The Journey of My Seven Fanfiction Book

Annyeong-haseyooo ๐Ÿ˜€

Apa kabar kalian semua? Semoga baik-baik saja dan sehat semuanya ya. Saya berdo’a semoga kalian juga selalu berhasil dalam hal dan bidang apapun yang kalian lakukan dan selalu bisa menikmati hidup dengan bahagia.

Baiklah, kali ini penulis mau bercerita soal perjalanan menulis cerita novel yang mudah-mudahan semua bukunya sudah sampai di tangan pembaca setia buku saya.

Saya kebetulan suka angka tujuh. Saat ini saya sudah menerbitkan tujuh novel bertema fanfiction. Apakah sepertinya terlihat mudah, bahwa dalam setahun saya bisa mengerjakan lebih dari lima naskah? Hehe. Saya menganggap itu adalah sebuah konsekuensi sebagai seorang penulis. Ketika sudah bertekad menjadi penulis yang baik, yang harus dilakukan adalah terus menulis, menulis dan menulis. Kata sahabat saya yang pelukis, menulis itu perlu bakat, latihan dan ketekunan. Melukis dan menulis mungkin bukan sesuatu hal yang berbeda kalau begitu. Tapi, terkadang saya masih percaya bahwa menulis tidak perlu bakat khusus. Semua orang bisa menulis memang, tapi mungkin tidak semua orang bisa menyampaikan ‘makna’ melalui tulisannya. Semua penulis yang menulis tentunya akan menyampaikan makna dalam tulisannya. Sehingga makna itu bisa dirasakan oleh yang membacanya.

Buku pertama saya, Hope Is A Dream That Doesn’t Sleep, lebih seperti cerita pribadi yang selama ini tidak pernah terungkapkan. Saya bercerita mengenai pertemuan dua orang melalui sebuah blog. Namun, sebenarnya sebagian dari isi buku itu bukan benar-benar kisah nyata sang penulis. Dan, saya selalu terpana dengan rating empat yang saya dapatkan atas buku itu di Goodreads. Banyak yang mengapresiasi buku itu sebagai cerita yang menyentuh dan mengharukan. Saya bersyukur sekali bahwa buku pertama saya bisa diterima di kalangan remaja. Terima kasih banyak untuk kalian yang sudah membaca dan mengapresiasi buku tersebut. Setiap saya mengenang semua hal mengenai buku pertama tersebut, selalu muncul rasa haru, bahagia dan senyuman lega. Walaupun saya merasa buku pertama masih banyak sekali kekurangan, tapi saya senang atas sambutan yang diberikan. Semoga suatu hari saya bisa merevisi, memperbaiki kesalahan dan cetak ulang. Aamiin.

Buku kedua, It Has To Be You, terinspirasi dari kegiatan yang dilakukan kantor saya dulu setiap hari Jum’at. Setiap Jum’at, beberapa orang yang tergabung dalam sebuah tim akan pergi ke panti asuhan untuk menyalurkan sedikit bantuan. Dari sanalah saya ingin menulis soal panti asuhan. Setiap berkunjung ke panti asuhan, mata saya selalu berkaca-kaca, pernah saya menangis di hadapan mereka, para anak-anak panti. Kemudian cerita novel lebih saya kembangkan menjadi sesuatu yang lebih bernilai. Anak-anak panti yang saya ceritakan adalah anak-anak yang selalu memiliki harapan dan mereka terus berkarya dengan bakat-bakat yang mereka miliki.

Buku ketiga, Blueberry on the Valley, terinspirasi saat saya memposting tulisan buah berry yang ternyata rumpunnya ada strawberry, arbei, cranberi. Saya sangat merasa terpesona pada blueberry. Saya banyak mencari bahan dan artikel dengan berselancar di internet. Saya membaca banyak artikel, mengunduh gambar-gambar blueberry dan video tentang perkebunan blueberry. Memang benar-benar buah yang cantik. Kemudian saya mengembangkan cerita soal perkebunan blueberry; penyemaian bibit, pemupukan, perawatan, pemanenan yang sebenarnya tidak pernah saya lihat seumur hidup saya. Inilah nikmatnya menulis, dengan bahan yang kita miliki, kita bisa merangkai hal baru, kata-kata baru berdasarkan pengamatan dan membaca bahan walau tidak melihat secara langsung. Saya antusias sekali saat menggarap novel ini. Sangat menyenangkan.

Buku keempat saya, yang paling membuat saya bersemangat, The One I Love. Di sini saya menceritakan cerita tentang penyihir, cerita tentang mitos-mitos, menggabungkan masa lalu dalam masa kekinian. Juga menceritakan kisah dua dimensi waktu yang berbeda-masa lalu dan masa kini. Saya juga mengumpulkan bahan tentang para penyihir yang kebanyakan adalah perempuan dan itu membuat saya makin tertarik dan tertantang untuk menuliskannya. Buku ini mendapat respon yang sangat bagus dari penggemar novel fanfiction saya.

Buku kelima saya, terinspirasi dari sahabat saya yang menjadi seorang wedding-singer. Your Wedding Singer. Seorang penyanyi cantik yang memiliki ayah yang jahat dan ringan tangan. Ia memimpikan sebuah perkebunan yang menjadi cita-citanya. Menyanyi adalah hobi dan keahliannya, namun berkebun adalah sesuatu yang menyenangkan untuknya. Kemudian ia bertemu dengan takdir yang menyeretnya ke dalam sebuah masalah dan malah bertemu dengan orang yang benar-benar jatuh cinta padanya.

Buku keenam saya bercerita tentang persahabatan yang terjalin melalui dunia maya, #twitterland. Lima orang asing, tiga laki-laki dan dua perempuan bertemu dan berkenalan melalui jejaring sosial. Awalnya mereka saling menutupi kekurangan dan keadaan masing-masing. Mereka malu mengungkap jati diri mereka yang sebenarnya. Mereka akhirnya meresmikan tanggal pertemuan dan hari jadi persahabatan mereka. Dua diantaranya saling jatuh cinta dan dua diantaranya tidak menerima balasan cinta dari yang dicintainya. Lima orang ini juga memiliki mimpi dan cita-cita masing-masing yang mereka perjuangkan dan saling memotivasi satu sama lain.

myallbook

Dan, buku ketujuh saya, berjudul Game Over. Menceritakan permainan scrabble online yang mempertemukan dua orang yang tinggal di beda negara, Jepang dan Korea. Entah kenapa saya suka sekali menceritakan dunia maya ya? Hahaha. Kedua orang ini saling menyukai namun hal-hal tidak terduga pun terjadi. Novel ini juga membahas kecelakaan kapal ferry Sewol yang tenggelam di lautan Korea beberapa bulan lalu. Penulis sendiri merasakan kedukaan yang mendalam dan simpati karena sering bepergian menaiki kapal ferry dari Bakauheni ke Merak. Bagaimanapun musibah bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Banyak hikmah yang bisa diambil dari musibah tersebut.

