Nindya di Asagaya

Seperti pelajar kelas satu SMU kebanyakan, Nindya adalah pelajar yang pergi ke sekolah pagi-pagi, kalau sedang kumat malasnya, bangun siang dan terlambat ke sekolah. Seperti pelajar pada umumnya, Nindya juga aktif pada beberapa kegiatan, seperti ekstrakurikuler Pramuka. Yang sedikit membedakan Nindya dengan pelajar lain di sekolahnya adalah, dia memiliki hobi menari, dan sudah aktif di sanggar Bunga Lembah selama kurang lebih tiga tahun, sejak dia masih berkuncir dua saat SMP. Berlatih tarian tradisional mulai dari tarian Jawa, Bali, Kalimantan sampai Papua. Setiap hari Kamis dan Minggu setiap pukul 3 sore sampai 6 sore. Nindya pendiam tapi ramah dan murah senyum, terkadang terkesan lugu dan berwajah selalu sendu. Wajahnya adalah perpaduan wajah Jawa dan sedikit wajah Sumatera, tidak cantik tapi memiliki kekhasan tersendiri, yang membuat orang betah memandang wajahnya. Teman-temannya terbatas pada teman-teman sekelas, yang hanya beberapa orang saja yang akrab, juga teman-teman di organisasi Pramuka, dan juga teman-teman di sanggar. Secara keseluruhan, Nindya adalah perempuan menyenangkan, seperti perempuan remaja yang beranjak dewasa pada umumnya dengan pemikiran yang terkadang suka ekstrem dan mengejutkan.

“Siap tidak kalian, kalau bulan 5 dikirim ke Jepang?” di tengah-tengah musik pengiring Tari Serimpi, sang pelatih, Cik Seruni berkata kepada seluruh anggota sanggar tarinya. Nindya yang baru datang, sedikit terlambat karena dia tadi ketiduran setelah kekenyangan makan semangkuk mie ayam, langsung menganga.

“Haiiiii’…. Konnichiwa… Watashi waaaa…,” sambut Indah yang periang itu. Nindya mengulum senyum. Deg-degan dengan kabar yang dibawa oleh sang pelatih itu.

“Nari apa kita?”

“Waw, bisa lihat bunga sakura…”

“Ketemu Nishikido Ryo sama Yamashita Tomohisa,” ini celetuk Sarah yang cinta film drama Jepang.

“Hmm… dimana, asik, asik…” dan koor serempak bermunculan dari pendopo tari dengan pilar yang tinggi dan area lebar berdinding kaca itu. Suara mereka menggaung ke sudut-sudut ruangan, bersahutan dengan musik pengiring tarian yang akan mereka bawakan sore ini, sebagai gladi resik latihan selama satu bulan.

“Ini bulan berapa ya? Bulan 2, bagaimana teman-teman, siap yah?” ulang Cik Seruni.

“Kita bawain tari apa Cik?” tanya Nindya.

“Hmmm, Seudati, Merak, Serimpi, Serimpi Sangupati, Legong, pilih 3 dari itu…” info Cik Seruni tersenyum bahagia karena sambutan meriah anak-anak sanggarnya yang tiba-tiba bermata lebih berbinar dari biasanya.

“Kok bisa sih kita dapat order menari di Jepang? Rasanya tidak percaya…” Aning mengerjapkan mata sambil geleng-geleng kepala.

“Koneksi, koneksi dong… Koneksi internet maksudnya… Video rekaman tari Seudati sama Legong yang iseng diambil Pak Harjo kemarin, dimasukkan ke You Tube, terus ada yang lihat dan ada komentar deh. Baru seminggu yang lalu dipasang kan? Sudah ada 500 orang yang lihat. Kebetulan ada orang Jepang yang tertarik buat mengundang kita mentas, keren yaaaaa,” Cik Seruni senyum-senyum, tidak dapat menyembunyikan rasa bahagia dan terharunya, karena usaha dan perjuangan dia dengan suaminya selama 7 tahun untuk mempertahankan kecintaan keluarganya pada seni, kini semakin menunjukkan tangga pencapaian. Kalau selama ini mereka harus puas dengan mementaskan tari di hotel-hotel mewah di Indonesia, memang sudah saatnya melenggang ke panggung hiburan yang lebih dari itu.

