NICE BOY*

Seorang bocah, tampan, menurutku, berdiri lugu dengan tatapan penuh cerita. Matanya bulat dengan kornea hitam berkilat, berhidung dan berbibir mungil. Rambutnya hitam lebat dan terawat. Dia memandang lebih dalam, seakan-akan mengejar dan menguras rasa ingin tahuku. Aku tersenyum kecut, bertanya-tanya sendiri dalam alam benak, siapa kau? Darimana asalmu? Kenapa kau ada disini? Dan yang lebih penting lagi, siapa orang tuamu? Dan ini yang lebih mendasar lagi siapa yang melahirkanmu? Siapa ibumu? Si bocah, yang kemudian aku tahu mempunyai julukan nice boy hanya diam tak menjawab. Tersenyum pun tidak. Hanya terus-terusan menatapku seolah-olah berkata ‘jangan hanya bisa menatapku, ayo cari tahu. Jangan menjadi orang yang buta sejarah, bahkan sejarahnya sendiri, yang bisa membuat tersesat menapaki sejarah yang ada di depan. Ayo cari tahu’. Perkataan itu menohok sanubariku, melumat tulang dan membuat ‘nyeri sendi-sendi tubuh. Aku menjauhi bocah itu, meninggalkannya. Ya, akan aku cari tahu!

₤    ₤    ₤

“Sarapan sudah siap…” Mama memeluk pinggangku. Aku kemudian mengecup keningnya sebagai ungkapan terimakasih. Mama menyuruhku duduk disampingnya. Menyodorkan semangkuk sup jagung, segelas susu skim, dan setangkup roti selai kacang almond dalam piring.

“Hari ini sepertinya agak mendung ya?” Mama mengalihkan pandang ke luar jendela kayu dekatnya. Ah, Mama, begitulah kalau dia sedang menyindir kelakuanku. Aku ikut memandang ke luar. Semburat sinar surya menyapa wajahku. Aku mengedip dibuatnya. “Mendung itu pindah ke wajahmu. Ada apa?” Mama meremas tangan kananku sehingga membuatku meminum susu skim dengan tangan kiri. Sedari tadi aku belum mengucapkan sepatah kata pun. Tatapan Mama mengejarku.

“Aku ingin lihat foto Ma. Foto keluarga…kita” ucapku dengan suara tercekat di kerongkongan. Seperti biasa, Mamaku yang hebat ini tidak pernah menampakkan keterkejutan walau dia sedang terkejut sekalipun. Aku ganti meremas jemarinya.

“Pagi Honey…” Daddy datang, mengecup kedua pipi Mama dan menyapu bibir Mama lembut. “Pagi Daddy…” aku menyapanya, Daddy tersenyum, mengelus rambutku dan mengambil tempat disamping kiriku.

“Mana Vincent dan Sonya? Apakah mereka sudah bangun?” Mama menggeleng menjawab pertanyaan Daddy. Aku menyodorkan low-calory sweeter kedepan cangkir teh Daddy.  “Thank you, son…”.

₤    ₤    ₤

Umurku 18 tahun. Aku berdiri bersama saudara-saudaraku tercinta, kemudian diantara kami ada Mama dan Daddy. Disamping-samping kami ada saudara-saudara kami yang lain, keluarga dari Mama, keluarga dari Daddy, sepupu-sepupu kami, sampai kepada keponakan-keponakan kami yang lucu dan imut. Semua berderet di bawah pohon Angsana atau dengan nama latinnya Pterocarpus Indicus yang tumbuh di halaman kami. Kami adalah keluarga besar yang harmonis dan menyenangkan. Senyum terpancar dari semua sudut bibir semua anggota keluarga kami. Semua tampak segar, hangat dan akrab. Tiada keluarga seindah ini yang pernah ku temui. Yang aku tahu.

Aku meletakkan pigura itu kembali diatas lemari jati berukir rautan tulisan, yang kata Mama adalah tulisan Jawa yang belakangan aku ketahui disebut Hanacaraka. Aku menatapi setiap cerita dari foto-foto berpigura yang ada diatas lemari ini satu-persatu. Mencoba merakit semua yang kudapat agar menjadi satu rangkaian yang utuh.