Selanjutnya, saya sedang menyelesaikan naskah fanfiction yang ke delapan. Sedang dalam tahap sunting dan memberi sentuhan terakhir yang bagus. Sedikit bocoran, ceritanya mengenai pertemuan di sebuah balon udara dan berbagai macam kejadian tak terduga setelah pertemuan itu. Bagian 1-3 sudah ada di blog ini, selanjutnya nanti baca setelah bukunya dicetak ya. Hehe. Rencananya saya akan membuat sekuel untuk buku ini.

Begitulah, sedikit cerita perjalanan ketujuh buku saya yang sudah terbit. Sejujurnya, saya sendiri tidak menyukai K-Pop, kecuali lagu-lagu yang biasanya menjadi lagu tema di film Drama Korea yang saya sukai. Biasanya saya juga akan menyukai lagu temanya setelah saya menonton filmnya. Hehe. Tetapi, menuangkan personel band K-Pop ke dalam sebuah cerita, rasanya ternyata sangat menyenangkan. Saya bisa menceritakan apa saja berdasarkan imajinasi saya. Walau kehadiran fanfiction yang diperjualbelikan ini masih menuai pro dan kontra, saya hanya ingin saya tidak pernah berhenti berkarya. Itu saja. Tidak ada keuntungan yang seberapa atas penjualan buku saya, baik bagi saya ataupun bagi penerbit. Tapi, setidaknya, walau masih menuai banyak kritikan, saya bersyukur, karya saya masih bisa diterima dengan baik.

Seseorang pernah berkata, “Kenapa harus menyukai budaya bangsa lain dibanding budaya bangsa sendiri?” atau “Kenapa harus memasarkan budaya bangsa lain bukan bangsa sendiri?โ€ Pertanyaan tersebut tidak mudah dijawab. Kita tidak bisa menjawab, “Karena budaya luar lebih gemerlap dan menarik,” atau “Jaman sudah berubah, Bung.”

Kalau saya boleh memberi alasan, karena kita sendiri, sebagai insan, sebagai pribadi bangsa gemah ripah loh jinawi ini berhenti mengagumi dan memasarkan budayanya sendiri. Iya atau tidak? Kita tidak boleh hanya bisa berkomentar atau memberi saran, tapi kita sendiri juga harus melakukannya.

Dengan cara apa? Banyak sekali caranya. Saya sendiri terus terang memang masih terjebak untuk menulis sesuatu yang bukan dari budaya tanah air kita tercinta ini, karena tuntutan penerbit. Tapi, dari awal, saya bertekad untuk menorehkan kata ‘Indonesia’ dalam setiap karya saya. The Crowd Voice Indonesia ada di buku pertama-kedua-ketiga. Legenda Calon Arang ada di buku keempat. Orang cerdas Indonesia yang membuat notebook cantik ciptaan sendiri saya ceritakan di buku kelima. Dan seterusnya. Yang terpenting jangan lupakan โ€˜Indonesiaโ€™ dalam kehidupan kita. Dan yang terpenting, semua karya saya masih memakai Bahasa Indonesia. Karena penguasaan bahasa asing saya masih minim. Hihihi.

Saya ucapkan terima kasih untuk semua pembaca setia buku saya, terima kasih telah selalu menyemangati saya baik dengan komentar di blog ini atau sapaan melalui akun twitter saya. Kalianlah, pembaca setia buku saya, yang selalu menghidupkan semangat saya untuk terus dan tetap berkarya. Terima kasih Indonesia. Gomawo. Saranghae.

Fanfiction SeoKyu “Love in Balloon” Part 3

“Love in Balloon”

~Part 3~

Review cerita sebelumnya:
Balon udara yang dikendarai Kyuhyun beserta Seohyun didalamnya, kehilangan kendali dan melenceng karena mengikuti arah angin yang salah. Akibatnya terjadi insiden yang mengakibatkan balon udara tersebut tersangkut di atas pepohonan dan membuat Kyuhyun dan Seohyun cidera. Seohyun mengalami cidera ringan di bagian kaki dan Kyuhyun mengalami cidera yang cukup berat di bagian pinggang. Mereka berdua dalam keadaan cemas dan takut.

~~

Saat pandangan Seohyun dan Kyuhyun bertemu, mereka seperti menemukan sesuatu dalam hati mereka masing-masing. Tangan Seohyun pun berhenti menyentuh pinggang Kyuhyun. Kyuhyun merasa aneh saat tangan lembut itu berhenti menyentuhnya.

Kyuhyun masih ingin menghayati perasaan tenang karena sentuhan tangan Seohyun di kulitnya. Akibatnya wajahnya menjadi memerah malu dan ia pun mengerjapkan matanya.

“Gomawoyo,” Kyuhyun mengucapkan terima kasih pada Seohyun dengan sikap kikuk. Seohyun hanya mengangguk dan tersenyum malu seraya memasukkan pelembabnya kembali ke dalam tasnya. Ia merapihkan rambutnya yang tergerai tertiup angin.

Kyuhyun terus berusaha menahan nyeri yang menusuk di pinggangnya. Rasanya mereka seperti tidak khawatir akan keadaan mereka saat ini. Rasanya mereka seperti menikmati keadaan ini. Seharusnya mereka berpikir bagaimana caranya agar mereka bisa cepat turun dari ketinggian tersebut, bukan?

Kyuhyun mengeluarkan ponselnya.

“Aaah, tidak ada sinyal,” keluhnya, menatap ponselnya tidak berdaya. Seohyun melihatnya. Kemudian ia pun bergegas mengeluarkan ponselnya.

“Sama saja,” wajah Seohyun berubah cemberut. Mereka seharusnya bisa menghubungi seseorang atau siapa pun untuk menyelamatkan mereka. Kyuhyun menahan senyumnya melihat wajah cemberut di depannya. Rasanya ia mulai bisa menyukai gadis ini. Rasanya tidak ada alasan ia tidak menyukai gadis manis dan baik ini.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita saling menyimpan nomor saja?” Seohyun tertawa kecil. Kyuhyun menaikkan alisnya, merasa sangat senang akan kata-kata yang meluncur dari bibir Seohyun.

“Baiklah kalau begitu,” ujar Kyuhyun tenang tapi dengan hati luar biasa senang.

Seohyun meminta ponsel di tangan Kyuhyun. Kyuhyun dengan wajah kebingungan menyerahkan ponselnya dan menerima ponsel Seohyun sebagai gantinya. Ia kini mengerti maksud Seohyun.