“Siaaap, siapin mental, waaahhh pasti seru niiih….” Indah berdecak-decak kagum. Nindya juga tersenyum sumringah.

“Kita mentas dimana? Dalam rangka apa?”

“Asagaya. Pentas Seni Geiko,”

 

-芸者-

Hasil latihan keras tapi penuh semangat selama kurang lebih 4 bulan, dengan jadwal yang diperketat menjadi 3 kali seminggu, dan jam latihan yang lebih panjang terbayar dengan perjalanan yang penuh kebahagiaan menuju Jepang. Nindya, sebagai salah satu penari terbaik di sanggar Bunga lembah, yang duduk di samping Cik Seruni tersenyum dalam suasana jantungnya yang berdetak semakin kencang saat pramugrari menyampaikan bahwa mereka sebentar lagi akan sampai di terminal dua bandara Narita.

Seperti setiap sebelum pementasan mulai, sanggar Bunga Lembah akan berdoa secara khusus, selama 10 menit. Tidak lupa bahwa semua yang telah diraih selama ini adalah salah satu anugerah dari Yang Maha Kuasa. Dengan berbekal tekad dan semangat kebangsaaan, Indah, Sarah dan Lani mengetengahkan lenggak-lenggok Legong dengan sempurna, dengan kipas merah bertaburkan emas, lirikan mata yang lincah tapi anggun, dengan balutan kemben hijau dan selendang merah, dengan bunga kamboja imitasi yang tampak asli memenuhi kepala sang penari, gerak tari yang sangat luwes dan lentur walau terikat aksentuasi bersanding dengan iringan Gamelan Semar Pagulingan. Empat orang termasuk Aning melakonkan Tari Merak dalam semburat warna hijau sayap yang dipenuhi payet dan hanya dengan satu gerakan bisa dibentangkan secara anggun, dengan singer atau mahkota beraksen merak yang akan bergoyang setiap penari menggerakkan kepalanya, benar-benar bercerita tentang keindahan dan pesona merak jantan yang terkenal pesolek untuk menarik hati sang betina, dan setiap gerakan tercipta penuh makna keceriaan dan kegembiraan.

Kemistisan, lambat dan gemulai Tari Serimpi Sangupati disajikan oleh Nindya, Tita, Nilam, dan Melia selaras dengan gamelan Jawa yang syahdu, ning nang ning gong… seperti memanggil untuk selalu pulang ke pangkuan bumi pertiwi. Tidak hanya tariannya yang indah, kemben batik dan juga kain batik bermotif lereng, selendang biru dengan taburan manik di ujung kain, kipas berwarna merah muda ikut memperindah penampilan mereka. Penonton dengan takjub menyaksikan tarian lemah gemulai sepanjang tiga perempat jam itu yang seperti tiba-tiba dibawa ke alam lain, dibawa ke  alam mimpi. Tarian ini melambangkan empat mata angin dari dunia dari grama atau unsur api, angin atau unsur udara, toya atau unsur air dan bumi atau unsur tanah yang memang menjadi elemen dasar kehidupan dibumi.