Seraut wajah memeluk seorang bocah diantara taman salju. Si bocah sedang memainkan salju yang ada di dekat kakinya dengan kedua tangan dan kaki mungilnya yang bersepatu ski. Sang Mama memeluknya dari belakang seakan memberikan tambahan kehangatan dan cinta kasih dengan tetap membiarkan si bocah dengan keasyikan bermainnya. Ya, itu Mama. Mamaku tercinta. Kemudian ada Daddy. Yang membuat boneka salju dengan ranting kayu ditancap disisi kanan-kiri ; membuat representasi tangan boneka salju. Disampingnya ada dua bocah yang berdiri, berdecak kagum melihat Daddy berkarya cipta, sambil memegang bola-bola salju.

Kemudian, aku melihatnya lagi. Kutatapi lekat-lekat sekan-akan inilah awal semuanya. Inilah akhir pencarian. Mungkin. Seorang bocah berdiri dengan mata membulat menatap lensa kamera, berkornea hitam pekat berkilat, berhidung dan berbibir tipis mungil. Aku pandangi terus hingga aku seakan berhenti bernafas. Seakan aku ingin waktu terhenti pada satu masa yang ingin kuselami.

“Itu dirimu…waktu berumur 3 tahun…semua menjulukimu nice boy karena kau selalu tersenyum ketika disapa dan selalu bersikap manis pada kami. Mama tidak bohong, anakku…” Mama menghampiri aku dan ikut memandang foto itu.

“Ini tidak seperti di rumah, Mama…” aku menunjuk latar di foto usang itu. Mama tersenyum padaku. “Itu di rumah, sayang…”. Aku mengamati lebih jauh lagi. Pintu dari bambu yang sudah lapuk dan lantai dari tanah bumi yang bergelombang tapi halus. Dimana bagian rumah ini yang memiliki sisi seperti itu atau setidaknya pernah seperti itu? Aku menelan ludah.

₤    ₤    ₤

“Tinno, bolehkah aku pinjam buku The Art of Anthropology-mu?” saudariku tercinta menetuk pintu kamarku. “Masuk saja…” ucapku. Senyumnya mengembang dari balik pintu. Pipinya lantas akan bersemu merah dan membuatku gemas. Biasanya aku akan mencubitnya untuk melampiaskan kekagumanku.

“Sedang apa?” tanyanya seraya duduk di pembaringanku yang bersprei berhias gambar repih-repih daun Mapple. Aku menoleh, menunjukkan sesuatu padanya. Sonya berdiri mendekatiku. Rambutnya yang lurus sebahu tergerai ikut bergoyang tatkala ia berdecak. “Sejak kapan memulai hal ini?” katanya. Dia memegang lembar demi lembar hasil bidikan dari kamera Canon-ku.

“Hmm…yang ini buram…”  “Yang ini out of focus…”  “ Yang ini lumyan…”. Sonya mengomentari dengan seksama foto-foto itu. Dia membawa foto-foto itu dan kembali duduk di ranjang.

“Masih amatir…baru 2 minggu aku mempelajari itu…” ceritaku. Sonya menepuk jidatnya perlahan. “Aku lupa kalau kau baru saja masuk akademi seni dan belajar fotografi. Tentu saja ini awal yang bagus kalau itu memang hobby-mu. Tapi, ini sudah cukup lumayan…” Sonya mengangguk-angguk lagi. Aku mendekatinya.

“Hmm…tapi…ada yang aneh…” ujarnya seakan berbisik. Aku berdehem. Sonya membolak-balik hasil karyaku kembali. “Semua yang ada disini adalah foto keluarga, apakah aku salah?” aku tersenyum dan menggeleng. “Tidakkah kau sekali-kali ingin memotretku dengan memakai gaun sutra putih sambil berputar di kebun anggur halaman belakang?” matanya mengerjap. Aku tertawa. “Ya, kalau kau bisa memakai gaun dan tidak terjerembab saat berputar aku pasti mau memotretmu” candaku. Sonya ganti tertawa.