“Apakah aku terlalu agresif padamu?” tanya Seohyun tiba-tiba. Wajah Kyuhyun melongo. Kebingungan dengan pertanyaan Seohyun sekaligus bingung hendak menjawab apa.

“Aku juga tidak tahu. Aku baru pertama kalinya melakukan ini. Maksudku, aku biasanya tidak begini…,” Seohyun menundukkan kepalanya. Dia benar-benar baru kali ini begitu tertarik pada seorang lelaki dan selalu ingin ada di dekat orang itu. Padahal mereka belum 1×24 jam bersama, tapi Seohyun sudah takut akan perasaan jauh dari Kyuhyun. Kyuhyun semakin merasa canggung akan suasana yang kini tercipta di antara mereka berdua.

“Aku…,” ujar Kyuhyun menggantung.

“Sungguh aku tidak bermaksud agresif padamu. Semua yang aku lakukan sangat spontan dan tidak ada maksud lain selain aku ingin berteman denganmu,” jelas Seohyun sebisa mungkin.

“Aku mengerti,” ucap Kyuhyun pendek, tidak tahu ingin menjawab apa. Seohyun menghela nafasnya perlahan. Memandangi layar ponsel Kyuhyun dengan pikiran tidak menentu.

“Aku sudah menyimpan nomorku,” Kyuhyun mengembalikan ponselnya ke tangan Seohyun. Seohyun kemudian mengetikkan nomornya di ponsel Kyuhyun.

Setelah ponsel kembali ke tangan Kyuhyun, Kyuhyun pun mengecek kontaknya. Dan tertawa membaca nama yang tertera di sana.

“Ms. Lollipop?” Kyuhyun memandang Seohyun. Seohyun tertawa.

“Kau terlalu biasa menyimpan namamu. Cho Kyuhyun?” Seohyun membaca nama dikontak ponselnya. Kyuhyun tertawa.

“Lalu aku harus menamai diriku apa?” tanya Kyuhyun.

“Aku tahu,” Seohyun tersenyum manis. Kemudian ia mengetik sesuatu dikontaknya, mengedit nama Kyuhyun di sana. Kyuhyun meliriknya.

“Ballon Driver??!!” seru Kyuhyun menahan tawa. Seohyun memandang Kyuhyun dan mengangguk dengan pasti.

“Apa tidak ada nama yang lebih bagus lagi dari itu?!” Kyuhyun kini tertawa yang mengakibatkan pinggangnya semakin nyeri saja.

“Nanti kuganti lagi jika sudah menemukan nama yang lebih cocok untukmu,” ujar Seohyun. Kyuhyun hanya tertawa, rasa apakah ini? Mengapa ia merasa begitu berharga untuk orang lain dan begitu merasa dihargai? Rasanya ia begitu bahagia saat ini.

Kemudian mereka saling terdiam beberapa saat. Sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Angin mendesau di sekitar mereka.

Tidak beberapa lama kemudian, suara helikopter terdengar menderu-deru di atas kepala mereka.

“Kita akan diselamatkan!” seru Seohyun senang. Kyuhyun pun ikut merasa lega. Tim SAR tentu tidak akan lama untuk datang menyelamatkan mereka karena sinyal bahaya sudah dikirimkan Kyuhyun sejak balon udara itu mulai melenceng dari jalurnya.

“KALIAN BERSIAPLAH UNTUK NAIK KE TALI YANG KAMI JATUHKAN!” Teriak salah satu anggota Tim SAR yang bertugas untuk menyelamatkan mereka. Kyuhyun langsung memberi kode ‘OK’ dengan menyatukan telunjuk dan jempolnya.

Kemudian terlihat Tim SAR menjatuhkan tali beserta perlengkapan lain yang tampak menggantung bersama tali.

“Lady’s first, okay?!!” teriak Tim SAR lagi. Sekali lagi Kyuhyun memberi kode, yang di dalam hatinya dia bahkan lebih berkata, “Tentu saja harus dia dulu yang diselamatkan!”

“Kau naik duluan,” Kyuhyun membimbing Seohyun untuk naik ke atas tali yang ternyata berbentuk anak-anak tangga untuk menuju helikopter.

“Kau tidak apa-apa?” wajah Seohyun terlihat cemas melihat denyut kesakitan di wajah Kyuhyun. Ia sangat tahu, Kyuhyun sedang sangat kesakitan. Walau wajah Kyuhyun berusaha mati-matian menyembunyikannya, Seohyun tetap dapat melihatnya. Kyuhyun hanya menganggguk.

“Ya. Tentu saja. Kita akan bertemu lagi di atas helikopter nanti,” ujar Kyuhyun. Seohyun masih saja memandangi wajah Kyuhyun. Kyuhyun meyakinkannya dengan mengangguk.

Kemudian Seohyun mulai berusaha menaiki tangga tali secara perlahan. Kakinya agak gemetar. Ia harus berpegangan pada bahu dan juga tangan Kyuhyun untuk menguatkan dirinya.

“Aku sedikit takut,” ujar Seohyun memandangi Kyuhyun lagi.

“Kau tidak boleh takut, aku akan membantumu,” Kyuhyun berkata dengan manis. Kata-kata itu membuat Seohyun seperti terhipnotis. Seohyun kemudian melangkah naik lagi. Mencoba untuk tidak melihat ke bawah. Kemudian, Seohyun merasakan sesuatu akan terjadi dengan balon udara itu. Sepertinya balon udara itu akan terperosok jatuh.

“Kyuhyun-sshi! Cepat naik!” pekik Seohyun panik. Balon udara itu sepertinya benar-benar akan segera jatuh.

“Tidak apa-apa, jangan berhenti! Kau harus sampai dulu!” Kyuhyun rasanya tidak bisa menaiki tangga tali itu karena sakit dipinggangnya makin menusuk dan menjadi-jadi.

“Kau harus naik! Harus naik! Balonnya akan jatuh!!!” Seohyun malah berteriak-teriak. Wajah Seohyun begitu panik dan pucat. Saat itu Kyuhyun menjadi terhenyak. Tim SAR pun menyarankan agar Kyuhyun ikut naik dibawah Seohyun.

“Kalau begitu cepatlah!” ujar Kyuhyun akhirnya. Seohyun bergegas mempercepat lajunya dengan tangan yang semakin gemetar. Kyuhyun sudah meraih tali dibawah Seohyun dengan tangannya. Seohyun ingin mempercepat langkahnya untuk terus naik dan berusaha tidak menengok Kyuhyun dibawahnya.

Bertepatan dengan langkah Seohyun ke anak tangga tali berikutnya, sesuatu terdengar jatuh ambruk dan menyusul sesuatu yang terdengar jatuh terperosok dan berdebam. Seohyun melongok ke bawah dengan amat terkejut.

