Dapurku Kinclong Kembali!

Hari Minggu sering aku lewatkan dengan bangun siang, atau bermalas-malasan dan berdiam di mes. Yogyakarta semakin panas dan untuk berjalan-jalan keluar kalau benar-benar tidak perlu membuatku jadi tambah malas. Sejak awal kembali ke mes setelah lebaran kemarin aku melirik dapur kost yang sudah tidak sedap dipandang saking kotor dan berdebu, bau kotoran tikus dan tentu saja kotoran tikus yang berserakan dimana-mana yang membuatku mual. Maklum saja, mes dari kantorku ini bersebelahan dengan warnet yang cukup jorok juga dan juga bersebelahan dengan warung makan yang menjual susu sapi murni dan aneka macam nasi seperti di angkringan, sehingga membuat populasi tikus di area ini menjadi tidak terkendali. Posisi mes yang digunakan sebagai laundry sungguh tidak menyenangkan karena terjepit di tengah-tengah.

Aku melihat dapur dan bergumam di hari Jum’at, 2 hari sebelum masuk kerja, “Besok Minggu aku sikat semuanya,” ternyata Minggunya aku malah bermalas-malasan seharian di kamar. Akhirnya sudah lewat seminggu dan aku sibuk bekerja. Minggu berikutnya aku harus pulang ke Klaten karena Ibuku akan pulang ke Lampung. Akhirnya tertunda lagi dan selanjutnya setiap melihat dapur aku hanya bisa berkata dalam hati, “Kapan-kapan aku bersihkan.” Dan, rencana itu terlupakan begitu saja saking malasnya aku mengurusi dapur ini. Awal aku pindah kesini kurang lebih 7 bulan lalu, setelah repot membersihkan calon kamarku seharian dan membuang sampah kurang lebih dua karung, sisa dari penghuni sebelumnya, aku berjuang menciptakan dapur yang bersih dari segala noda. Mulanya dapur hanya berupa debu dan kotoran, segala macam peralatan masak yang tidak terjamin hygen dan sanitasinya, kotor semuanya. Aku sampai heran, mes ini berpenghuni, dan salah satu penghuninya suka memasak, kok bisa tahan ya memasak di dapur yang seperti ini? Andai aku punya bukti fotonya, supaya kalian bisa melihat bagaimana kotornya dapur mes pada awalnya. Aku menurunkan semua perabotan, dari mulai panci, penggorengan, baskom, piring, mangkok, gelas, sendok dan segala macam yang bisa aku cuci, aku mencuci dan menyikatnya sampai bersih. Aku membersihkan kompor yang sudah menghitam—karena warnanya juga hitam, hihihi. Aku juga membersihkan dinding dapur yang penuh dengan noda minyak yang sudah mengeras, membersihkan dispenser dan semua yang bisa aku bersihkan. Terakhir aku mengepel lantai dapur. Aku mengerjakan itu dari pagi jam setengah 9 sampai jam 11 kurang. Rasanya aku sangat puas hari itu, semuanya aku kerjakan sendiri. Luar biasa!

7 bulan berlalu dan aku mengulangi sejarah itu hari ini. Pagi setengah 9, aku membeli bubur ayam di depan mes lalu masuk dapur untuk mengambil mangkok dan melirik dapur yang membuatku menghela nafas itu sambil sarapan bubur dengan tidak nikmat dan perasaan tidak tenang. Setelah minum segelas vanilla-tea hangat dan tanpa menghabiskan buburku, aku langsung bertindak menurunkan semua perabotan yang ada di dapur. Aku mengulangi lagi seperti yang dulu aku lakukan. Mencuci peralatan dapur, piring, mangkok, gelas, sendok dan lainnya. Tapi, kali ini lebih cepat karena dapur tidak terlalu kotor seperti dulu, hanya saja, kotoran tikus bertebaran dimana-mana. Menyebalkan sekali. Temanku satu mes yang ke dapur hendak mengambil air minum mulai menggumam, aku langsung berkata, “Gak usah protes, gak ada yang mau bersihin,” “Ya, gak ada,” ujarnya minta dijitak, “Pada males sih,” aku menggerutu, temanku diam saja. Sedang asik-asik mencuci peralatan, tiba-tiba ada satu tikus yang meluncur turun dari rak tempat baskom yang belum aku bersihkan. Aku berteriak histeris dan berkali-kali menyebut nama Tuhan. Aku selalu mengidentikkan tikus itu sebagai sejenis setan yang perlu dibasmi. Benci sekali aku pada tikus. Sudah asik lagi dengan pekerjaanku menyikat rak yang kotor sambil bersenandung tidak jelas, melompat lagi satu tikus. Ya Tuhanku! Aku benar-benar kaget. Akhirnya aku membuka rak paling atas dan menurunkan semua barang disana. Siapa tahu masih ada tikus yang tersisa atau rak paling atas menjadi sarang tikus selama ini. Ternyata cuma dua itu yang mungkin tadi sedang bercinta di rak tersebut. Huuuh, terkutuklah kau tikus! Membuatku sebal.

Terakhir, aku mengepel lantai dapur dan akhirnya… melihat dapur mes dengan perasaan lega. Dapurku kinclong kembali! Perjuangan dari jam setengah 9 sampai setengah 11 terbayar sudah dengan bersihnya dapurku kini. Setelah itu, aku pun mandi dengan hati sangat riang. Hari Minggu yang cukup menyenangkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s