“Aku tahu kau menyindirku” pipi Sonya memerah tomat lagi. Tangannya menyibak anak rambut blondie-nya. “Aku akan memakai gaun dengan benar jika kau mau memotretku…” ujarnya. “Tentu saja, selama kau ada waktu. Aku akan membeli dua roll film sekaligus khusus untuk memotretmu…”. Sonya mengucapkan terimakasih dengan girang. Dia beranjak turun dari ranjang, meletakkan foto-foto di meja dan mengambil buku yang akan dipinjammya di rak bukuku kemudian melangkah keluar. Wajahnya muncul lagi dari balik sekat kamar.

“Kau sudah lama tidak menjawil pipiku, Valentinno…”. Aku beranjak turun dari tempat tidur dan menghamprinya, lalu mengecup kedua pipi ranumnya yang segar. Sonya tertawa riang. “It isn’t betterI like the way before…”. Kemudian aku mencubit kedua pipinya perlahan. Sonya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil beranjak pergi.

₤    ₤    ₤

Aku berjalan-jalan sendiri. Sekarang dengan menyandang kamera. Tapi, aku tidak ingin memotret disini, aku hanya ingin sekedar menikmati suasana. Aku sampai di pasar yang orang sebut dengan pasar Hindia. Gelitik suara gamelan mengundangku untuk menghamprinya. Ritme aneh dan unik memasuki gendang telingaku saat sang penjual memainkannya untuk para pengunjung, seperti aku. Aku seakan terhipnotis oleh alunan yang baru kudengar namun terasa sudah tidak asing bagi indraku. Aku bagi larut ke dunia entah semu atau ‘nyata dan mengungkungku disana. Aku nikmati semuanya dengan perasaan mengharu-biru. Seakan-akan kakiku tidak ingin beranjak dari situ, walau telah kulangkahkan kaki tapi bunyi gamelan Jawa itu terus membuntutiku.

What the name of this fruit? The smell isn’t goodit’s weird…” aku menyentuh buah langka. Berduri-duri dan baunya sangat menusuk. Bagaimana cara memakannya? Aku bertanya-tanya. “Ini namanya durian, banyak ditemukan di pulau-pulau di Asia, buahnya legit tapi sangat berbau…”. Aku mendekatkan hidungku yang sedikit ‘nyeri karena tidak sengaja tertusuk, untuk lebih memahami harum buah aneh ini.

“Bukankah anda berasal bukan dari sini? Kalau boleh tahu darimana anda berasal? Tidakkah anda berasal dari salah satu pulau di benua Asia?” tanya penjual yang tidak kuketahui asal muasal bangsanya itu. Aku terpaku cukup lama.

“Wajah anda berkarakterkan wajah orang Asia Timur. Saya sendiri berasal dari salah satu kota di Indonesia…Lamongan, Jawa Timur. Dulu saya ikut tuan saya yang baik yang pulang kesini…. Saya bekerja pada tuan saya itu sampai beberapa tahun. Sebelum tuan saya meninggal, tuan saya mewariskan rumah kecil dan menyuruh saya melestarikan apa yang dicintainya dari Indonesia. Tuan saya begitu mengagumi Indonesia. Walau tuan saya tidak doyan buah ini tapi dia ingin saya melestarikannya disini dengan menanam bibitnya di belakang rumah kecil saya. Kebanyakan yang membeli memang keturunan Indonesia yang tinggal disini…”.

Cerita itu membuat nuraniku buncah dalam keingintahuan. Aku terus berjalan menyusuri pasar dan mencari hal-hal lain yang mungkin akan kudapat lagi.

Aku mencicipi buah berkulit hijau berdaging kuning kemerahan, rasanya manis sedikit asam tapi menyegarkan. Aku menatap si ibu penjual.

“Mangga Manalagi…dari Indonesia…. Pasti anda sudah pernah mencoba?” aku tersenyum.