“KYUHYUN-SSHIIIIIIII!!!!” teriak Seohyun histeris saat mengetahui Kyuhyun tidak ada lagi dibawahnya.

“Kyuhyun-shiii,” wajah Seohyun menjadi lebih pucat dari sebelumnya. Ia menatap balon udara yang meluncur turun, mencari-cari Kyuhyun yang tertutup balon dengan bentuk aneh itu.

“Nona, cepatlah naik, agar kami bisa menyelamatkan temanmu!” Seru Tim SAR.

“Kyuhyun-shi,” airmata Seohyun mulai jatuh perlahan. Ia tahu Kyuhyun sedang sangat kesakitan. Ia seharusnya membiarkan Kyuhyun naik ke tali tangga penyelamatan terlebih dahulu. Kondisinya saat ini lebih baik daripada Kyuhyun. Ia terus memandangi balon udara yang menutupi bilik balon udara sehingga hanya parasut lebar yang terlihat.

“Kami pasti akan menyelamatkan temanmu!” Seru Tim SAR sekali lagi. Seohyun mulai menguatkan dirinya dan berusaha dengan susah payah untuk melangkah naik. Kakinya kini terasa sangat sakit.

~~

Sementara itu, Kyuhyun yang tadi merasakan sakit luar biasa dan akhirnya tergelincir jatuh, tidak sempat berteriak lalu jatuh dan masuk kembali ke dalam kotak balon udara, kini tergeletak pingsan. Keadaannya sangat buruk dengan patah tulang pinggang yang semakin parah, dan ia masih tertimpa tepi besi tempat gas balon udara berada. Sungguh malang sekali nasibnya. Balon udara yang benar-benar mengerikan!

~~

Seohyun sudah berada di dalam helikopter. Tubuhnya lemas dan tidak berdaya. Salah satu Tim SAR bergegas turun melalui tali tangga yang tadi untuk menyusul dan. menyelamatkan Kyuhyun.

“Tolonglah selamatkan nyawanya,” Seohyun berkata lemah.

“Kami pasti akan berusaha sebaik-baiknya,” ujar Tim SAR itu. Seohyun mengucapkan terima kasih dan melantunkan do’a dalam hatinya.

Setelah Tim SAR itu sampai di bawah, ia kemudian mulai mencari keberadaan Kyuhyun yang terbenam dalam lautan parasut balon udara. Tim SAR pun terpaksa menyobek bagian-bagian parasut itu agar cepat menemukan Kyuhyun.

“Astagaaa,” Tim SAR itu menemukan kepala Kyuhyun yang berdarah dan tubuhnya lebam di sana-sini.

Seohyun memandangi itu dari atas helikopter dengan hati teriris-iris. Tidak jelas apa yang terjadi di bawah sana, namun sepertinya keadaan Kyuhyun sangat mengkhawatirkan.

“Kyuhyun-sshi,” mulutnya tidak berhenti mengucapkan nama Kyuhyun.

“Aku akan menghubungi regu penyelamat darat untuk membawa tandu kemari. Sebaiknya cepat koordinasikan dengan yang lain. Aku akan tinggal dengan korban di sini dan memberikan pertolongan pertama semaksimal mungkin.”

Tim SAR di dalam helikopter menerima pesan singkat dari bawah sana. Seohyun terus memandangi keadaan Kyuhyun yang sepertinya sangat mengenaskan di bawah sana. Helikopter yang menyelamatkan Seohyun bergegas menaati instruksi yang diberikan dan mulai terbang menjauh.

“Kyuhyun-sshii, kita harus secepatnya bertemu kembali…,” airmata Seohyun meleleh lagi, hatinya begitu terguncang dan dadanya jadi sesak memikirkan segala kemungkinan yang mungkin terjadi. Seohyun memandangi pohon tempat mereka tersangkut dengan hati yang begitu hampa.

~~

Seohyun tidak mendapat kesempatan untuk bertemu Kyuhyun selanjutnya setelah penyelamataan itu. Ia habis-habisan dimarahi Seo In-guk dan In-guk bersikeras agar mereka harus segera pulang ke Seoul. Seohyun tidak lagi berani melawan kakaknya kali ini.

“Mengapa kau begitu ceroboh?! Apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu?!” bentak In-guk.

“Geundae, aku masih ingin di sini, Oppa,” rajuk Seohyun berusaha merayu kakaknya, sambil memijit kakinya yang masih sedikit nyeri. Setelah turun dari helikopter, ia langsung dilarikan ke rumah sakit dan ia terus menanyakan keadaan Kyuhyun pada orang yang sekiranya mengetahui kondisi Kyuhyun. Mereka bilang Kyuhyun di rawat rumah sakit yang lain, yang terdekat dari lokasinya saat itu. Seohyun mendesah begitu kecewa.

“Pikirkan keadaanmu! Aku tidak mau lagi kau kenapa-kenapa. Kita pulang saja,” In-guk berkata tegas.

“Tapi, dia pasti membutuhkan aku dan ingin melihatku,” bela Seohyun.

“Dia siapa? Bukankah keluargamu jauh lebih penting dibandingkan dengan orang lain?” In-guk menatap wajah Seohyun dengan pandangan tajam.

Seohyun tidak bisa lagi mendebat perkataan kakaknya setelah berjam-jam ia menerima omelan dan kemarahan kakaknya sejak di rumah sakit sampai dengan di apartemen kakaknya sekarang ini.

Seohyun memandangi layar ponselnya, ia mencoba menghubungi ponsel Kyuhyun yang tidak aktif dan Seohyun mendesah kecewa lagi.

“Kemana orang sombong itu pergi? Apakah dia juga pulang ke Seoul?” tanya Seohyun. Ia teringat pada Yong Hwa. Siapa tahu saja ia bisa mendapat keterangan dari Yong Hwa perihal keadaan Kyuhyun.

“Ia juga akan pulang bersama kita. Kau akan duduk sebangku dengannya,” ujar In-guk santai.

“Mwooo?” Seohyun mendadak terkejut.

~~

Seohyun benar-benar duduk disamping Yong Hwa di dalam pesawat yang akan membawa mereka pulang ke Seoul. Sedang In-guk memilih bangku dibelakangnya. Seohyun berkali-kali menoleh In-guk dengan pandangan tidak mengerti.

Yong Hwa dengan sikap elegannya menikmati perjalanan dengan membaca majalah TIME. Seohyun terus mengamatinya dengan gelisah. Yong Hwa baru menyadari sikap Seohyun yang tidak tenang disampingnya setelah gadis itu berusaha menarik perhatiannya dengan menghembuskan nafas yang sedikit keras.

“Kau kenapa?” tanya Yong Hwa.

