Jatuh Cinta sama Jepang

Dulu sekali, terdengar seperti ratusan abad yang lalu, hahaha, sewaktu aku masih memakai baju putih abu-abu, aku belajar Bahasa Jepang di sekolah dengan semangat, selain karena senang mendapat kesenangan baru juga karena gurunya cakep mirip Amir Khan, aku masih ingat namanya, Syarif Sulton. Belajar terbata mengucap kata yang asing ditelinga, seperti balita belajar bicara,

Ohayo-gozaimasu…

Kon-ni-chi-wa…

Kon-ban-wa…

Oya-sumi-nasai…

Ogen-ki desu-ka?

Oka-ge samade…

Ari-gato gozaimasu…

Dozo yori-shiku…

Sumi-masen…

Dai-jobu desu…

Ja Mata…

Sayo-nara…

Dan, belajar Bahasa Jepang dengan guruku satu ini sungguh menyenangkan. Kami biasa diajak keluar ruangan kelas untuk melihat pekarangan sekolah sambil menamai benda-benda di sekeliling kami. Atau kami belajar berhitung di Lab. Bahasa. Ini sambil berurai airmata karena lucu sekali pada waktu itu, mendengar rekaman dari kaset yang diputar, dan mendengar suara yang asing.

Ichi

Ni

San

Shi

Go

Roku

Atau kami mendengar lagu dengan Bahasa Jepang di Lab. Bahasa,

“Ichiban cika ku ni ii temo… (bla-bla, lupa… hahaha, kami mengikuti lirik yang menggaung dari masing-masing headset kami.

Semakin tertarik dengan Jepang karena ternyata bahasanya mudah dipelajari. Dan, mereka adalah salah satu negara yang sangat menghargai bahasa mereka. Seperti jika ada saduran kata dari bahasa Inggris, mereka tidak memakainya langsung, melainkan di ubah menjadi ejaan dan vokal yang sesuai dengan lidah orang Jepang. Dan khusus untuk kata saduran bahasa asing tersebut mereka menggunakan Huruf Katakana bukan Hiragana yang digunakan untuk penulisan asli bahasa Jepang. Misal Furansu untuk Perancis, Osutoraria untuk Australia, Airon untuk Iron, Miruku untuk Milk, Kohii untuk Coffee atau Takushii untuk Taxi. Keren sekali. 🙂

Kemudian, tentang semangat hidup mereka yang tinggi, disiplinnya luar biasa.

Rasanya sudah lama sekali aku tidak menggunakan satu-dua patah kataku dalam bahasa Jepang. Sewaktu aku bekerja di sebuah perusahaan money-changer berlokasi di Jakarta Pusat, bergerak di bidang penukaran mata uang asing, bertempat di sebuah gedung yang berseberangan dengan hotel tempat menginap orang-orang Jepang, aku sempat mengaplikasikan bahasa Jepangku yang sangat minim kosakata itu. Dan yang sangat ‘laku’ di tempat penukaran mata uang asing itu adalah mata uang Yen karena tamu-tamu yang datang kebanyakan juga adalah orang Jepang. Jadilah aku seperti orang kejatuhan harta karun-kata lain dari sangat senang-kemudian aku bisa berkata tidak ada ilmu yang sia-sia, walaupun itu hanya sedikit. Aku sedikit-sedikit bisa menyapa pelanggan dalam bahasa Jepang.

Ohayo Gozaimasu…

Konnichiwa…

Konbanwa…

Kaeru okane?

Futto arimaska?

Sumimasen…

Domo Arigato…

Hajime mashite, watashi wa…

Dan kata-kata lain yang dulu hanya tersimpan di kepala, semudah itu bisa aku aplikasikan sehari-hari, untuk pelanggan-pelanggan yang datang. Dan, orang Jepang sangat sopan sekali. Terkenal dengan salam bowing-nya (membungkukkan badan). Sebelum kita berhenti membalas salam mereka, mereka akan terus membalas salam dengan bowing itu. Hahaha. Itu menunjukkan kesopanan dan rasa hormat mereka pada orang lain.

Ini mungkin akan terdengar mellow…

Kemarin aku dan sahabatku menonton One Litre of Tears, benar-benar satu liter airmata yang bisa ditampung di water-torent tempat kerjaku, saking sedihnya film drama berdasarkan kisah nyata itu. Dulu aku sudah pernah menonton film tersebut, menonton lagi jadi menggugah memori. Hehehe.

Kalau melihat film drama Jepang, yang aku temukan mereka selalu total dalam membuat satu detik saja sebuah adegan. Tidak banyak kata tapi dengan visualisasi, mereka bisa menyampaikan makna lebih dari kata-kata atau visualisasi itu sendiri. Ini terlepas dari aku yang suka film drama-romantis. Hehehe.

Kemudian, aku mendengar lagi lagu yang dulu begitu akrab di telinga, salah satunya dari Remioromen, yang juga merupakan OST dari One Litre of Tears. Konayuki dan Your Song. Senang sekali mendengar lagu itu. Wah, jadi jatuh cinta lagi sama Jepang.

Watashi wa Nihon ga suki.

…僕は君の秀ベットナド尻手府稲井てるだろう

よそれでも一奥忍唐君をみつケタ…

Cerita ini diikutsertakan dalam kontes Bahasa Cinta di Atap Biru
http://arundati.com/2011/07/bahasa-cinta/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s