₤    ₤    ₤

Bagiku, sebuah foto adalah realitas yang dibekukan, bagaikan dunia mati yang abadi, yang pernah ada dan hadir, immortal death. Yang ternyata menyimpan hal lain yang justru bisa memproduksi nilai baru bagi kehidupan setelahnya, baik masa lalu, sekarang atau masa depan. Dalam kebekuan sebuah foto, niscaya banyak yang bisa diungkap. Bagaikan kita yang memasuki labirin dengan banyak pintu didalamnya. Kadang kita mungkin akan tersesat memasuki ruang-ruang di baliknya. Tapi, kita juga bisa menemukan sesuatu yang akrab, memberi kenangan yang memberi kita motivasi untuk bernostalgia, apakah itu pada hal yang indah atau menyakitkan. Bagiku sebuah foto adalah juga sejarah. Sejarah yang sengaja diciptakan dan dibuat agar sejarah itu tidak lenyap, tidak hilang, tetap terjaga. Membuat orang yang memahaminya saat melihat bisa belajar dari sejarah. Masa depan belajar lewat sejarah. Lebih jauh lagi tidak tersesat dalam sejarah. Seperti diriku.

“Apakah kau mempersalahkan perbedaan, anakku?” Mama menyentuh pundakku perlahan. Di hadapannya ada setumpuk album foto besar-besar yang selama ini terpajang di lemari pribadi kamarnya dan selalu terkunci rapat. Kadang, aku hanya dapat memandangnya dari luar kamar dengan penuh rasa ingin tahu. Tapi, aku sangat menaruh hormat pada Mamaku yang baik ini, dengan tidak mencuri kesempatan untuk membongkar lemari itu tanpa seijinnya. Aku hanya mengidentifikasi, mungkin belum saatnya. “Tidak Mamaku…aku selalu menghargai perbedaan…. Karena sebenarnya perbedaaan itu indah…” jawabku atas pertanyaan Mama tadi. Mama tersenyum.

“Itu pendapat yang sangat baik anakku. Mama bersyukur karena tidak salah untuk memiliki dan mendidikmu…. Kemarilah anakku…. Kau sudah sabar selama 18 tahun sejak saat itu…. Mama hanya ingin mengurai sejarah agar kau tenang dan tidak salah paham…” Mama membimbingku untuk duduk disampingnya. Tangannya mulai berkeriput. Jemarinya dihiasi hanya satu cincin dari Daddy yang tidak pernah dilepasnya. Tangan itu bergerak membuka album foto pertama dari 11 buah yang ada. Album foto berwarna hijau tua itu pun terbuka. Gambar pun mulai bercerita tentang sejarah.

“Ini…ibumu. Maksud Mama perempuan tegar berhati mulia yang melahirkanmu, anakku. Foto ini diambil sewaktu ibumu berumur sekitar 16 tahun. Cantik bukan? Makanya dia juga dapat memberimu wajah yang tampan. Namanya Djumini, anakku…. Tinggal di sebuah desa bernama Argopuro di Blitar, Jawa Timur…. Indonesia…”

Aku ingat kota itu, kota asal penjual buah aneh. Tapi, bukan Blitar, entahlah apa namanya, aku sudah lupa. Aku menatap foto gadis itu…. Ibuku. Lekat matanya seperti mataku, hitam matanya seperti mataku, senyumnya pun seakan milikku. Hitam lebat dan ikal rambutnya tersemai indah kini kuwarisi dan ada di kepalaku. Tuhan…aku seakan melihat diriku pada wajahnya, matanya, senyumnya, rambutnya, semuanya…. Ibuku berkebaya dan berkain Jawa.

“Hanya foto itu yang kami punya ketika ibumu masih gadis, anakku, itupun satu-satunya yang ia punya. Semoga kau tidak kecewa”. Mama ingin membalik halaman album foto tapi aku menahannya sejenak. Kupandangi gadis itu. Ibuku…gadis yang bernama Djumini. Aku terpaku pada saat itu. Ciri-ciri perempuan yang layak kusebut sebagai Ibu, karena naluriku yang berkata demikian. Debar-debar halus yang menyelimuti jantungku seakan menguatkan pencarianku.