“Kenapa?! Apakah kau sama sekali tidak cemas akan keadaan Kyuhyun-sshi?” tanya Seohyun dengan nada setengah kesal yang disimpannya sejak tadi.

“Ada apa dengan dirimu? Bukankah rumah sakit sudah mengurusnya? Aku hanya perlu membayarnya dari asuransi perusahaanku. Ia bisa pulang kalau ia sudah pulih,” ujar Yong Hwa dengan sikap santai.

“Dia terluka parah! Lagipula dia itu saudaramu sendiri! Harusnya kau menemaninya sekarang ini!” teriak Seohyun dengan jengkel. Seisi penumpang pesawat yang merasa terganggu karena suaranya mulai menoleh kearahnya. Seohyun akhirnya sadar akan sikapnya yang berlebihan dan segera meminta maaf.

“I am so sorry,” ujar Seohyun sopan menoleh ke arah penumpang-penumpang itu. Yong Hwa kini menatap Seohyun dengan pandangan lebih kesal.

“Sungguh gadis tidak punya sopan santun,” ujar Yong Hwa. “Apa pedulimu dengan Kyuhyun? Tsk-tsk-tsk,” Yong Hwa berdecak heran.

“Kau sungguh manusia yang tidak berperasaan!” Seohyun balas berdecak jengkel.

“Seohyun!” bentak In-guk dibelakangnya. Seohyun menjadi terdiam dan kemudian memilih memejamkan matanya. Ia berusaha untuk menghipnotis dirinya sendiri agar ia bisa segera tertidur.

Tidak beberapa lama, Seohyun benari-benar mulai tertidur dan akhirnya ia mulai bermimpi. Mimpi itu sangat buruk. Ia dan Kyuhyun sedang berada di atas awan putih yang dihujani panah dari bawah sehingga awan putih itu menjadi berlubang di sana-sini. Kyuhyun mendekap erat tubuh Seohyun dan mencoba menghalangi anak panah yang hendak mengenai tubuh Seohyun. Tubuh Kyuhyun berkali-kali menerima lintasan anak panah yang mulai menggores kulit di tubuhnya.

“Aku akan melindungimu…,” ujar Kyuhyun lembut ditelinga Seohyun. Kemudian Seohyun terbangun perlahan tanpa rasa kaget sama sekali. Perasaannya kini mulai hampa.

“Kyuhyun-sshi…,” mulut Seohyun menggumam pelan. Ia sangat ingin berada disamping Kyuhyun saat ini. Sangat ingin. Seandainya Kyuhyun masih pingsan, maka Seohyun akan menggenggam tangannya dengan erat sampai Kyuhyun terbangun. Seandainya Kyuhyun dalam keadaan sadar, Seohyun ingin memandangi wajahnya dan mengajaknya berbicara hal-hal kecil. Seperti betapa senangnya Seohyun bisa bertemu dengan seseorang seperti Kyuhyun, atau betapa Seohyun ingin memiliki Istana Lollipop dan Kyuhyun menjadi Pangeran di istana itu, atau Seohyun ingin mendengar cerita-cerita Kyuhyun soal kehidupannya yang belum sempat ia dengar. Seohyun juga ingin merencanakan pertemuan di cafe kecil dekat bandara atau berjalan-jalan bersamanya di taman kota…

Seohyun tersenyum kecil membayangkan hal itu. Dan, hatinya hampa kembali saat ingat ia sama sekali tidak mengetahui keadaan Kyuhyun saat ini.

~~

Kyuhyun terbangun sendirian dalam dingin dan dalam keremangan lampu rumah sakit. Ia memandang ke sekelilingnya yang sedikit gelap. Seorang suster jaga ternyata menungguinya disamping tempat tidurnya.

“Kau sudah bangun?” suster itu tersenyum manis. Kyuhyun memandangnya.

“Kau dari Korea?” tanya Kyuhyun sejenak mencoba melupakan rasa sakitnya.

“Ne. Karena semangat cinta kasih dan kebangsaan, aku menungguimu hingga kau tersadar,” suster itu berusaha mengajak bergurau.

Kyuhyun termangu.

“Dimana kekasihku?” Kyuhyun bertanya.

“Kekasihmu?” tanya suster cantik itu menjadi keheranan. Ada letupan kecil terjadi dihatinya.

“Benar. Kekasihku tidak menungguiku?” tanya Kyuhyun lagi.

“Mianhe, tapi kau diantarkan sendirian oleh Tim SAR kemari. Cideramu sangat parah. Dan, tidak ada yang menemanimu sejak kedatanganmu ke rumah sakit sampai dengan saat ini,” jelas suster itu.

Kyuhyun mendadak bersedih. Sungguh tega gadis itu kepadanya. Mengapa ia meninggalkan dirinya sendirian? Mengapa gadis itu tidak menungguinya? Apakah gadis itu tidak mencintainya? Apakah gadis itu tetap memilih lelaki itu dibanding dirinya? Wajah Kyuhyun sangat murung dan ia berusaha melupakan rasa sakit dihatinya. Rasa sakit dihatinya lebih sakit daripada rasa sakit yang kini sedang menusuk pinggangnya. Ia ingin tertidur saja selamanya.

“Aku Park Eun Ri. Jika kau butuh sesuatu, kau bisa memanggilku.” Suster itu melihat Kyuhyun yang sepertinya ingin tidur kembali. Eun Ri segera melangkah keluar dari ruangan Kyuhyun.

Kyuhyun dengan wajah yang murung mulai menitikkan airmata karena rasa sakit dihatinya yang tak kunjung sembuh. Gadis itu tidak pernah mencintainya…

~~

~to be continued…

Fanfiction SeoKyu “Love in Balloon” Part 2

“Love in Balloon”

~Part 2~

Review cerita sebelumnya:

Seohyun sedang mengunjungi kakaknya, Seo In-guk yang menempuh studi di Melbourne. Mereka pun pergi ke sebuah perayaan festival balon udara. Di sana mereka bertemu Yong Hwa secara tidak sengaja, direktur muda yang sedikit arogan. Di sisi lain, Kyuhyun, sekretaris Yong Hwa ditugasi untuk mengurus lomba balon udara yang mereka ikuti. Seharusnya Yong Hwa yang terbang dengan balon udara pada festival tersebut, tetapi Yong Hwa menolak dan menyuruh Kyuhyun untuk terbang. Seohyun yang mendengar kesinisan Yong Hwa tanpa berpikir panjang ikut terbang bersama Kyuhyun. Kyuhyun pun dibuat terkejut dengan kehadiran Seohyun. Mereka yang sebenarnya sama-sama malu-malu akhirnya mulai berkenalan.

“Aku Jo Seohyun, namamu siapa?” tanya Seohyun sambil tersenyum amat manis pada Kyuhyun.

