Rumah Matahari

Bangunan ini tetap kokoh berdiri diterpa musim yang terus berganti. Satu-persatu para penghuninya pun datang dan pergi. Seorang anak lelaki kecil lugu diam ketika melihat seorang gadis kecil menangis meraung-raung di gegap gempitanya malam tahun baru. Suara letusan kembang api sambung-menyambung di udara.

“Kei tidak mau, tidak mauuuuu,” jerit gadis itu yang meronta-ronta dan menarik-narik baju gadis yang membawanya ke rumah ini. Anak lelaki itu menyaksikan adegan itu dalam diamnya seorang anak kecil. Ingin rasanya dia memeluk gadis kecil itu dan berkata,

“Ayo, kita main kembang api,” namun yang dilakukannya hanya diam terpaku sampai taksi yang membawa gadis kecil itu menghilang di pekatnya malam dan meninggalkan asap knalpot yg hitam samar.

“Kendra,” anak lelaki itu menghampiri seorang ibu yang wajahnya penuh dengan guratan kasih sayang. Kendra mendongak.

“Maukah kamu membawa adik Keila main denganmu?” Kendra mengangguk antusias. Wajahnya tersenyum penuh suka-cita. Lelaki kecil berusia enam tahun itu mulai menggandeng tangan Kheila yang masih terus saja menangis tanpa berhenti. Kendra bahagia karena punya teman baru, seorang gadis kecil yang cantik dan menggemaskan. Pipinya ranum bagai buah tomat. Ingin rasanya Kendra mencubitnya, namun Kendra takut itu akan membuat Keila menangis lagi. Entah kenapa Keila mulai nyaman dengan pegangan Kendra ditangannya.

“Keila mau main ayunan?”
Keila menggeleng. Kendra menatap gadis kecil itu.
“Keila mau makan coklat?” gadis kecil itu menggeleng lagi.
“Keila mau lihat kembang api? Itu lihat!” Kendra menunjuk ke arah langit. Keila mengikuti telunjuk Kendra. Keila hanya memandang tak berkedip. Air matanya meleleh berjatuhan tanpa suara. Detik itu juga Kendra berjanji akan menjaga dan melindungi Keila dengan sepenuh hati.

Gadis kecil yang dulu berusia empat tahun itu telah menjelma menjadi seorang gadis cantik. Kendra menatapnya dari kejauhan. Gadis itu sedang menyapu halaman. Kendra mendekati gadis itu.

“Keila, besok sudah tahun baru lagi. Masih tidak mau main kembang api ya?” Keila menoleh dengan enggan.
“Tidak ada hal lain selain kembang api?”
“Petasan mungkin?” Keila merengut. Kendra terkikik geli. Kemudian mereka duduk di ayunan dan berbicara dalam keheningan.

“Tahun baru, hidup baru. Tapi, seakan setiap tahun baru aku selalu terlempar ke belakang, di sebuah malam penuh kemeriahan dan aku tidak bisa merasakan apa-apa,” Keila menatap langit.

“Hidup memang hanya pengulangan, Kei. Hidup ini hanya sejarah yang secara terus-menerus diulang dan diulang. Sama seperti Rumah Matahari. Esok, akan ada lagi lelaki kecil tak berayah tak beribu yang dibuang saat masih bayi sepertiku. Akan ada gadis mungil cantik yang menangis meraung-raung meminta kembali. Begitulah,”

Gadis cantik itu menitikkan airmata. Kendra mengusap bahu perempuan itu dengan lembut. Mereka berdua menatap Rumah Matahari di hadapan mereka yang tetap berdiri kokoh di setiap musim yang terus berganti.

Selamat Tahun Baru 2013 bagi yang merayakan 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s