Penonton yang memadati area pertunjukan tersebut bertepuk tangan sangat riuh usai pementasan dari serangkaian tari Bunga Lembah. Tepuk tangan itu benar-benar merupakan wujud dari kekaguman mereka kepada budaya yang dibawa jauh bermil-mil ke Negeri Fujiyama ini. Di akhir pentas, personel Bunga Lembah, termasuk Cik Seruni dan Harjo Winangun menghadirkan salam membungkukkan badan khas Jepang atau yang biasa disebut bowing, yang sekali lagi membuat beberapa penonton berdiri dan ikut membungkukkan badan sebagai salam balasan dan penghormatan dari mereka. Dan yang tidak kalah mengesankan, sanggar Bunga Lembah pun sama terkesimanya dengan penampilan Topeng Noh yang dibawakan penari laki-laki Jepang dengan penuh penghayatan, dengan menggunakan  topeng, alunan musik yang terasa sekali mistisnya, seperti dibawa ke dunia lain. Dan petikan musik yang tadi mengiringi tarian Jepang masih terngiang-ngiang dalam kepala Nindya. Sangat kaya makna, menurutnya. Apalagi ketika ditampilkan beberapa Tarian Geisha, dengan nuansa kimono yang berwarna-warni, dari mulai ungu, hijau muda, biru muda, broken-white sampai hitam dengan aksen taburan bunga-bunga, make-up yang khas dari seorang penari Geisha, dengan wajah putih dengan pewarna bibir merah yang dioleskan secara sengaja sehingga membuat bibir tampak menguncup kecil. Kipas yang digerakkan secara teratur, melambangkan seorang senior Geisha yang melatih junior Geisha. Mata Nindya terpaku pada satu orang penari, berkimono hijau muda yang berhiaskan kupu-kupu di kain di kimononya, ketika penari tersebut bergerak, kupu-kupu itu seperti ikut terbang keluar. Nindya tersenyum, indah sekali, tarian dan alunan musik petik itu terekam di kepalanya.

Beberapa jam setelah pementasan, mereka dibawa ke ruangan khusus, dan mengikuti pertama kalinya jamuan minum teh yang diikuti dengan canggung dan penuh senyum dari selusin penari Bunga Lembah. Seorang perempuan Jepang, berusia sekitar 30 tahun dengan pakaian tradisional Jepang, menyambut mereka dengan ramah dan penuh perhatian. Dia menuangkan teh hijau ke dalam cangkir putih berhiaskan gambar penari Jepang yang sedang memegang kipas.

“Konbanwa… Indonesia ne Odorimasu…” Segera penerjemah bahasa di sebelahnya menyampaikan kepada personel Bunga Lembah yang saling senyum mendapat sambutan sehangat itu di negeri orang. Cik Seruni membalas dengan anggukan sopan. Setelah berbasa-basi, saling bertukar cerita tentang tarian yang dibawakan tadi, perempuan yang bernama Aya itu mulai menceritakan apa maksud dari pertunjukan tari yang baru saja diadakan tadi, adalah penghargaan untuk dunia geisha, Tari Geisha yang merupakan tarian yang wajib dipelajari oleh seorang geisha Jepang. Wajah Cik Seruni memerah, baru menyadari bahwa seni kebudayaan Jepang yang tinggi juga terkenal karena keanggunan geisha yang sering dikonotasikan negatif bagi sebagian orang.

Aya-san menceritakan bahwa seorang geisha dilatih secara tradisional sejak masa kecil, terutama berlatih tari. Mempelajari tradisional menari yang menjadi kunci kesuksesan seorang geisha karena geisha papan atas umumnya memang penari, belajar secara tradisional teknik menyanyi, upacara minum teh yang tidak sesederhana yang dipikirkan orang, merangkai bunga, sampai merangkai puisi dan belajar sastra. Pelajaran tradisional dimulai sejak umur muda dan meliputi jenis seni yang luas termasuk instrumen musik seperti alat musik petik shimizen yang membuat calon geisha harus merendam jarinya di air es, alat musik lainnya juga dipelajari seperti tetabuhan kecil. Dengan menonton dan membantu senior geisha, para junior geisha menjadi terlatih di dalam lingkungan yang penuh dengan tradisi, dalam memilih, mencocokkan dan memakai kimono, dan juga berbagai macam permainan dan seni berkomunikasi. Rumah induk geisha yang disebut okiya, hanamachi atau flower town, biasanya membeli gadis-gadis kecil dari keluarga yang miskin dan mengambil tanggung jawab untuk membesarkan dan melatih mereka. Selama masa kanak-kanak, geisha yang dilatih pertama bekerja sebagai pembantu, kemudian sebagai asisten senior rumah geisha. Latihan ini memakan waktu beberapa tahun lamanya.