“Kyuhyun. Cho Kyuhyun,” ucap Kyuhyun dengan tersenyum sambil melihat ke arah api yang menjaga balon untuk tetap terbang dengan baik.

Seohyun mengangguk-angguk sambil memandang ke bawah dan ke kejauhan dengan takjub. Dilihatnya di bawah sana, kakaknya, In-guk dan juga Yong Hwa masih melambai-lambaikan tangannya dengan panik. Sejak tadi ia tidak menyadari bahwa ia telah kabur dari pengawasan kakaknya. Ia tertawa dan balas melambaikan tangannya dengan senang dan sangat antusias.

“Geunde, apa hubunganmu dengan Yong Hwa-sshi?” tanya Kyuhyun pada Seohyun. Masih penasaran dengan kemunculan gadis ini yang sangat tiba-tiba.

“Haha. Sebenarnya aku baru bertemu dengannya tadi. Aku merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan sehingga dia tidak mau terbang,” ucap Seohyun polos.

Kyuhyun tertawa kecil.

“Tentu saja. Siapa yang mau naik benda jelek seperti ini?” Kyuhyun akhirnya tertawa.

“Apa maksudmu?”

“Jika kau melihat dengan teliti, balon ini bentuknya tidaklah bagus. Seperti kau tahu bahwa balon ini adalah berbentuk wajah Yong Hwa. Telinga dari Yong Hwa tidak presisi satu sama lain.”

“Aku curiga ada maksud lain dibalik itu,” sahut Seohyun.

“Aku beritahu padamu. Aku yang mendesainnya. Aku yang menjahitnya bersama tukang jahit balon gas ternama, aku yang mengacaukan nama perusahaan Jung Yong Hwa. Matilah aku jika aku turun nanti!” ujar Kyuhyun.

Seohyun malah tertawa-tawa.

“Sepertinya kau punya dendam pribadi padanya,”

“Sebenarnya tidak ada,” Kyuhyun berbohong.

Keduanya terdiam. Beberapa saat merasakan kecanggungan di antara mereka berdua karena mereka sebenarnya belum terlalu saling mengenal satu sama lain.

“Aku pikir kau ada sesuatu dengan Yong Hwa-sshi,” Kyuhyun merasa mulai kehabisan bahan obrolan.

“Anio-aniooo,” Seohyun tertawa dengan malu. “Aku sama sekali baru bertemu dengannya tadi, berpikir kesana pun aku tidak.”

“Berarti aku cukup beruntung kau mau menemaniku di sini. Aku pikir aku akan terbang sendiri karena kedua temanku tidak mau,” Kyuhyun tertawa manis.

Seohyun balas tertawa. Mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

“Kau mau lolipop?” tawar Seohyun pada lelaki sebelahnya yang kini tidak terlalu sibuk mengendalikan balon udara. Wajah Kyuhyun berseri entah untuk alasan apa.

“Apa ini? Permen?” Kyuhyun menerima permen pemberian Seohyun dan membuka bungkusnya. Seohyun senang orang disebelahnya ini mau memakan lolipop kesukaannya.

“Kau bekerja?” tanya Kyuhyun.

“Ne. Usai kuliah aku kini bekerja.” Jawab Seohyun pendek.

Beberapa saat mereka terdiam…. Mereka sedang menikmati pemandangan yang membentang di sekitar mereka. Tampak deretan kota Melbourne yang semakin mengecil di bawah sana. Tampak pula barisan hutan dan pegunungan jika mata memandang ke kejauhan. Angin bertiup semakin kencang karena mereka terbang semakin tinggi.

Seohyun merapikan rambut panjangnya yang terbang tertiup angin. Ia menatap Kyuhyun yang tampak seperti melamun dan membayangkan sesuatu sambil menyesap lolipop dimulutnya. Tampangnya lucu sekali.

~~

“Apakah adikku akan aman di atas sana bersama karyawanmu?” tanya In-guk dengan wajah cemasnya. Yong Hwa menoleh dengan sedikit canggung.

“Tentu saja. Tidak usah khawatir, dia pengemudi balon terbang profesional,” ujar Yong Hwa pelan dengan nada tidak yakin. Dalam hatinya ia sendiri ragu apakah sepupunya itu benar-benar mampu terbang dengan baik? Sepertinya hanya sepupunya dan Tuhan yang tahu.

“Jika adikku terluka sedikit saja, kau akan menanggung akibatnya!” ancam In-guk dengan nada yang semakin tidak main-main.

“Kenapa kau menyalahkanku? Bukankah dia sendiri yang ingin terbang?” Yong Hwa bergumam kesal dan memandang ke arah lain saat In-guk memelototinya.

~~

Balon udara yang aneh itu terus terbang di ketinggian. Sudah dua puluh menit mereka berputar-putar dan terbang di udara mengitari kota Melbourne. Saatnya mereka harus bersiap untuk turun.

Kyuhyun mengecilkan api di tungku pembakaran untuk membuat laju balon udara melambat dan perlahan akan menurun.

Seohyun bersiap-siap dan memandangi lapangan di bawah sana yang akan menjadi landasan untuk berhenti.

Tetapi…

Entah apa yang terjadi dalam hitungan menit, balon udara itu malah terbawa angin agak menjauh dari tempat yang diperkirakan untuk mendarat dan sepertinya pendaratan ini tidak akan bisa berjalan mulus.

Dada Kyuhyun mulai berdebar dengan kencang. Debarannya melebihi saat pertama kali dirinya melihat Seohyun tadi.

“Apa yang terjadi?!” tanya Seohyun sedikit panik saat ia merasakan goncangan kecil di tempatnya berdiri. Kyuhyun tidak menjawab agar tidak menambah kepanikan Seohyun. Ia terus berusaha mengendalikan laju balon udara ke tempat sebagaimana-mestinya yang sudah dipersiapkan untuk balonnya mendarat.

“Aku merasa sudah melakukan segala sesuatunya dengan benar,” ucap Kyuhyun berusaha mengingat sesi latihan menerbangkan balon udara beberapa waktu yang lalu.

Entah kenapa, balon udara ini malah semakin meliuk-liuk dan terbang menjauh dari tempat pendaratan. Helikopter yang memantau penerbangan balon-balon udara memberikan kode pada Kyuhyun agar ia mengikuti arah angin dan mengatur lagi nyala api di tungku pembakaran. Dengan bergegas, Kyuhyun berusaha mengecek nyala api dengan memandang ke atas. Ia benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi kini.

Seohyun berusaha bersikap tenang dan tidak panik walau di dalam hatinya, ia merasakan jantungnya berdebar tidak keruan. Apakah ia akan jatuh?! Apakah balon ini akan terbakar?! Seohyun langsung berdoa di dalam hati agar mereka baik-baik saja dan bisa mendarat dengan selamat. Ia mengingat wajah kakaknya yang baik dan kedua orang tuanya di Korea. Seohyun bergidik ngeri.

