Cuplikan Novel Terbaru

-Ini adalah cuplikan novel selanjutnya, semoga berkenan…–

2
Aku sedang melihat Zidni bersujud di lantai berdebu di Rumah Jurnalis kami. Dia bersujud lama sekali, seakan pusaran waktu terhenti saat ia bersujud. Aku memerhatikannya dengan setengah tertegun, setengah melamun, setengah memikirkan Faraz dan setengah merasa gila.

“Kamu tidak sembahyang, Ra?” tanya Tara. Aku menggeleng.

“Tuhanku sudah mati,” ujarku. Tara tertawa sumbang.

“Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Tuhan kita begitu maha segalanya, kenapa dia bisa mati kalau dia disebut Tuhan?”

“Kalau Tuhan tidak mati, dia tidak akan membiarkan makhluk–Nya tercerai berai menjadi hamburger di jalanan,” ujarku lagi, aku meremas tanganku sendiri, sedikit gemetar karena udara sore yang mendadak dingin. Aku memalingkan wajahku dari memandangi Zidni yang sudah bangun dari sujudnya dan mengakhiri sembahyangnya.

Tara hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia kini sudah berada di posisi Zidni tadi, memulai sembahyangnya. Sedang Zidni menuju ke tempatku duduk.

“Setidaknya jika kamu tidak sembahyang, jangan mengotori pikiran orang yang masih bersembahyang,” tegur Zidni. Ia lalu menarik kursi di dekatku dan malah duduk di depan perapian. Aku mulai memikirkan kata-kata pedas apa yang seharusnya meluncur keluar dari mulutku.

“Aku ingin bertanya sekarang, apa tujuan kamu sembahyang? Apakah dia memberimu nilai ketika kamu menyembahnya? Apakah dia butuh sujud-sujudmu itu? Apakah dia peduli atas apa yang terjadi di dunia yang kita tinggali sekarang ini?” tanyaku akhirnya setengah sinis.

“Dia peduli, Ra. Waktu tidak pernah berjalan mundur tetapi maju. Dia hanyalah soal waktu.”

Perkataan Zidni tidak kumengerti. Aku benci pada Tuhan, jika dia masih ada. Dia begitu kuat, dia tidak butuh apa pun, dia maha segalanya, dia maha bijaksana, dia menyayangi semua makhluknya, dia selalu ada di mana-mana, dia mengatur segalanya. Tapi, dia hanya diam saja melihat semua pembantaian ini.

Zidni bilang semua ini adalah pelajaran bagi manusia. Jika tidak ada kejadian atau kisah, mustahil manusia bisa belajar banyak hal. Hikmah bisa didapat setelah kejadian atau kisah tersebut. Yang aku tidak mengerti, pelajaran apa yang bisa diambil dari cerita pembantaian di negeri ini?

Tuhan, jika dia memang ada, menciptakan satu makhluk, bernama manusia. Manusia ini menjadi orang-orang yang bersuku-suku dan bahkan berbangsa-bangsa. Orang-orang ini atau manusia-manusia ini menjadi bagian dari suku-suku mayoritas dan suku-suku minoritas. Orang-orang dari suku-suku mayoritas dan suku-suku minoritas ini semuanya beragama.

Dan manusia-manusia yang diciptakan Tuhan ini perlu saling membunuh demi alasan membela agama, membela suku dan menciptakan apa yang disebut dengan kedamaian. Aku selama ini berlindung dibalik kerudung hijau agar tidak segera dimusnahkan. Aku membenci diriku sendiri.

“Ikut aku, Ra.” Zidni membuka pintu Rumah Jurnalis kami dan dari tatapannya dia memintaku untuk kali ini menurut padanya. Aku melangkah menuju pintu dan berjalan mengikutinya. Kami berjalan di keremangan senja, terasa jauh sekali kami berjalan, lalu Zidni berbelok ke jalan bersemak yang tidak pernah kutahu sebelumnya, aku mulai merasa tidak tentram.

“Kita mau ke mana?” tanyaku.

“Sebentar lagi sampai,” info Zidni. Aku akhirnya memilih diam. Beberapa langkah kemudian, aku melihat sebuah bangku taman menghadap ke sebuah pemandangan lampu-lampu kota yang mulai berkilau dari kejauhan, dari atas tempat ini aku bisa melihat sebagian kecil ibukota. Aku tidak tahu ada tempat semacam ini di dekat Rumah Jurnalis. Zidni membuka suara, dia memandang ke kejauhan tanpa menatapku.

“Ara. Orang-orang di negeri ini sudah mulai kehilangan harapan akan adanya kehidupan damai. Tidak ada manusia normal mana pun yang tahan melihat pembantaian terjadi di sekitar mereka. Tidak ada manusia waras mana pun yang senang melihat manusia disiksa dan dibunuh. Tidak ada manusia sadar mana pun yang senang untuk saling membunuh.”

Aku memilih menunggu kelanjutan kata-kata Zidni.

“Agama masih menjadi satu-satunya pegangan hidup orang-orang yang bertahan. Agar mereka tetap bisa hidup dan memiliki harapan. Benar agama memang melahirkan harapan bagi pemeluknya. Harapan bahwa kedamaian akan tiba setelah waktunya. Tidak bisakah kamu membiarkan mereka bertahan dengan satu hal yang juga mereka harapkan masih tersisa?”

Aku menyimak kata-kata Zidni dan menunggu lagi apa yang hendak ia katakan.