Tiba-tiba Nindya seperti tersihir mendengar cerita itu, mulutnya terbuka ingin bertanya. Tapi masih diurungkannya niat itu, sembari kembali mendengarkan Aya-san bercerita yang diterjemahkan Ataka-kun, seorang mahasiswa yang pernah tinggal beberapa lama di Indonesia sebagai duta pertukaran pelajar  dari Jepang, dan akhirnya mempelajari bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Tampan dan wajahnya tenang.

“Syarat menjadi geisha sukses adalah memiliki kakak angkat yang merupakan geisha senior sukses, sehingga dapat mengatrol popularitas si geisha magang. Sementara geisha senior yang sukses juga tidak mau sembarangan menerima adik angkat, karena menyangkut nama baik pula. Tetapi memiliki adik angkat yang sukses akan berarti keberuntungan pula bagi dirinya, seniornya dan okiya-nya, karena mereka mendapat sekian persen pendapatan si geisha muda tersebut.”

“Bisakah Aya san mengenalkan kepada kami salah satu geisha, apakah semua penari tadi adalah geisha?” pertanyaan ini meluncur dari Aning, yang membuat Nindya menahan nafas saking terkesan oleh cerita soal geisha yang didengarnya.

“Dua dari penari tadi memang geisha. Keiko dan Matsumaki. Nanti kami akan bawa mereka untuk berkenalan dengan kalian. Tapi, yang lain adalah pelajar yang berlatih tari di sanggar kami,” jelas Ataka sambil tersenyum pada Aning.

“Bagaimana dengan persepsi masyarakat sendiri tentang geisha, yang selama ini sepertinya selalu dipandang maaf kurang berkenan?” Cik Seruni bertanya hati-hati pada Ataka. Ataka kembali tersenyum. Dia menyampaikan pertanyaan itu kepada Aya-san yang membuatnya juga tersenyum bahkan tertawa kecil.

“Pertanyaan itu selalu muncul bahkan dari orang Jepang sendiri. Geisha berasal dari kata “Gei” yang berarti seni atau pertunjukan dan “Sha” berarti orang, jadi geisha merupakan seorang seniman tradisional penghibur di Jepang. Geiko adalah sebutan yang berlaku di Kyoto. Geisha mulai hadir di abad 18 dan 19 dan sampai kini mereka masih tetap ada walaupun jumlah mereka sudah semakin berkurang. Pada tahun 1920 ada sekitar 80.000 geisha di seluruh Jepang, tetapi saat ini hanya ada tersisa kurang dari 1000 geisha…”

“Bisakah saya menjadi seorang geisha?” tanya Nindya. Bukan karena kepolosan, tapi karena rasa ingin tahunya yang begitu besar, yang tiba-tiba memenuhi labirin kepalanya. Penari Jepang tadi begitu anggun, eksotik, dengan kipas yang menari seindah lukisan di cangkir ocha-nya. Mata Cik Seruni menampakkan keterkejutan yang luar biasa dan memandang Nindya penuh pertanyaan. Mata Ataka juga sedikit terkejut, dan ketika dia sampaikan itu pada Aya-san, mata Aya-san membelalak, sama terkejutnya dengan yang lain di ruangan itu. Aya-san melanjutkan ceritanya.