“Itu foto ketika kau berumur 3 bulan. Digendong ibumu. Kau harus mengerti berbagai alasan yang ada, Valentinno Findley. Alasan di dunia ini banyak sekali walau untuk satu macam hal saja. Kau harus paham…” aku menatap foto itu. Si kecil dalam pelukan hangat bundaku. Aku, memakai baju berwarna putih dengan topi mungil di kepalaku. Ibuku memakai daster panjang berenda. Aku ditatapnya hangat dalam dekapan, sedang aku menatapnya dengan wajah melongo karena bibir mungilku terbuka.

Aku mulai menikmati segala pencarian ini. Walau kuakui ini terasa agak menyakitkan. Dimanakah kau Ibunda…Ibundaku sayang. Aku membalik halaman foto. Foto itu lagi…

“Inilah fotomu saat berumur 3 tahun. Foto ini diambil dirumah ibumu sebelum kau kami adopsi, di halaman depan rumah ibumu. Itu memnag dirumah, anakku. Rumahmu. Mama dulu dilahirkan di Surabaya, sayang. Begitu pula Daddy. Waktu itu saat-saat terakhir masa kependudukan Jepang. Masa kecil kami di Indonesia berjalan seperti mimpi. Kami menjaga kenangan-kenangan saat Tempo Doeloe untuk melindungi diri kami dari segala kesakitan yang menimpa kami saat menjadi tawanan perang. Kenangan-kenangan itu yang memberi kami alasan untuk tidak memikirkan kawat-kawat berduri penjara Jepang. Mama dan Daddy menikah dan memperoleh Vincent sebagai hadiah, anakku. Mama dan Daddy memang berkebangsaan England, sayang. Tapi, Mama dan Daddy merasa situasi dan kondisi yang ada membuat kami harus menentukan langkah hidup kami selanjutnya. Ketika Vincent berumur 5 tahun, Mama dan Daddy pindah ke desamu untuk menghindari konflik saat itu, setelah pula kepergian orang tua Mama. Saat itulah Mama berkenalan dengan ibumu. Seorang ibu muda yang cantik dan berjiwa tegar. Kami tidak akan pernah menyalahknnya atas semua keadaan dirinya…. Ibumu seorang yang baik anakku…”

“Siapa ayahku, Mama…?” aku bertanya. Mama tersenyum. “Nanti juga kau akan tahu…”. Jawaban itu tidak akan aku bantah. Semua ini bahkan sudah terlalu banyak dari yang ingin ku ketahui selama ini.

“Kami memang mengadopsimu, sayang. Saat kau berumur 3 tahun. Kami akhirnya menetap di Suriname, di negara kita sekarang ini. Keluarga kita meminta kami untuk berkumpul disini. Selain itu, keadaan juga tidak memungkinkan kami untuk terus tinggal di Indonesia. Kami memlih Suriname karena banyak hal tentang Indonesia yang ada disini. Semua aspeknya akan mengingatkan semua yang ada di Indonesia…. Bukan kami tidak mencintai negeri kami, tanah air kami Inggris Raya…. Setidaknya menurut Mama, Indonesia adalah tanah air Mama dan Daddy dimana kami dilahirkan dan dibesarkan. Tapi, kami memilih tidak tinggal di kedua tanah air kami karena berbagai alasan yang terkadang pun tidak cukup menjelaskan kenapa. Suriname, adalah pilihan kami…pada akhirnya…” Mama menatapku.

“Ya, Mama. Aku ingat sebuah kenangan…. Aku naik burung besi raksasa yang melintasi samudra sunyi. Kini aku memahami, kenapa Mama selalu memberi coklat setiap kali aku menangis, satu usaha untuk menjaga aku agar tetap nice dan manis dalam melupakan tempat asalnya. Dengan masa depan baru dihadapanku Mamaku sayang…. Bentukan-bentukan peta baru digambarkan begitu pesawat menyentuh tanah…. Aku tidak akan pernah bertanya alasan kenapa ini aku alami Mama…atau aku menyalahkan ibunda atau Mama dan Daddy…semua bisa kuterima…” aku mengatakan itu dengan perasaan setenang mungkin.