Namun, ternyata kemalangan memang hendak menimpa mereka berdua. Tepat, saat Seohyun mendongak, ia melihat balon udara ini mulai menepi ke atas pepohonan, entah kenapa mereka bisa secepat itu mencapai tepi hutan yang tadi sempat dilihatnya sangat jauh dari lapangan tempat seharusnya balon udara mereka mendarat.

“Jeongmal-joesong-hamnidaaa,” Kyuhyun memohon maaf pada Seohyun yang tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Wajahnya pucat pasi dan bibirnya sudah tampak memutih karena sangat takut.

Mereka akan jatuh!

Sebelum mereka sempat menyadari apa yang benar-benar akan terjadi pada mereka dan belum sempat mereka mempersiapkan diri untuk jatuh, balon udara yang teramat lebar itu mulai merangsek dan parasutnya hampir jatuh.

“Aaaaaaaaa!” Seohyun menutup matanya dan balon besar itu pun dengan sukses tersangkut di atas pohon pinus besar dan sangat tinggi. Kyuhyun secara refleks memeluk tubuh Seohyun seerat-eratnya. Seohyun makin keras berteriak. Mereka merasakan keranjang yang saat ini memuat tubuh mereka akan segera jatuh dengan sempurna.

Tapi, ternyata mereka tetap tersangkut di ketinggian pohon pinus besar itu.

Dengan tubuh gemetar, Seohyun membuka mata. Kyuhyun perlahan juga melepaskan pelukannya terhadap Seohyun.

“Apa yang terjadi?” Seohyun memandang sekeliling. Tidak sadar dengan apa yang telah terjadi padanya dalam sepersekian detik tadi.

“Dengan amat menyesal, aku harus mengatakan kita terjatuh dan tersangkut di atas pohon,” ucap Kyuhyun dengan nada sangat prihatin dan menyedihkan. Rasanya ia seperti orang yang paling bodoh dan rasanya ia ingin menangis saja.

Seohyun melongo. Memandang sekeliling. Ia merasakan tubuhnya yang sakit sekali. Apakah ia sempat terluka? Kakinya sakit sekali dan tak bisa digerakkan.

“Kakiku sakit sekali…,” keluh Seohyun mulai meringis kesakitan. Kyuhyun merasa tidak enak mendengarnya.

“Apakah kakimu patah?!” tanya Kyuhyun dengan nada sangat khawatir. Ia pun merasa pinggangnya akan patah tapi ia sekuat tenaga menahan rasa sakitnya. Ia lebih khawatir lagi karena gadis di depannya ini sama sekali tidak terlihat ingin marah.

“Aku tidak tahu, tapi rasanya sulit sekali digerakkan,” Seohyun mencoba untuk menggerakkan kakinya dan rasanya sungguh terasa nyeri.

Kyuhyun mencoba bergerak. Pinggangnya seperti patah menjadi beberapa bagian dan rasanya ngilu. Tapi ternyata, gerakan sedikit saja, membuat keranjang itu oleng karena berat mereka dan posisi mereka yang demikian mengkhawatirkan keadaannya.

“Kita harus berhati-hati!” Pekik Seohyun sedikit panik lagi. Ia mulai meringis lagi. Kyuhyun dibuat tidak berdaya melihat wajah Seohyun.

“Sebenarnya apa pekerjaanmu?” tanya Kyuhyun berusaha mengabaikan kemungkinan Seohyun yang akan marah, sekaligus mengabaikan rasa sakit dipinggangnya.

“Kenapa kau menanyakan hal itu di saat seperti ini?” tanya Seohyun tidak mengerti.

“Kau tampak sangat tenang dan tidak khawatir,” ucap Kyuhyun.

“Sebenarnya aku sangat takut. Tapi, aku berusaha mati-matian menahan diri,” jelas Seohyun. “Aku seorang pramugari.”

Kyuhyun membulatkan mulutnya. Pantas saja Seohyun tampak terlatih menguasai diri.

“Oh, Tuhan…,” keluh Kyuhyun merasa tidak sanggup merasakan sakit dipinggangnya.

“Waeyo?” cemas Seohyun. “Apakah kau terluka?” Seohyun berusaha mengetahui kondisi Kyuhyun. Kyuhyun melambaikan tangannya menandakan bahwa Seohyun tidak perlu khawatir. Tapi, Seohyun melihat bahwa Kyuhyun sangat kesakitan luar biasa. Bahkan sakit dikakinya sudah bisa diatasinya, tapi sekarang ia tidak tahan melihat wajah Kyuhyun seperti itu.

“Kau harus melihat cideramu!” teriak Seohyun. Kini Kyuhyun tampak mencoba bertahan dengan posisi tidak bergerak agar tidak mengubah posisi keranjang balon udara. Kyuhyun sungguh tidak kuat menahan sakit ini.

Perlahan Seohyun memberanikan diri menyentuh pinggang Kyuhyun dan memastikan keadaan Kyuhyun. Kyuhyun hampir pingsan karena rasa sakit yang begitu luar biasa.

“Bukalah sedikit pakaianmu,” ujar Seohyun.

“Mwo?” ujar Kyuhyun pelan.

“Kau harus melihat seberapa parah cideramu,” ujar Seohyun.

Ragu-ragu Kyuhyun bergerak.

“Kau hanya harus melihat seberapa parah lukamu,” ujar Seohyun lagi.

“Bagaimana dengan kakimu?” tanya Kyuhyun.

“Aku baik-baik saja. Sepertinya tidak terlalu parah. Kau sendiri harus mengkhawatirkan keadaanmu,”

Kyuhyun menjadi terdiam. Ia membuka sedikit kemejanya. Seohyun menatap pinggang Kyuhyun yang terbuka.

“Ya Tuhan…,” Seohyun menutup mulutnya. Luka itu berwarna lebam biru keunguan dan hampir menghitam.

“Itu pasti rasanya sakit sekali,” ujar Seohyun. Kyuhyun hanya dapat meringis menahan rasa sakit yang begitu menusuk. Ia memejamkan mata. Ia mendengar Seohyun membuka sesuatu tapi ia tidak sanggup bertanya karena rasa sakit dipinggangnya semakin menusuk. Seakan tulang ingin mencuat keluar menembus pinggangnya.

Tiba-tiba Kyuhyun sedikit terkejut karena bagian pingggangnya terasa sangat dingin.

“Kau mengobatiku?” tanya Kyuhyun pada Seohyun.

Seohyun sebenarnya hanya mengoleskan krim pelembab wajahnya pada pinggang Kyuhyun. Tentu saja itu tidak akan menyembuhkan memar dan lebam tapi setidaknya bisa membantu Kyuhyun untuk melupakan rasa sakit.