“Geisha sering disewa untuk menolong dalam suatu pesta atau pesta pertemuan para pria, biasanya di rumah minum teh tradisional atau restoran Jepang tradisional. Dapat dikatakan dengan jelas bahwa geisha memang bukanlah wanita penghibur dengan konotasi negatif tersebut karena mereka terkadang menghibur para lelaki dari belakang pintu tertutup dengan cara yang eksklusif dan harus menjaga kerahasiaannya. Sudah ada banyak spekulasi tentang landasan profesi geisha.”

Sepertinya Aya-san ingin menyudahi cerita itu, yang, membuat Nindya tidak puas karena pertanyaannya belum dijawab.

“Seorang geisha nantinya mungkin akan memilih dan mengambil danna-san, atau sebutan untuk suami, dan biasanya mereka adalah seorang pria kaya yang mampu untuk mendukung geisha, kekasihnya…” Aya-san memandang Nindya.

“Walaupun geisha jatuh cinta dengan danna, kelanjutan hubungan ini tergantung pada kemampuan danna untuk mendukung secara finansial gaya hidup geisha. Nilai tradisional dalam hubungan seperti itu sangat ruwet dan tidak banyak dimengerti bagi banyak orang Jepang sekalipun. Dan oleh karena inilah tugas inti geisha yang sebenarnya tetap menjadi objek spekulasi dan sering kali ditafsirkan salah baik di Jepang maupun di luar negeri.”

Kemudian Aya-san meminta ijin keluar ruangan sebentar, sepertinya hendak memenuhi janjinya yang tadi.

“Gile luh, mau jadi geisha, udah kayak Nyi Ronggeng Dukuh Paruk kau nanti,” senggol Indah disebelah Nindya. Nindya tersenyum geli.

“Tingkat keseniannya itu loh yang tinggi sekali, membuatku tidak bisa tenang sebelum mendapat jawaban bisa tidak aku jadi geisha,” Nindya memandang Cik Seruni yang dibalas dengan tatapan tajam. Nindya kecut hatinya.

Pintu terbuka, dan muncullah dua penari anggun tadi masih dalam balutan busana yang mereka kenakan tadi, dan make-up lengkap. Wajah mereka tampak anggun dan bersahaja. Senyum mereka mengembang untuk semua personel Bunga Lembah.

“Ning-dya?” Keiko menyebut susah payah nama Nindya. Dan mereka berdua tertawa seperti sahabat lama.

Malam beranjak, dan karena permohonan Nindya melalui Ataka yang disampaikan kepada Keiko, akhirnya Keiko memohon kepada Aya-san, koordinator penyelenggara tersebut, untuk bisa menginap satu malam bersama personel Bunga Lembah. Aya-san yang mengetahui benar antusiasme Nindya karena cerita geisha tadi, memberikan ijin dengan hati agak berat, karena seorang geisha senior seharusnya tidak berkeliaran di tempat yang tidak diperuntukkan olehnya untuk alasan reputasi.

“Hajimashite… watashi wa… Nindya desu…” Nindya belajar satu-dua patah kata dalam bahasa Jepang bersama Ataka dan Keiko-san. Kru Bunga Lembah yang lain diajak berjalan-jalan ke pusat keramaian di luar sana, dan Nindya memilih tinggal bertiga di wisma yang disiapkan untuk mereka, mengobrol dibawah sinar rembulan.

“Cita-citaku adalah menjadi penari profesional dan berkarakter. Sepertinya menjadi geisha adalah pilihan tepat,” Nindya berkata pada Ataka-san. Ataka-san tertawa geli dan menyampaikan itu pada Keiko, tapi Keiko tidak tertawa melainkan menggenggam tangan Nindya erat.

“Ning-dya nee… Menurut saya cita-citamu itu sungguh mulia dimata saya. Saya sangat miskin tapi saya merasa sangat menarik dan itu akhirnya membuat saya memutuskan memilih jalan hidup menjadi geisha. Menjadi geisha itu tidaklah mudah, jika Ning-dya nee masih ada cita-cita lain yang lebih bagus dari ini, saya sarankan tidak menjadi geisha,” mata Keiko menusuk manik mata Nindya. Disana seperti tersirat beban hidup yang berat dan kata-katanya mengandung makna yang sangat dalam. Nindya menarik nafas.