“Kami hanya punya 3 foto itu ketika kau masih berada di Indonesia. Selebihnya adalah foto-fotomu bersama kami disini…” ucap Mama. Itu sudah cukup bagiku, Mama. Aku membolak-balik halaman album foto dengan perasaan yang benar-benar tenang. Aku sudah tahu siapa Ibundaku. Yang melahirkanku. Meski hanya lewat selembar foto usang. Entah akan bagaimana sekiranya pencarian ini akan berlanjut.

₤    ₤    ₤

Kembali aku memandangi foto nice boy diatas lemari berukir tulisan Jawa. Inilah aku, pikirku. Beralih pada foto-foto keluarga besarku disini. Aku, dibesarkan bersama-sama dengan dua saudaraku dalam tatanan budaya masyarakat barat. Dalam hatiku seperti selalu ada pencarian. Ketika aku beranjak dewasa, aku semakin menyadari akan fisik diriku dari saudara-saudaraku yang berkulit putih. Aku tidak merasa teralienasi karena semua sangat baik padaku, yang tidak pernah memberikan warna perbedaan kasih sayang padaku. Tapi, aku…aku selalu bercermin setiap kali sebuah foto bersama kelurga selesai dibuat. Perayaan reuni keluarga, pernikahan, ulang tahun pernikahan, malam Natal, selalu diabadikan lewat kamera foto. Pantulan cermin seolah-olah selalu memberikan kesaksian dan berkata padaku “no time to play hide and seek while all members of the family urged me to took place near in front of the camera beetween my younger nephew and nieces. besides of all I was the smallest”. Menatap kembali foto-foto itu, segi-segi visual yang bercerita banyak tentang sejarah dari menjadi seorang anak angkat, serta ketiadaan cermin genetis tempatku dapat mengenali diri sendiri, menjadi sangat jelas. Ketiadaan hubungan darah mempertajam pikiran ketika aku mulai menciptakan sendiri potret-potret kelurga dari bidikanku. Foto-foto dari maa kecil, aku dan ibu Inggrisku bersama-sama main di salju, bermain dengan saudara lelaki dan perempuanku yang putih dan jangkung, menjadi saksi perasaan yang kadang berkata, ini bukan tempatku. Kendati aku dihujani kasih sayang berlimpah dari keluargaku disini, nuraniku senantiasa terusik untuk mencari ibu kandungku.

Ketertarikanku pada fotografi mungkin boleh kukatakan sebagai takdir sejak awal. Seakan-akan aku dilahirkan kembali lewat sehelai foto bocah berumur 3 tahun. Sebelumnya aku bagai insan tanpa sejarah. Pengalamanku melihat foto masa kecil hingga dewasa bersama keluargaku disini membuatku dapat mendefinisikan perbedaanku. Berkulit gelap, bermata bulat hitam, rambut hitam ikal dan keriting, tubuh kecil dan pendek. Pendek diantara anggota keluarga laki-lakiku disini. Mungkin tidak akan mencolok jika aku berdiri diantara orang-orang Indonesia. Mungkin…

Sebuah foto adalah keajaiban bagiku. Lewat foto pula, akhirnya aku dan ibu kandungku dipertemukan. Entah sampai kapan pencarian ini tapi kuyakini nurani masih akan tetap ingin mencari. Probably, everything can begin and end in pictures…. Portraits of Nice Boy.

₤    ₤    ₤

Epilog :

