AKINDO: Banyak Cerita Kita Bawa Pulang dari 9-10 November 2013

Kalian pernah kan ikut yang namanya reuni? Reuni itu semacam ajang terciptanya kembali benang-benang asmara yang dulu sempat terburai tanpa jejak. Halaaah.

Kemarin, saya ikut reuni di kampus tercinta. Kampus yang membuat saya terharu karena begitu banyaknya kenangan yang pernah terukir di sana, walaupun murni tanpa adanya kisah asmara. Haha. Serius. Awal mula harus bekerja selama 3 tahun sebelum kuliah, kemudian dengan semangat membara dan tekad baja, saya membeli baju yang kebanyakan semua berwarna merah, sepatu merah, tas merah, apa-apa warna merah. Semua serba merah untuk menunjukkan betapa semangat dan bahagianya saya bisa kuliah di kampus yang tidak akan pernah saya lupakan kebersamaan dan kekeluargaannya selama saya kuliah di sana.

Namanya AKINDO (Akademi Komunikasi Indonesia) di Yogyakarta. Dengan program studi Public Relations, Advertising, dan Broadcasting Radio-Televisi.

Saya berkuliah di kampus lama, di Jl. Ketandan Wetan di tahun 2005, dekat Malioboro, setelah menimbang dalam waktu beberapa menit, saat Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru bilang, “Lebih baik ambil jurusan PR, karena semua ilmu Advertise dan Broadcast juga akan tetap didapatkan di PR.” Saya akhirnya percaya diri memilih PR. Ada kampus yang lebih lama dan lebih jadul lagi, dulu di RRI dan di Jl. Lowanu. Yang menyedihkan, kampus kami ini belum punya gedung sendiri, gedung yang ditempati masih status sewa. Namun, tidak ada yang lebih membanggakan selain pernah menjadi keluarga besar AKINDO. Rata-rata kami memanggil dosen kami dengan sebutan Mas-Mbak, Mas Mantri, Mas Endik, Mas Yoyok, Mas Andre, Mbak Vivi (alm.), Mbak Dothy (alm.). Sebagian dari mereka juga lulusan AKINDO angkatan pertama yang akhirnya menjadi dosen dan turut membesarkan AKINDO. Jadi, rata-rata mereka masih muda dan awal saya masuk banyak yang belum menikah. Kecuali beberapa orang, karena usia dan rasa hormat kami, kami memanggilnya dengan Pak Muntaha, Pak Chandra, Pak Heru, Pak Nug, Pak Gandung, dll.

Kampus ini kecil, dengan kolam ikan yang dikuras beberapa hari sekali oleh pengurus rumah tangga kampus. Pengurus kampus ini juga amat ramah pada semua mahasiswa. Kalau mahasiswa sampai tidak kenal mereka rasanya juga kebangetan. Kelas kampus kami begitu sederhana, bangku kayu, tanpa AC, dengan lantai semen abu-abu, namun pernah di suatu kuliah sore, saya terpukau pada bayangan rumput yang dibiaskan kaca dan mentari pada dinding kelas, saat saya sedang kuliah. Entah kenapa, saya begitu mencintai kampus ini. Untuk menunjukkan betapa semangatnya saya menempuh pendidikan tinggi yang hampir saja tidak dapat dibiayai orang tua, saya kuliah dengan begitu menggebu-gebu. Semua UKM saya ikuti, walaupun yang bertahan hanya beberapa, seperti Pers Kampus (PEKA), Radio Kampus (RAKA), Sanggar Sinematografi (SASINDO), Pecinta Alam (TAPAK) dan Paduan Suara Mahasiswa (PSM). Yang akhirnya terlewat adalah Sanggar Fotografi (SAFA), A-TV, dan IMMAN. Aktif di UKM membuat saya semakin bergairah dalam hal apapun. Selalu ada saja yang saya lakukan usai jam kuliah dan itu sangat menyenangkan. Mulai dari diskusi kecil tentang pendidikan di Ruang PEKA, belajar siaran di RAKA, cerita pengalaman naik gunung di Ruang TAPAK, sampai latihan vokal untuk kegiatan Wisuda. Sampai-sampai, kampus bisa juga menjadi wadah mencari uang jajan yang cukup lumayan kala itu. Menjadi Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru, menjadi Panitia Wisuda, sebar brosur, dll. Pihak kampus dengan baik hati ‘menggaji’ para mahasiswanya yang mau membantu mereka.