“Apakah geisha harus asli perempuan Jepang, apakah tidak boleh saya yang perempuan Indonesia menjadi geisha di Jepang?” tanya Nindya penuh pengharapan.

“Ning-dya nee sangat lucu,” akhirnya Keiko tertawa.

“Keiko-san sudah menemukan danna?” tanya Nindya. Keiko menggeleng setelah mendengar pertanyaan dari Ataka.

“Selama ini saya masih menghibur para tamu pria saja… Mencari danna tidak gampang Ning-dya nee… Tugas utama seorang geisha adalah menghibur tamu di rumah minum teh. Kami menari, menyanyi, memainkan alat musik seperti shimizen, taiko, fue. Kami  mempelajari sastra, musik, tari, tatakrama dari cara duduk, berjalan, berdiri dan melakukan upacara minum teh yang tidak sesederhana sepertinya nampaknya, dan masih banyak lagi. Sekolah geisha juga menerapkan disiplin yang ketat, tidak semua bisa lulus dari sekolah geisha, banyak juga yang gagal…” cerita Keiko. Nindya semakin terkesan dan tertantang karena ini.

“Kenapa persepsi negatif muncul untuk seorang geisha, diidentikkan dengan… sumimasen… wanita penghibur?” Nindya bertanya lagi. Ataka tersenyum, Nindya cepat belajar dan itu sangat menarik minatnya.

“Sebenarnya geisha hanya tidur bersama pria yang menjadi danna-nya. Seorang pria bisa mengajukan diri menjadi danna melalui pemilik okiya, karena pemilik okiya inilah yang membiayai segala keperluan geisha mulai pendidikan, kesehatan, pakaian, make-up dan banyak lagi. Bila disetujui maka akan dilakukan upacara pengangkatan danna, ini untuk jangka waktu relatif panjang. Geisha tidak akan memberikan pelayanan semalam karena akan dipandang rendah. Geisha dengan reputasi bagus hanya punya danna 1 atau 2 di sepanjang karirnya. Geisha tidak akan mempertaruhkan reputasinya dengan tidur bersama pria yg bukan danna-nya,” jelas Keiko, dengan anggukan yang khas dan suara yang lemah lembut. Nindya betah sekali mendengar dan memperhatikan segala macam bentuk gerak Keiko saat bicara.

“Ataka-san bisa menjadi danna?” tanya Nindya polos yang disambut dengan pipi yang memerah dari Ataka.

“Saya tidak kaya,” dan dia tertawa. Keiko yang mendapat penjelasan tertawa tertahan.

“Mungkin nanti jika Ning-dya nee benar-benar menjadi geisha, Ataka-san bersedia menjadi danna buat Ning-dya nee,” dan pipi Ataka benar-benar bersemu merah. Nindya senyum-senyum.

“Saya berkenan jadi geisha junior Keiko-san,” ucap Nindya tanpa ragu. Mata kecil Keiko membulat indah, dan tertawa kecil.

“Dua daerah yang paling bergengsi dan merupakan daerah dengan tradisional geishanya adalah Kyoto Gion & Pontochô. Geisha di daerah ini umumnya lebih suka dipanggil dengan Geiko-san, mereka sangat terlatih sekali dan merupakan penghibur berdedikasi yang berpikiran luas dan merupakan yang terbaik dari geisha yang ada di seluruh Jepang.”

Keiko sangat melihat antusiasme Nindya mendengarkan cerita baik darinya maupun dari Ataka. Dalam hati, Keiko juga terkesan dengan cara berpikir Nindya yang ekstrem itu, seperti dirinya saat seumur Nindya dulu. Tidak mudah memutuskan untuk menjadi penari penghibur walaupun itu sekelas geisha yang diagungkan dan dihargai di negerinya, perjalanan panjang nan berat, diremehkan, dipandang sebelah mata, diremehkan adalah hal yang teramat sulit untuk dilewati. Keiko merasa harus menyampaikan sesuatu pada Nindya, mulutnya membuka.