            “Namaku Djumini. Aku adalah seorang perempuan desa yang bodoh, lugu dan tidak tahu apa-apa. Aku tidak sekolah dan juga tidak bekerja. Yang aku tahu hanya mengurus rumah, memasak dan mencuci pakaian. Bapak dan ibuku adalah petani penggarap di sebuah perkebunan milik Jepang. Aku tidak tahu yang terjadi malam itu. Yang pasti seorang serdadu Jepang datang ke gubuk kami menagih pajak dari bapak. Sedikit ribut malam itu tapi serdadu itu pergi. Malam berikutnya bapak menyuruhku mengemasi baju karena aku dijanjikan serdadu Jepang itu pekerjaan. Keluargaku sangat miskin dan aku tidak berani melawan kehendak bapak. Aku malah senang bisa membantu keluargaku. Segera malam itu aku dibawa serdadu Jepang itu. Umurku 16 tahun saat itu dan aku akhirnya tahu aku dibohongi…. Aku merasa semua badanku remuk dan sakit karena serdadu Jepang itu. Lantas aku ditinggalkannya. Malam itu aku sadari hidup gadis bodoh ini hancur berantakan. Sejak saat itu aku tidak kembali ke rumah. Aku hidup terlunta-lunta di Surabaya. Menjadi seorang yang selama ini tidak pernah terbayangkan olehku atau siapapun…. Setiap pagi menjelang aku minum segala jamu peluntur, perusak rahim. Tapi, karena rahim adalah buatan Tuhan maka mungkin hanya Dia-lah yang berhak merusaknya. Dua tahun kemudian, di umurku yang ke-18, rahimku membesar. Entah kenapa aku tidak ingin merusaknya kali ini. Padahal aku sendiri tidak tahu benih siapa yang bersemayam dan kini tumbuh. Entah Jepang, China, Arab, Filipina, Belanda, Inggris, atau orang Indonesia sendiri…. Aku sendiri sudah tidak ingat siapa tamu terakhirku…

            Aku pulang ke rumah, mendapati bapak dan ibuku sudah lama tiada. Kata orang-orang terlalu stres memikirkan aku yang hilang. Aku melahirkan sendiri. Sakit yang ada benar-benar sudah tidak lagi terasa. Nama anakku Tino Djumini. Dia lahir tanpa cacat dan bagai pelagi muncul bersama mendung dan gerimis. Aku membesarkannya dengan uang yang ku punya selama ini. Aku membuka warung kecil di depan rumahku tapi tidak lama karena modalku habis di tengah jalan. Setelah itu aku banyak berhutang pada tetangga dan warung. Kemudian aku menjadi tukang cuci. Tino-ku berumur 3 tahun waktu itu. Saat-saat paling menyakitkan dalam hidupku. Lebih menyakitkan dari semua yang kualami sekian lama. Aku ingin Tino-ku menjadi orang yang berhasil, untuk itu aku seolah-olah tega menyerahkannya pada seorang Madam Aubrey dan Mr. Abraham Findley untuk dirawat, dibesarkan dan dididik oleh mereka. Mereka orang-orang baik. Mereka menyayangi aku, mendengarkan semua cerita hidupku dan memahami secara bijak. Bukan mereka yang meminta Tino-ku tapi memang aku yang berkehendak demikian. Mereka orang-orang yang aku percayai untuk melanjutkan perjuangann Tino-ku. Madam Aubrey dan Mr. Abraham melunasi semua hutang-hutangku sebelum keberangkatan mereka ke luar negeri. Mereka tidak bisa terus ada di Indonesia. Dan, aku…bertahan tanpa tangis melepas kepergian Tino-ku. Ku kabarkan kepada dunia, tidak seorang pun ibu di dunia yang bisa melawan hati nuraninya dan tidak bersedih ketika sebagian dari tubuhnya tercerabut dari jasad. Tino adalah sebagian dari jasadku…. Tino-ku, bukan ibu tidak menyayangimu nak…. Banyak alasan di dunia ini untuk hanya satu persoalan sekalipun. Kelak di kemudian hari kau akan paham, nak. Ibumu ini, akan tetap menyayangimu.

            18 tahun. Tino-ku berumur bilangan itu tahun ini. Aku teringat pada sebuah janji Madam dan Mr. saat akan pergi. Akan datang menemuiku, di tanah air kami tercinta ini pada saat Tino-ku berumur 18 tahun. Aku menunggu saat-saat itu dengan hati tak menentu dan tidak dapat tidur ‘nyenyak setiap malam. Lihatlah nak, ibumu sudah menjadi petani kecil yang baik. Ibu tidak seperti dulu lagi dan tidak pernah akan lagi. Datanglah nak, ibu kan menyambutmu dengan suka cita. Datanglah nak, buatlah tidur ibumu ini menjadi lelap…dan tenang untuk selamanya…”

The End

Jogja, 14 Maret 2007

*berdasarkan kisah nyata

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s