Kampus ini memang kecil, tapi kami memiliki keluarga besar yang malah tak akan didapatkan di kampus besar. Satu sama lain kami saling mengenal, saling akrab dan karena kampus kecil inilah kami menjadi sering bertemu dan berbincang apa saja. Mengenai apa saja. Jarang yang tidak saling mengenal satu sama lain sesama mahasiswa. Semua sangat menyenangkan.

Terpana ketika IPK di Semester Pertama sudah 3 koma.

“Saya sudah nggak bisa ngomong apa-apa lagi, tingkatkan terus prestasimu!” kata Mbak Vivi, Dosen Wali PR saat itu. Beberapa bulan kemudian ia meninggal karena kanker dan saya menangis dengan hebohnya, mengenang kata-katanya itu. Selalu terngiang hingga sekarang. Beliau sayang dan selalu menyemangati saya. Suaminya juga menjadi dosen di kampus, ketika Semester IV bertemu dengannya mengajar di kelas, beliau membawa laptop yang menunjukkan wallpaper-gambar almarhumah istri dan foto anak mereka, saya jadi trenyuh.

Di Semester II menuju III saya mulai kesulitan biaya dari orang tua, sehingga dengan bantuan seorang kakak tingkat yang sangat baik, saya part-time jaga distro bernama “Planet Fashion” di Ramai Mall. Jam kerja saya shift pertama jam 09:00 s/d jam 15:30 dan shift kedua jam 15:30 s/d jam 21:30. Saya melepaskan beberapa kesibukan di UKM dan sibuk cari uang. Mungkin banyak mahasiswa yang seperti saya atau bahkan keadaannya lebih sulit dari saya, namun, sungguh, kuliah saya demikian berat sehingga kapanpun saya mengingatnya membuat hati ini terkadang sedih sendiri. Terkadang saya absen hadir di jam perkuliahan, atau di tengah-tengah jam kuliah meminta ijin untuk cabut ke tempat kerja. Dosen-dosen tahu saya kuliah sambil bekerja dan mereka juga memaklumi. Uang gedung saja saya masih nunggak dengan angsuran yang belum lunas. Akhirnya dengan membesarkan hati saya mencoba mengikuti program beasiswa yang ditawarkan pihak kampus dan yayasan. Tapi, saya tetap bersemangat dan tidak ada yang dapat memadamkan semangat saya. Sekitar dua bulan kerja, saya mampu membayar uang Semester dan SKS secara mandiri. Kiriman orang tua sangat seret dan saya ingin tetap bertahan. Kuliah adalah keinginan besar saya dan untuk apapun yang saya lakukan selama hidup, saya harus berhasil. Saya sangat suka menulis sejak SMK. Beratus cerpen tulisan tangan berhasil saya buat, untuk impian menjadi penulis itupun saya sangat percaya diri bahwa saya akan berhasil.

Jogja terkena bencana alam gempa di 26 Mei 2006. Alhamdulillah, saya tidak apa-apa. Saat gempa, saya sedang pulang ke Klaten, tempat saudara. Bergegas saya dan teman-teman melihat kampus kecil kami yang langsung membuat kami sangat miris. Hampir semua bagian gedung retak-retak apalagi Ruang Auditorium di lantai atas yang biasa untuk kuliah Kewarganegaraan dan Statisitik roboh, tak dapat digunakan lagi. Kami menarik nafas sedih melihat kampus kecil kami yang tampak sangat kasihan. Saya yang orang perantauan, menelpon ibu sambil menangis karena gempa susulan masih sangat sering terjadi dan membuat kami semua ketakutan. Bahkan saya harus berkumpul bersama teman-teman kost yang lain hanya untuk berjaga-jaga dan tidak tidur semalaman.

Saya sering membaca bahan UTS di tempat kerja. Pulang ke kost saya yang murah-meriah (75rb/bulan) dengan berjalan kaki, terkadang sampai di kampus saya dengan ramah akan ditegur Pak Satpam atau Pak Nug. Mereka ramah dan perhatian terhadap semua orang.

Ketika saya sudah tidak bisa lagi kuliah sambil bekerja, karena nilai-nilai yang sedikit anjlok, saya memutuskan untuk berhenti dan mencoba aktif lagi di UKM.

