry, aku pikir dulu pohon strawberry itu besar dan bercabang ternyata kecil seperti pohon cabe. Hehehe, dasar culun banget deh gue. Selanjutnya kami ke Taman Kupu-Kupu yang banyak kupu-kupunya tentu saja masa banyak gajah, itu mah Lampung. Hihihi. Sebelumnya kami sempatkan lunch di sebuah restoran yang masakannya emmm… yummy (Farah Quenn mode on), kemudian kami lanjutkan perjalanan ke Pura Tanah Lot menunggu sunset. Amazing! Biasanya hanya lihat di televisi sekarang kami ada disini. Hiyaaaa… ingin teriak saking bahagianya. Aku dan Royanti, temanku menikmati sunset bersama Mr. Nick dan istrinya, serta Mr. Teef. Indah sekali tempat ini… Walau kami lelah dan wajah kami berminyak, tapi kami ikut terdiam bersama para tamu menikmati sunset indah di Bali.

Dalam prakteknya, berbicara dalam bahasa Inggris itu menyenangkan dan tidak sulit kok. Kuncinya yang penting kita mengerti apa yang diucapkan orang asing dan orang asing mengerti apa yang kita maksudkan. Tapi, bukan pakai bahasa isyarat atau bahasa tubuh loh, itu sama saja bohong dong…. Tamu kami, Mr. Bill dan Mr. Nick malah bilang bahasa Inggris kami bagus. Waduuuhhhh, rasanya sejuta dipuji begitu. Aku dan Royanti saling tersenyum, padahal masih amburadul tapi demi menyenangkan hati jadi dibilang bagus deh…. Tapi, aku tahu pujian itu tulus. Hahaha.

Mr. Nick bercerita, “I have a daughter, age just like you…” katanya. Dia bertanya bangunan di luar bus, yang mungkin tampak asing baginya, dan tentu saja juga jarang terdapat di Bali (waktu itu, entah sekarang). “It’s a mosque, Sir… for a Moslem…,” kataku sambil tersenyum.

Mr. Bill lain lagi. Beliau sibuk memfoto kami menggunakan kamera SLR-nya, dan mengirimi kami cetakannya sehari kemudian menggunakan amplop hotel ke alamat kami di Bali. Kami benar-benar merasa tersanjung.

Selanjutnya, aku sendiri juga pernah memadu wisatawan ke Taman Ayun dan Alas Kedaton di sekitaran Mengwi, kemudian aku juga pernah ke Ubud, mengunjungi sentra kerajinan Bali dari mulai patung, batik sampai perak. Wisata melihat sawah…. Sawah di Bali memang maha-indah, bertumpuk-tumpuk hijau bagai permadani, indah sekali…. Dilanjutkan lagi ke Padang Galak Beach, terakhir menonton Kecak Dance. Melelahkan tapi memuaskan. Aku juga pernah menonton Barong Dance saat memandu tour ke Tampak Siring.

Suatu waktu kami juga pernah ke Kintamani, cantik sekali tempat itu. Mungkin Bali adalah benar tempat bersemayamnya para Dewata, sehingga keindahannya seperti secuil surga. Cieh…  Rasanya tempat itu ingin aku pindahkan ke desaku. Kami juga pernah diajak keluarga Mbak Kadek ke Singaraja, jalan-jalan sekaligus mengunjungi saudara mereka. Yang aku ingat, kami disambut sangat ramah seperti tamu penting dan diperlakukan seperti keluarga mereka sendiri.

Sepertinya yang perlu berwisata itu aku bukan para tamu kami, habisnya aku belum pernah ke Bali sebelumnya. Hehehe. Tempat yang belum sempat aku datangi malah pantai terkenal di Bali, Pantai Kuta dan pura megah, Pura Besakih. Makanya aku ingin kembali kesini, suatu hari, mengunjungi yang belum sempat aku kunjungi.

Semua perjalanan di Bali, sekalipun hanya sekedar naik angkot, semuanya menyenangkan.

Dan kemanapun pergi, ke sudut manapun berjalan, selalu aku temukan ornamen yang hanya dimiliki Bali. Masjid, perpustakaan, kantor polisi, rumah sakit, bahkan mall… Manis sekali.

Wah, jadi ingin tau kabar mereka semua… Aku ingin sms,

“Kenken kabare…”

Iklan

Satu pemikiran pada “Bali

  1. komang sri maharani itu sahabatku kuliah dulu diyogyakarta, kami alumni UGM. Ada nmr hapenya ndak? dibalas ke emailku ya. thanks banget

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s