“Untuk membedakan geisha dengan wanita penghibur bisa dilihat dari ikatan obi, yaitu selendang besar diikat di perut.” Keiko menunjuk pada ikatan di perutnya yang ramping. Nindya menatapnya bergantian dengan menatap Ataka.

“Geisha memakai kimono yang berlapis-lapis, ada bagian dalam, terdiri dari dua lapis yaitu hadajuban dan juban, dan bagian luar. Masing-masing dikencangkan dengan ikatan tali dengan jenis-jenis simpul tertentu. Obi pada geisha diikatkan di bagian belakang. Obi ini panjangnya bisa mencapai 6 meter, lebarnya setengah dari panjangnya. Sementara wanita penghibur mengikat obinya di bagian depan,” jelas Keiko, sambil tangannya bergerak-gerak seperti memperagakan sesuatu. Nindya mengangguk-angguk tanda mengerti.

Malam semakin meninggi, dan pada akhirnya Nindya, Keiko dan Ataka terlibat pembicaraan yang semakin hangat. Nindya tidak akan melupakan kehangatan obrolan mereka bertiga malam ini. Dan kepalanya masih dipenuhi obsesi menjadi seorang geisha Indonesia di Jepang. Karena serangkaian kegiatan yang melelahkan, akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat. Nindya bermimpi menari Serimpi dengan memakai kimono biru muda dengan kupu-kupu berwarna-warni, berkilau, dan harum yang bertaburan di sekelilingnya. Indah dan menakjubkan.

 

-芸者-

            “Paman, Nindya boleh jadi geisha?”

“Opo kuwi, nduk?” ujar Paman Nindya yang lelah sepulang bekerja, menjadi kepala perkebunan teh yang sangat luas di daerah dingin Wonosobo. Paman Nindya mengipasi tubuhnya  dengan topi lebarnya, menghilangkan rasa gerah,  sambil duduk di bale-bale, menunggu Nindya menghadirkan teh panas spesial ramuan keluarga yang dijaga kerahasiaannya secara turun-menurun.

“Ke Jepang, mudah-mudahan kita kuat biayanya,” sambut Bibi Nindya yang menyapu halamannya yang rindang. Nindya duduk di tepi dipan bambu.

“Cari duit buat membalas kebaikan paman dan bibi pada Nindya,” Nindya tersenyum manis. Paman berhenti mengipasi tubuhnya. Wajahnya seperti trenyuh.

“Oalah, nduk… Apa pernah paman dan bibimu ini minta balas budi karena sudah mengurus kamu dari kecil, membesarkan kamu seperti anak paman sendiri… Kalau menjadi opo mau…,” Paman berhenti berbicara, mengingat.

“Geisha,” ucap Nindya.

Yo kui mau, adalah sesuatu yang baik, yang ingin kamu kejar, paman dan bibi selalu mendukung, masalah biaya nanti kita pikirkan bersama,”

“Nindya juga kan sudah menabung dari hasil mentas, Paman. Banyaaaaak sekali karena Nindya tidak pernah gunakan itu untuk apapun,” dengan bangga Nindya mengucapkan itu.

“Jadi, boleh nih Nindya jadi geisha?”

Paman mengangguk-angguk. Nindya tersenyum lebar. Teringat pembicaraannya dengan Keiko dan Ataka saat itu.

“Keiko-san mau jadi senior Nindya?”

“Bisa. Silakan,” Keiko tersenyum.

“Saya akan datang kembali ke Jepang, setelah lulus SMU,”

“Mudah-mudahan berhasil,” ucap Ataka. Nindya tersenyum manis, sekali lagi.

-芸者-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s