Kami libur sangat lama karena kampus yang hampir roboh sehingga saya hampir saja bosan tidak ada aktifitas perkuliahan. Ketika itu kami mengetahui bahwa kami akan pindah kampus dengan gedung sendiri dan milik sendiri! Kenyataan itu mengharukan, membuat merinding dan membuat kami sedih karena harus berpisah dengan kampus Ketandan Wetan yang sangat kami cintai hampir 2 tahun ini (khususnya angkatan saya). Saya dan teman-teman menyempatkan melongok pembangunan tepatnya renovasi, kampus baru di Jl. Laksda Adisucipto. Diajak berkeliling dan dijelaskan dengan sabar oleh Pak Nug. Kemudian akhirnya saya pun mendapat beasiswa, mencari kost baru dan menempuh studi di kampus ‘baru.’ Kampus baru dengan cat berwarna biru awalnya sungguh sangat tidak menyenangkan, di tempat baru ini sangat panas dan gerah, gersang pula. Belum lagi banyak yang bilang kampus kami seperti gedung SMA (karena memang dulu bekas gedung SMA), Kantor Imigrasi, Kantor Perpajakan, Kantor Tour and Travel, yang paling parah dikira Posyandu. Menyedihkan. Tapi, apapun anggapan orang, kampus ini tetap AKINDO namanya. Dan, mahasiswanya sangat mencintainya.

Kemudian, saya mulai part time lagi mengetikkan Laporan Akhir milik kakak tingkat BC, lumayan uangnya buat jajan dan makan.

Saya tidak begitu menikmati kuliah di kampus baru karena rasanya makin sulit saja, baik karena biaya dan semangat yang mulai luntur, tapi saya tahu saya tidak boleh menyerah. Saya tetap ceria dan aktif di berbagai macam kegiatan kampus. Kemudian saya pulang untuk PKL (Praktek Kerja Lapangan) di sebuah Stasiun Televisi Lokal di Bandar Lampung. Rasanya ingin cepat lulus dan kerja! Kemudian hari itu tiba. Laporan Akhir selesai dengan perjuangan data-data dan tulisan yang terhapus dari flashdisk dan saya harus mengulang lagi menulis dari awal, ditambah saya yang telat membayar administrasi kuliah sehingga terancam tidak bisa ikut Pendadaran yang tinggal tersisa beberapa hari lagi. Tapi, bukan AKINDO namanya kalau tidak membantu kesulitan mahasiswanya. Dengan beberapa kali bicara dan menghadap Kemahasiswaan, Akademik, Dosen Pembimbing, Direktur, dll, saya akhirnya bisa juga ikut Pendadaran di tahun itu. Sampai sujud syukur saking leganya. Saya Pendadaran dengan tegang dan tidak nyaman sehingga mendapat nilai B+, tidak seperti teman-teman lain dan yang saya sendiri harapkan, yaitu A+. Tapi, saya sendiri menyadari bahwa Laporan Akhir saya memang ‘kurang sempurna.’ Banyak sekali faktor yang membuat saya hampir jatuh disaat-saat terakhir. Dan, saya pun akhirnya tahu rasanya orang yang sedang stress karena skripsi, sedikit banyak saya juga mengalami hal yang sama.

Wisuda. 25 Oktober 2008. Kami mengikuti Gladi Resik. Dulu, saya yang menyanyikan ‘Gaudemus Igitur’ untuk kakak-kakak tingkat, sekarang saya yang akan menerima lagu itu dari adik-adik tingkat saya. Rasanya begitu sulit dilukiskan; sedih, senang, terharu, bahagia, lega dan bersyukur, akhirnya fase kemarin terlewati juga. Uang wisuda saja saya dapat bantuan dari Om saya yang jadi Arsitek dan sangat kaya. Membuktikan betapa menyedihkan keadaan ekonomi saya saat kuliah. Saya tidak menyangka, bahwa saya akan duduk berjejer bersama penyandang gelar Cum-Laude di bagian paling depan. Saya menarik nafas lega. Tuhan begitu baik dan adil pada ummat-Nya, diberi-Nya kesedihan dan kesulitan lalu diberi-Nya anugerah dan kebahagiaan. Ibu saya tidak begitu paham apa itu Cum-Laude, selain tahu bahwa saya masuk dalam jajaran 3 besar dari jurusan PR. Tapi, saya hampir menangis haru pada saat itu, ketika Bapak Direktur menyilangkan tali Toga saya. Akhirnya, akhirnya, akhirnya. Kembali ke tiada, kembali ke titik nol.

Setelah itu saya bekerja sana-sini, di berbagai tempat, di Call Center provider besar, jadi Marketing Franchise dan akhirnya benar-benar jadi seorang yang sudah menerbitkan 4 buku, dengan perjuangan menulis selama 12 tahun tanpa kenal lelah ataupun kata menyerah!

Saat kemarin reuni di kampus, semua kenangan itu terputar ulang di kepala, saat melihat slide-show kampus lama, mata saya jadi berkaca-kaca.

