Mamak*

Tidak seperti kebanyakan orang yang memanggil ibunya dengan sebutan Ibu, Mama, Umi atau bahkan Emak, maka kami, anak-anak ibuku memanggil ibu dengan sebutan Mamak. Aku menyimpan namanya dalam ponselku dengan nama Mamiku. Terkadang aku suka memanggilnya dengan sebutan Mami, walau pun dalam keseharian tetap saja beliau kupanggil Mamak.

Mamak tidak benar-benar tahu tanggal lahirnya dan tidak ada yang secara tepat mengingatnya, bahkan kedua kakak laki-laki Mamak yang sudah tiada beberapa tahun lalu pun juga tidak ada yang pasti tahu. Mamak terlahir empat bersaudara, perempuan sendiri di tengah tiga laki-laki.

Sejak masih sebelum SD, Mamak sudah ditinggalkan kedua orang tuanya. Setiap beliau menceritakannya kembali, hatiku selalu trenyuh dan terharu. Mamak bilang makanya dirinya dan saudaranya dalam keluarga besar paling miskin, tidak memiliki harta kekayaan, karena harta warisan bapak dan ibunya alias kakek nenekku menjadi hak saudara-saudara kakek dan nenekku yang merasa berhak atas tanah dan sawah. Tapi, Mamak tidak pernah mempermasalahkan itu. Mamak bisa melewati semua hal dalam hidupnya dengan baik sampai hari ini. Mamak hanya bisa menempuh pendidikan sampai SD saja, itu pun tidak lulus. Tapi, kemampuan menghitungnya lebih baik dibanding anak perempuannya ini.

Sebagai anak perempuan di tengah para laki-laki, sejak kecil Mamak sudah terlatih dan terbiasa untuk mengurusi pekerjaan rumah tangga. Mamak terbiasa memasak atau ngliwet, mencuci pakaian di sungai, mengambil air dengan kendi, atau menjual kelapa, daun, sayuran dan lainnya ke pasar dengan berjalan kaki kiloan meter. Masa kecil yang diingatnya bersama bapak atau kakekku juga sering diceritakan padaku. Sedang kenangan bersama ibu rasanya Mamak hampir tidak pernah bercerita karena nenekku meninggal lebih dulu sebelum kakekku dan Mamak masih teramat kecil untuk bisa mengingat.

Beranjak menjadi seorang gadis kecil yang dipaksa dewasa dan juga tidak lulus SD, Mamak mengikuti jejak salah satu Bulik-nya atau adik nenekku, menjadi seorang buruh pembatik di kota Jogja. Ini membuat Mamak bisa menabung sedikit demi sedikit dan di masa bekerja itu Mamak bahkan sampai bisa sering ikut pameran batik di Hotel Indonesia, Jakarta.

Usia sekitar dua puluh tahun, Mamak dipinang oleh Bapak. Mamak sering bercerita bahwa mantan kekasihnya tampan seperti Andre Taulany, tapi akhirnya menerima pinangan Bapak yang sangat biasa-biasa saja karena desakan keluarga. Ya, kalau Mamak menikah dengan sosok yang mirip Andre Taulany tersebut, mungkin sekarang aku tidak akan menulis kisah ini.

Mamak kemudian dibawa merantau ke Lampung oleh Bapak. Benar-benar merantau tanpa modal sama sekali bukan karena program transmigrasi yang langsung mendapat tempat tinggal dan lahan untuk digarap. Jadi, pada saat itu Mamak dan Babak benar-benar merintis kehidupan baru dengan modal nekad. Bapak dulu berjualan es di gerobak, lalu menjadi tukang kebun dan menempati sepetak rumah kecil dekat sekolah, Mamak pun turut berjualan gorengan dengan menggelar tikar, sambil juga memomong kakak laki-lakiku yang masih balita.

Yang bisa aku ingat dari cerita Mamak, banyak anak nakal yang curang saat membeli gorengan. Ada yang makan tiga mengaku satu, ada yang makan lima mengaku tiga dan Mamak tidak berani berdebat dengan begundal-begundal kecil itu yang membuat Mamak merugi.

Selanjutnya, Bapak mulai mendapat pekerjaan baru sebagai buruh dan perawat taman di sebuah perusahaan swasta. Saat itu aku samar-samar mengingat masa kecilku, aku masih sangat kecil dan kata Mamak keluarga kami sempat menumpang di rumah seorang saudara jauh. Selanjutnya kami tinggal di sebuah rumah yang boleh ditempati secara cuma-cuma oleh seseorang yang baik hati yang akhirnya menjadi ayah angkat Mamak sekaligus menjadi kakek angkatku.

