Perahu Kertas #1

Akhirnyaaaaa, setelah meluangkan waktu di sela-sela sibuknya bekerja dan agenda menulis yang begitu padatnya–sombong–aku dan sahabatku bisa juga menyaksikan Perahu Kertas di Bioskop 21, Yogyakarta (nomat di hari Senin). Setelah sebelumnya membeli tiket seharga 25 ribu kemudian jalan-jalan di mall demi membeli sebuah kado untuk sahabatku yang 2 hari lagi berulang tahun, dan kemudian berkeliling melihat pernak-pernik bagus, aku dan Cinta, sahabatku kembali ke dalam bioskop. Sebelumnya ke toilet dulu supaya perjalanan nonton lancar dan tenang.

Here we go… Perahu Kerta berwarna merah mulai melaju di sungai kecil… dan sejujurnya… saya kecewa dengan hasil film ini. Hiks, hiks, sedih tak terkata rasanya.

Yang pertama sekali tersadar waktu Cinta bilang, “Mobilnya Eko bukannya warna kuning ya?” eh iya ya, kok jadi merah. Duh! Gak oke nih. Trus, Kugy yang lebay dengan tangan di kepala–radar neptunus–di stasiun KA pas ketemu sama Keenan. Enggak gitu juga kaleee, ceritanya kan Kugy memang langsung ketemu Keenan karena Keenan merasa ada yang memanggil namanya, tapi abis itu Kugy jalan dulu ke Ruang Informasi, enggak tau-tau nabrak Keenan. Selanjutnya Keenan-nya kurang bule, secara kan ceritanya Keenan itu baru pulang dari tempat neneknya yang berketurunan Belanda juga enggak diceritain.

Terlalu banyak berharap memang jatuhnya bakalan sakit banget kalo gak sesuai sama harapan kita. Ini kata temanku dulu.Benar sekali.

Selanjutnya adalah sewaktu Noni, sahabat Kugy yang pada akhirnya mengetahui rahasia paling besar dari seorang Kugy, sangat-sangat kurang ekspresif. Saya hanya bisa melongo, kok cuma begitu doang reaksi Noni? How comeeeee, hellloooo, KUGY, Kugy menyukai Keenan selama bertahun-tahun dan Noni tidak pernah tahu dan ketika tahu kok seperti Noni hanya menganggukkan kepala dan berkata ‘ooh’ saat tahu bumi ini ternyata bulat. Menyedihkan.

Yang aku sangat suka tokohnya di film ini adalah tokoh Eko yang sangat menghidupkan cerita. Entah bagaimana jadinya film itu kalau tanpa kehadiran Eko. Pasti garing banget. Dan, tokoh Luhde yang sangat ayu, suka sekali melihat wajahnya yang sangat Bali –enggak tahu Bali beneran apa bukan.

Hmm, untuk peran Kugy sudah lumayan lah, tapi sepertinya tetap kurang cuek dan kurang tomboy. Beberapa kali sangat risih waktu lihat Kugy pakai baju dengan tank-top dan dadanya hampir terlihat. Seharusnya tidak perlu pakai tank-top! Bukan Kugy banget deh. Untuk peran Keenan, aaaah kurang memiliki sense-of-arts. Memang ada yang salah dengan film ini. Tidak tahu apakah karena aku yang sudah khatam membaca Novel Perahu Kertas sampai 2 kali dan hapal setiap adegan pentingnya atau karena memang filmnya yang buruk? Yang jelas saya kecewa sekali.

Saat Kereta Api mogok juga, itu ada kisah gerhana bulannya. Kok enggak ada di film ya? Padahal itu kan termasuk momen romantis Kugy dan Keenan.

Terlalu banyak kekecewaan nih jadinya. Mana pakai acara bersambung lagi nih film. Huuuh 😦

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s