“Banyak cerita akan kita bawa pulang,”

Begitu tagline acara reuni ini. Diawali ide satu orang dan berakhir dengan kepanitiaan 9 orang, saya ikut meleburkan diri untuk menemui semua yang ada di kampus lagi. Sesuai dengan tagline-nya, memang banyak cerita yang saya bawa pulang. Saya bertemu pihak kampus dan dengan semangat mengabarkan info akan adanya reuni, sesaat setelah saya resign dari pekerjaan saya. Saya begitu bahagia bertemu dengan Pak Nug yang hapal hampir semua mahasiswa dan tetap mengingat nama lengkap mahasiswa yang dihapalnya itu. Saya juga akhirnya bertemu dengan Pak Muntaha yang kini menjadi Direktur Utama, membahas banyak hal, termasuk perkembangan kampus dan ide-ide yang akan direalisasikan untuk para alumni ataupun mahasiswa.

Malam reuni, saya bertemu banyak orang yang kebanyakan masih saya ingat wajahnya, saya ingat namanya, ada juga yang saya hanya ingat wajahnya namun tidak ingat namanya. Haha, lucu sekali. Saya bertemu kakak-kakak panitia yang super jahil dan super lucu sekaligus super baik. Saya merasa kembali ke dunia saya yang sangat saya sukai dan membuat hati saya begitu lega dan nyaman. Melihat karya-karya para mahasiswa AKINDO yang selama ini menjadi jawara di bidangnya. Rata-rata para alumni AKINDO tersebar di semua stasiun televisi nasional di Jakarta dan daerah. Ada yang menjadi penulis, kini menjadi penulis skenario, ada yang berhasil menjadi sutradara hebat, ada yang serius memotret dan terjun ke dunia iklan, ada yang jadi Konsultan PR, dan lain sebagainya. Rata-rata lulusan AKINDO (atau bahkan yang tidak lulus), sukses dengan bidang mereka masing-masing.

Mas Febri yang pertama kali ketemu di Stasiun Senen dan membuat saya hampir tidak dapat menahan tawa, ternyata dia lebih ramah daripada yang saya bayangkan. Kemudian bertemu lagi di kampus dengan Mas Itok yang dari dulu tidak berubah, masih saja awut-awutan, dulu dia paling ramah dan sering ngajak ngobrol di Ruang PEKA sambil dengar musik dari Winamp. Bersalaman dengan duo-Endik, Mas Endik-sang dosen yang menyapa sangat ramah dan mendo’akan saya cepat menikah, hahaha. Kemudian bersalaman dengan Mas Endik-si penulis, yang dari dulu tetap saja kalem, tenang dan pendiam. Dan, akhirnya ketemu juga dengan Mas Oky, kakak tingkat PR, yang pesonanya hampir kayak Pangeran. Suaranya teduh sekali kayak pohon, jelas sekali setidaknya dia dulu berhasil dalam mata kuliah Public Speaking. Kemudian ketemu yang biasa disebut Pakde Ananta yang imut-imut, penyayang dan penyabar. Menyusul ketemu dengan penggagas ide reuni, yaitu Mas Army, ini juga dulu ramah dan suka mengajak ngobrol siapapun. Selanjutnya ketemu Mbak Vannie, yang dulu mengatakan “Ambil PR saja,” saat saya mendaftar di AKINDO. Selanjutnya saya makin banyak bertemu banyak orang yang dulu kenal, akrab bahkan yang dulu hanya sekedar sempat tegur-sapa, ciri dari mahasiswa AKINDO, yaitu ramah pada siapa saja. Alumni AKINDO memang baru 1900-an tapi orang-orang yang kami kenal rasanya lebih banyak dari itu.

Acara berjalan baik, lancar, seru dan ramai. Pemilihan Ketua Ikatan Alumni AKINDO pun dibentuk. Ketua terpilih adalah Mas Endik, yang notabene belum jadi alumni karena tidak menyelesaikan kuliahnya di AKINDO, tapi hatinya sepertinya sudah tertambat di AKINDO. Haha. Selamat ya, Mas Endik. Sukses buat ke depannya!

Dan, saya benar-benar pulang dengan membawa sejuta cerita. Saya cinta AKINDO dan saya akan membawa nama baik AKINDO dimanapun, sampai kapanpun.

reuni.jpg

kakakpanitia.jpg

sarasehan.jpg

*tulisan ini ditulis saat perjalanan di Kereta Api Ekonomi, dari Jogja ke Jakarta, 12-11-13. ๐Ÿ™‚

Iklan

6 pemikiran pada “AKINDO: Banyak Cerita Kita Bawa Pulang dari 9-10 November 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s