Karena tidak enak selalu menumpang, Mamak yang sudah menabung sejak muda memutuskan untuk membeli sebidang tanah untuk dibangun rumah. Akhirnya kami pindah ke sebuah tempat yang agak jauh dari kota, masih ada sungai yang membelah desa dan masih asri. Aku kemudian bisa mengingat bahwa kami tinggal di sebuah rumah gubuk sederhana dan tidak punya kamar mandi. Aku ingat, jika aku ingin buang air kecil di malam hari, Mamak menyuruhku menampungnya di sebuah kaleng dan keesokan harinya dibuang. Aku sama sekali tidak ingat bagaimana cara kami untuk mandi. Kalau di kota aku terbiasa mandi di bawah air yang mengalir dari pompa. Di sini mungkin aku mandi di sungai, tapi aku sama sekali tidak ingat.

Beberapa waktu kemudian, usiaku sekitar empat atau lima tahun, kami menempati rumah baru, rumah yang masih kami tinggali sampai dengan sekarang ini. Rumahku menempati tanah yang paling ujung untuk menuju ke hutan dan gunung. Masih sangat asri dan menentramkan.

Suatu hari aku yang masih kecil menangis meraung-raung. Tangan Mamak terkena golok dan darah mengucur sangat banyak. Aku berteriak-teriak, “Mamak jangan mati, Mamak jangan mati….” Atau saat kaki Mamak tersiram air panas, aku kembali menangis meraung-raung. Mamak masih sering menceritakan hal itu padaku saat aku sudah besar. Kalau kupikir-pikir saat ini, hal itu membuatku sangat terharu.

Mamak adalah pendidik dan guru yang baik. Sebelum masuk SD, aku sudah bisa membaca dan menulis namaku sendiri. Tidak boleh ada yang berkata kasar di rumah. Terus terang kami tinggal di lingkungan yang anak-anaknya terbiasa melontarkan kata kotor dan kasar. Kalau aku atau kakakku kedapatan melontarkan kata kasar, maka tiada ampun, bibir atau paha kami akan dicubit sampai merah bahkan biru atau kalau nakal, paha kami akan disabet sapu
lidi. Hal itu mempan, karena kami anak-anaknya, memang tidak terbiasa mengucapkan kata-kata kotor atau kasar.

Mamak sering mengajakku pulang ke Klaten, Jawa Tengah, untuk berkunjung ke rumah sanak saudara. Beberapa waktu kemudian Mamak pulang untuk berobat. Yang aku tahu saat itu Mamak katanya terkena kanker payudara karena terdapat benjolan di payudara dan terasa sangat sakit bila disentuh atau sakit menusuk menjelang menstruasi tiba. Saat itu aku masih SD dan tidak terlalu memahami bahayanya sebuah penyakit kanker.

Mamak meninum ramuan herbal yang diracik oleh seorang tabib di Jawa. Masih dengan mencari daun benalu sawo, daun kembang telapak dara untuk dibuat ramuan dan diminum. Dan yang paling ekstrem, ada yang menyarankan Mamak untuk minum minyak tanah. Jadi, aku sering melihat sendiri Mamak meminum satu sendok makan minyak tanah, aku bergidik ngeri apa rasanya minum minyak tanah. Namun, beberapa waktu setelah minum minyak tanah yang sebenarnya frekuensi minumnya tidak terlalu sering, benjolan di payudara Mamak berangsur mengecil dan lama-kelamaan menghilang. Mamak tidak mengeluh sakit lagi setelah itu.

Setelah itu, Mamak memulai bisnis berdagang pakaian dengan sistem bayar tempo (tidak secara kredit). Usaha kecil itu tetap bertahan hingga sekarang. Pelajaran yang bisa aku ambil adalah, tidak perlu usaha yang terlihat besar namun yang kecil selama kita ulet dan tekun maka usaha itu bisa lebih lama bertahan.

Beranjak ke masa-masa saat aku SMP, Mamak pernah bekerja membantu memasak untuk orang-orang yang bekerja di proyek pembangunan sutet di bukit tempat tinggal kami. Aku turut membantu Mamak di kala itu. Aku bahkan bisa membeli buku harian dengan honor yang diberikan Mamak dan uang jajanku juga bertambah. Kegiatan memasak itu berhenti saat proyek sudah selesai.

Di masa-sama SMK dan masa remajaku, Mamak banyak menyambut teman-temanku yang sering datang ke rumah dengan membuatkan makanan dan kue. Masa-masa SMK ini aku lewati dengan ceria. Aku banyak kesibukan menjadi anggota Pramuka, Paskibra, atau paling sering mendaki gunung. Setelah lulus dari SMK, aku bekerja di Jakarta, menabung biaya untuk masuk kuliah.