“Bukan agama yang membuat manusia menjadi jahat tapi sebaliknya, manusialah yang membuat agama menjadi sesuatu yang tampak jahat.”

“Apa yang sudah aku lakukan?” aku menggeleng tidak mengerti.

“Ara, kalau sikap membangkangmu yang seperti ini terus kamu pertahankan dan selalu kamu tunjukkan, kamu hanya akan musnah seperti suku minoritas itu. Kamu hanya akan menghancurkan dirimu sendiri.” Zidni berbalik dan menatap mataku tajam. Aku terdiam sejenak untuk mencerna kemarahan Zidni padaku.

Lama aku harus terdiam untuk memahami maksud Zidni. Sebenarnya aku langsung mengerti maksud dari perkataannya itu, tapi aku kesulitan untuk mengeluarkan argumenku karena aku merasa sangat payah sebagai seorang manusia.

“Zidni, sekarang aku mengerti. Ini soal aku yang sudah lama tidak bersembahyang, bukan? Ya, aku memang sudah lama tidak sembahyang bahkan jauh sebelum kematian Faraz.” Bibirku kelu ketika mengucapkan nama itu. Seakan-akan Faraz menjadi tolak ukur waktu dan tolak ukur akan kenormalan dan kewarasanku.

“Aku tahu.” Zidni berkata dingin. “Aku tahu jauh sebelum itu, kamu tidak becus pakai kerudung, kamu liar dan kamu benar-benar pembangkang.”

“Liar?” gumamku.

Entah kenapa, aku tidak ingin marah. Biasanya aku selalu bisa marah pada Zidni tapi aku ingin kali ini aku tidak perlu marah padanya.

“Tidak bisakah aku hanya melakukan sesuatu yang kupahami?” tanyaku lirih. Aku memandang langit yang menggelap. Kerlap-kerlip mulai muncul, bintang yang katanya juga ciptaan Tuhan.

“Tidak sekarang, Ara, tidak sekarang waktunya! Kamu mengerti tidak?! Kalau bukan karena atas nama suku yang bisa menyelamatkan kita dari kebinasaan ini maka agama adalah satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan kita! Tidak bisakah kamu melihat selama ini kami melindungi kamu yang jarang berkerudung kemana-mana? Tidak tahukah kamu selama ini, kami selalu beralasan pada orang-orang yang bertanya, bahwa rambutmu mudah rontok dan memakai kerudung seharian di jalanan akan membuat rambutmu berhenti tumbuh dan jadi botak? Mengerti tidak kamu?!” bentak Zidni.

Aku mulai merasakan sakit hati. Bukan karena kata-kata Zidni dan bukan pula pada bentakan Zidni. Tapi, pada perasaan pengecut ini. Selama ini mereka melindungiku dari negara yang suka membantai ini? Aku benar-benar sudah lelah.

“Kenapa kalian tidak membiarkanku mati saja kalau begitu?” tanyaku dengan air mata yang mulai menitik.

“Maka sukumu akan habis, Ara. Berapa banyak lagi perempuan yang tersisa dari sukumu? Bahkan, dua adikmu saja tidak kembali. Ayolah, bertahan sedikit lagi saja.”

Sepuluh tahun melewati masa peperangan antar-suku bukanlah hal yang mudah, kalau kau ingin tahu.

“Agama, bagaimana pun membuat kita bisa bertahan. Begitulah yang terjadi di negara ini saat ini. Kamu menganggap Tuhan tidak ada lagi. Baiklah, kalau begitu, Ra. Bisakah sesaat saja, anggap saja Tuhan seperti sebuah harapan. Kalau ternyata ada, itu adalah hal bagus. Lebih bagus lagi, jika ternyata Tuhan adalah harapan yang bisa terwujud. Kalau ternyata tidak ada, ya sudah, tidak masalah. Tidak semua harapan kita bisa terwujud, akan tetapi hidup harus tetap berlanjut.”

Aku memandangi lampu-lampu kota lagi. Pendar sinarnya kekuningan dan seperti sedang meliuk-liuk.

“Kamu membawa kerudungmu?” tanya Zidni.

Aku menggeleng sambil mengusap air mata. Hatiku sedih dan sakit. Kerudung hijau itu sekarang aku simpan di lemari tertua di rumahku. Sudah lama rasanya aku tidak menyentuh kerudung itu karena terlalu takut bayangan Faraz akan terus menghantuiku.

Zidni mendesah. “Sudah kuduga.” Ia mengeluarkan sesuatu dari balik saku jaketnya.

“Pakai ini,” ulurnya. Sebuah kain berwarna biru gelap menjuntai dari tangannya. Aku mengambilnya dengan sikap ragu.

“Mulai sekarang, bertahanlah dulu sampai keadaan negara ini membaik dengan memakai kerudung. Setelah itu, terserah kamu.”

Zidni berbalik lebih dahulu dan meninggalkanku untuk memakai kerudung pemberiannya. Aku melihat punggungnya yang mulai menjauh. Air mataku jatuh bercucuran. Apakah dia juga akan seperti Faraz, pergi setelah memberiku kerudung?
****

Iklan

3 pemikiran pada “Cuplikan Novel Terbaru

  1. Apa minoritas akan selalu ditekan? Ingat pada yang maha membolak-balikan keadaan. Bahkan hati seseorang. Ingat apakah kita sudah tidak lalai dari semua yang sudah dicontohkan. Ingat bahwa hari pembalasan akan ada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s