Saranghae, Eomma*

Kali ini kuketikkan goresan penaku di beberapa lembar kertas berjudul “Surat Untuk Ibu” ketika aku sedang memikirkan ibuku. Saat itu aku sedang menyelesaikan laporan akhirku untuk sebuah gelar Ahli Madya dari kuliah Diploma Tiga.

Klaten, 22 Juni 2008

Pertama kalinya aku terkesan karena ucapan seorang artis muda, “…ternyata setelah dijalani punya pacar atau enggak, nggak ngaruh, aku bisa hidup di atas kaki aku sendiri, mandiri, tidak tergantung pada orang lain. Yang terpenting dalam hidup aku adalah kebahagiaan Mama, keluarga dan sahabat-sahabat aku. Pacar akan jadi nomor sekian setelah Mama dan sahabat-sahabat aku. Pokoknya yang paling penting adalah kebahagiaan Mama, soalnya kalau nanti suami aku nggak bisa menjamin kebahagiaan Mama, masih ada aku….”

Ungkapan hati itu sangat menyentuh keadaanku saat ini. Sejak awal kuliah sampai dengan sekarang, saat aku hampir lulus, yang selalu aku pikirkan adalah kebahagiaan ibuku.

            Demi aku, ibu rela merelakan semua uang yang ia punya atau bahkan tidak ia punya untuk biaya kuliahku. Demi aku, ibu rela bertemu denganku hanya setahun sekali karena kuliahku sangat jauh dari kediaman ibu. Demi aku, ibu rela menanggung tekanan darah tinggi sejak sekian lama karena selalu memikirkan aku. Demi aku, ibu rela tidak makan enak, tidak tidur nyenyak, tidak hidup nyaman karena ingatannya selalu tertuju padaku.

            Ibuku tidak pernah mengeluh, tidak pernah menangis, ia selalu kuat dan tegar menghadapi segala cobaan dalam hidupnya. Tidak pernah sekali pun aku melihat ibuku menangis. Sedangkan aku, aku selalu menangis di depan ibuku atau lebih banyak lagi di belakang ibuku, sehingga ibuku sering mengataiku cengeng dan tidak dewasa. Aku memang tidak pernah bisa sehebat dan sekuat dirinya.

            Demi ibuku, aku rela berada sangat jauh darinya, jauh dari kebiasaan bercerita dan mencurahkan isi hati  tentang apa pun kepadanya setiap hari. Demi ibu, aku rela bekerja part-time sambil kuliah, karena ibuku sangat tahu, aku bisa hidup mandiri, karena aku keras kepala untuk segala kemauanku, karena aku selalu memegang komitmen atas kata-kata dan perbuatanku.

            Demi ibu, aku memilih putus dari pacarku karena teringat sikap ibu yang percaya penuh bahwa diriku akan selalu menjaga diri dengan baik di manapun aku berada. Demi ibu, aku selalu berusaha berkonsentrasi penuh pada kuliahku, sampai akhirnya mendapat nilai-nilai yang bagus dan mendapatkan beasiswa.

            Sampai kemarin, saat-saat membuat Laporan Akhir kuliah, aku harus menghadapi banyak sekali masalah. Semuanya seakan ingin membuatku menjadi gila. Data-data, bahkan semua data laporang akhirku lenyap. Aku menangis dan mulai putus asa. Aku  benar-benar stress.

Lalu, aku teringat ibuku. Semua ini untuk ibu. Semua ini demi ibu. Kemudian, aku mulai mengetik semuanya dari awal lagi.

Lalu, ibuku datang dari kampung halaman.

Seakan-akan ialah yang selalu menjadi dewi penolong di semua masa sulitku. Dan ibuku memang seorang inspirator sekaligus dewi penolong dalam hidupku.

            Ibu, jika ada sesuatu yang sangat berharga di dunia ini selain ibu, aku tidak akan pernah ingin memilikinya, karena  bagiku semua yang sangat berharga di hidup ini adalah ibu.

            Kemarin, aku sempat berpikir sangat egois. Aku ingin sekali selalu membahagiakan ibu, walau sampai detik ini, aku merasa belum melakukan apa-apa. Aku ingin berkarir dan melupakan persoalan menikah. Aku ingin membahagiakan ibu selama yang aku bisa. Tapi, keputusanku untuk melupakan persoalan menikah tentu saja akan menyakiti perasaan ibu.

            Setidaknya, aku ingin membuat keputusan yang sedikit bijak. Aku hanya ingin menikah dengan orang yang kucintai. Aku tidak mau menikah dengan orang yang hanya mencintaiku. Akhirnya, karena semua yang aku lakukan berujung pada kebahagiaan ibu, aku hanya ingin menikah…

            …dengan orang yang bisa membahagiakan ibuku.

            Seperti statement artis muda tadi, bahwa yang terpenting adalah kebahagiaan Mama. Bagiku, yang terpenting adalah kebahagiaan ibu.

            IBU, akan aku berikan kado terindah dan terbaik pada 22 Desember 2008 nanti, walau aku sendiri belum tahu apa. Tapi, aku janji akan memenuhinya.

            IBU, selamanya aku sayang padamu…–

 

Sebenarnya goresan pena dengan judul “Surat Untuk Ibu” ini tidak pernah dibaca ibuku karena sulit membiarkan ibu membaca tulisan-tulisan curahan hatiku. Dan mengenai kado untuk ibu pada 22 Desember 2008, aku tidak begitu mengingatnya selain mengucapkan Selamat Hari Ibu melalui sambungan telepon. Yang jelas pada saat itu aku sudah bekerja setelah lulus kuliah dua bulan sebelumnya dengan predikat cum-laude.

Saat wisuda, ibuku datang bersama bulik-ku karena Bapak sedang sakit dan terpaksa tinggal di rumah. Ibuku yang bahkan SD pun tidak tamat, mungkin tidak begitu paham apa itu cum-laude. Tapi, aku memberitahunya bahwa aku lulus dengan predikat sangat baik dan memuaskan, bahkan menjadi peringkat ketiga dalam kelas jurusan Public Relations yang kuambil. Tentu saja ibuku sangat bangga pada pencapaianku.

Di masa-masa yang telah jauh berlalu, saat SMK, saat aku sangat gemar menulis dan menghabiskan pena dan buku-buku untuk kutulisi, ibuku sering berkomentar, “Menghabiskan kertas dan pena saja.” Aku hanya menjawab, “Suatu hari, aku akan jadi penulis yang membanggakan ibu.” Ibuku diam saja. Aku tahu ibuku dalam diamnya mengamini.

Dua belas tahun setelah itu, aku benar-benar berhasil menerbitkan buku novel remaja bergenre fan-fiction dan juga novel Islami. Hal itu terus berlanjut sampai sekarang. Lalu aku bisa dengan bangga menyebut diriku penulis di hadapan ibuku. Ibu, lihat! Aku berhasil!

Aku tahu, do’a ibu selalu bersamaku. Ketika aku berkata, “Do’akan, semoga suatu hari, cerita dalam bukuku bisa jadi film,” ibuku langsung menyahut, “Aamiin….”  Tak terkira senangnya rasa hatiku, bahagia sekali. Ya, suatu hari, aku tahu hal itu akan menjadi kenyataan teriring do’a ibuku. Saranghae, Eomma (Aku cinta padamu, Ibu-Korea –pen) —

 

*Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DearMama yang diselenggarakan Nulisbuku.com dan Storial.co

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s