Sebelum keputusanku bekerja, aku sempat bertengkar hebat dengan kakakku sampai kakak hampir mendobrak pintu kamarku. Aku pada saat itu marah karena Mamak dan Bapak lebih mementingkan membayar cicilan motor kakakku yang saat itu sudah berhenti bekerja, ketimbang membantuku untuk masuk kuliah. Pada saat itu aku benar-benar sakit hati karena merasa diperlakukan secara tidak adil oleh kedua orang tuaku. Itulah awal mula hancurnya hati Mamak dan aku.

Ketika kakakku tiba-tiba kabur dari rumah, hal itu membuat Mamak panik. Aku menyayangkan sikap kakakku dalam usia semuda itu, pengangguran dan malah memutuskan menikah. Kakakku menggelar resepsi pernikahan sederhana di rumah sang istri, pernikahan resminya sudah dilangsungkan sebelumnya tanpa sepengetahuan Mamak dan Bapak, ketika mereka kabur dari rumah.

Hatiku Mamak selalu sakit karena sikap menantunya yang memang bertabiat keras dan suka membantah kata-kata Mamak. Pada saat itu kakak dan kakak iparku tinggal di rumah. Saat aku pulang ke rumah, dimulailah pertengkaran aku dan kakakku karena aku tidak suka ada orang yang menghina dan kasar pada Mamak. Mamak pada saat itu hanya diam dan kakakku berteriak-teriak bahwa ia akan pergi dari rumah.

Aku berkata pada Mamak, jika Mamak memang tidak pernah ridho atas sikap menantunya dan kakakku, maka selama itu pula tidak ada kebahagiaan dalam rumah tangga kakakku. Karena, ridho Tuhan ada pada ridho ibu. Mamak hanya diam saja.

Beberapa tahun kemudian, setelah kakakku dan istrinya merantau kesana-kemari dan memiliki dua anak, kakakku datang pada Mamak lalu menangis dan bersimpuh meminta maaf. Aku pada saat itu sudah lulus kuliah D3 dan sudah berpindah-pindah tempat kerja di luar kota. Kakakku meminta maaf karena selama ini Mamak benar dan ia terlalu membela tabiat buruk istrinya. Kakakku mengetahui sendiri tabiat istrinya sekaligus kesalahan fatal yang dibuat istrinya, lalu mereka sepakat bercerai.

Cerai. Kata-kata yang sangat asing dalam keluarga kami. Tapi, Mamak hanya mengiyakan keputusan kakakku. Mamak tetap selalu sayang dan sangat perhatian pada cucu-cucunya walau pun mereka kini tinggal bersama ibunya. Mamak adalah orang tersabar pertama yang pernah kutahu dan kukenal.

Sampai di usiaku yang akan menuju tiga puluh dua ini, Mamak sebenarnya resah karena aku belum menikah. Tapi, aku meyakinkannya bahwa urusan jodoh itu sepenuhnya di ada tangan Tuhan. Aku selalu bercerita secara terbuka pada Mamak bahwa aku benar-benar berusaha untuk ditemukan calon jodohku sejak usiaku dua puluh enam sampai dengan sekarang ini. Aku tidak peduli pada orang lain yang mencemooh diriku, mengatai aku perawan tua dan sebagainya, asal Mamak tahu segalanya tentang aku. Mamak tahu usahaku seperti apa, perjuangan dan ikhtiarku dalam menjemput jodohku seperti apa.

Mamak tahu bahwa aku sering kecewa dan dikecewakan dalam persoalan asmara, bahkan yang terparah kemarin aku sudah datang ke rumah seseorang yang berniat serius padaku hanya untuk mendapati bahwa aku akhirnya ditolak oleh keluarga pihak laki-laki. Mamak sangat kesal dan berkata, “Apa kita santet saja?” aku tertawa pada saat itu. Aku tahu Mamak hanya bercanda dan aku menjawab, “Buat apa? Derajat kita nanti jadi sama dengan orang yang menyakiti kita.” Lalu, Mamak pun ikut tertawa dan mengiyakan.

Saat ini Mamak tetap yakin padaku bahwa aku akan mempersembahkan menantu terbaik untuknya. Kebahagiaanku adalah kebahagiaan Mamak. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kasih sayangnya selama ini dengan memberikan menantu yang tidak membuatnya bangga atau bahagia. Mamak, percayalah padaku!

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Project Menulis Untuk Ibu yang diadakan EFiction bersama Mentari Indie Publisher

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s