“Aku bukan dokter ortopedi,” ujar Seohyun. “Tapi, aku tahu, ini pasti sangat sakit sekali buatmu,” lanjut Seohyun lagi.

Kyuhyun terdiam. Tapi, rasanya sangat aneh. Tangan Seohyun dingin. Atau lebih tepatnya, menentramkan. Sentuhan itu begitu menentramkan. Tangan Seohyun yang mengoleskan krim itu terasa dingin di kulitnya dan itu benar-benar menentramkan. Pertama kalinya Kyuhyun mendapat sentuhan langsung dari seorang gadis dewasa. Ia bahkan merasa sangat berdebar karena sentuhan lembut itu. Bagaimana ini? Ia pasti akan merasa sangat ketagihan akan perasaan semacam ini. Kyuhyun mencoba menahan nafas sekaligus menahan rasa sakit.

Seohyun terus menatap luka lebam di pinggang Kyuhyun dengan pandangan bertanya, apakah rasanya sakit sekali? Ia ingat In-guk pernah jatuh dari tangga saat mengecat rumah dan pinggangnya pun lebam karena mengalami patah tulang. Seohyun menyaksikan sendiri bagaimana In-guk hanya terus meringis kesakitan selama seminggu lebih.

Saat pandangan Seohyun dan Kyuhyun bertemu, mereka seperti menemukan sesuatu dalam hati mereka masing-masing. Tangan Seohyun pun berhenti menyentuh pinggang Kyuhyun. Kyuhyun merasa aneh saat tangan lembut itu berhenti menyentuhnya.

~to be continued… Cieee yang seneng baca SeoKyu mesra2an cieee ๐Ÿ˜€

Fanfiction SeoKyu “Love in Balloon” Part 1

Cast: Kyuhyun, Yong Hwa, Seohyun, Seo In-guk, Donghae, Eunhyuk dan lain-lain menyusul cast-nya (sesuai mood) XD

Disclaimer: Ini hanyalah fiksi semata. Dibuat untuk fans SeoKyu dimanapun berada. Saranghae :*

^Part 1^

Di sebuah festival balon udara, Seohyun bersama kakaknya, Seo In-guk, mengikuti festival itu dalam liburan mereka di Melbourne. Drum mulai ditabuh memeriahkan acara yang diikuti berbagai negara dari seluruh dunia.

“Whaaa, Oppa, lihat itu! Bagus sekali!” Seohyun menunjuk ke udara dengan takjub. Sebuah balon udara yang sangat besar berbentuk wajah seseorang tampak mengapung, meliuk-liuk dengan lemah gemulai.

“Apa itu?! Narsis sekali,” sinis In-guk setelah melihat arah yang ditunjuk adiknya.

“Heiii, kau lihat yang mana?! Maksudmu wajah narsis yang itu? Aku menunjuk sebelahnya,” ujar Seohyun.

Seo In-guk menatap ke langit lagi. Ia mendapati sebuah balon berbentuk lolipop yang sangat besar. In-guk tersenyum.

“Pantas saja, itu kan memang kesukaanmu,”

Seohyun tertawa.

“Aku masih tak habis pikir, siapa yang dengan teganya memasang wajahnya sendiri pada balon udara itu?” tanya In-guk entah pada siapa.

“Bukankah ia seperti orang Korea, Oppa?” tawa Seohyun.

“Aku pikir juga begitu,” sambut In-guk.

“Oppaaa!!! Belikan aku lolipop!” teriak Seohyun saat melihat dari kejauhan, bahwa di festival itu juga ada stand penjualan beraneka jenis barang dan makanan. Termasuk lolipop kesukaan Seohyun. Seohyun sudah berlari-lari kecil menuju sebuah stand.

“Yaaa! Kau kan bisa beli sendi…,”

“BRUGGGHH!” bahu In-guk mengenai bahu seseorang yang melintas disampingnya.

“Pardon,” In-guk membungkukkan badan, meminta maaf dalam bahasa asing. Lelaki itu hanya tersenyum dengan sopan. In-guk segera berlari menyusul adiknya. Kemudian, ia menyempatkan diri menoleh ke seseorang yang barusan ditabraknya.

“Wajahnya tampak sangat tidak asing,” gumam In-guk sambil berpikir apakah ia pernah bertemu dengan orang itu sebelumnya.

^^

Seorang laki-laki berusia sekitar 26 tahun sedang bersiap-siap menyalakan kipas angin besar untuk memompa udara ke dalam balon besar berhelium itu. Dengan wajah memerah dan tubuh berkeringat ia berusaha membuat udara masuk ke dalam
balon. Ia menjaga laju kipas angin agar selalu bergerak dan terarah ke dalam balon udara. Ia duduk di sebuah kursi kecil dan menjaga kipas angin.

“Kyuhyun-ah, apakah semua sudah siap?” tanya seseorang yang begitu tinggi dan tampan.

“Joesong-hamnida,” ujar Kyuhyun sopan, “Seperti kau lihat sendiri, aku sedang berusaha meniupkan udara ke dalam balonnya, sebelum aku melakukan pembakaran, Sajang-nim,” tambah Kyuhyun berusaha kalem.

“Aku tidak melihat kau sedang meniup balon itu,” Yong Hwa mengecek pekerjaan Kyuhyun.

Kyuhyun menghela nafas.

“Apakah aku harus meniup balon raksasa ini dengan menggunakan mulutku?” tanya Kyuhyun dengan wajah nyinyir.

Yong Hwa hanya mengangguk-angguk, meneliti sekali lagi pekerjaan Kyuhyun. Ia pun berlalu dan pergi berjalan-jalan lagi meninggalkan Kyuhyun. Kali ini ia ingin pergi ke stand permen.

“Lantas kemudian apakah aku harus benar-benar membakar balon bertampang buruk ini?” Kyuhyun menggerutu dan mulai bersiap menarik tuas pemantik pemanas balon gas. Percikan api mulai keluar dan api sedang pun keluar dari ujung pemantiknya. Api mulai merayap menuju ke tengah balon yang sudah menggelembung.

“Jinjjaaa, ingin kubakar saja balon ini. Tsk,” Kyuhyun dengan putus asa melihat balon di depannya yang mulai menunjukkan ‘wajah’ aslinya. Benar-benar wajah seorang Direktur Utama narsis bernama Yong Hwa. Tapi, dalam hati ia tersenyum puas.

Sudah satu tahun ini Kyuhyun bekerja menjadi sekretaris Yong Hwa dan harus mendampingi kemanapun Yong Hwa pergi, termasuk mengikuti Festival Balon Gas di negeri Kangguru ini.

Kyuhyun pun ditunjuk menjadi tim sukses dari perusahaan Jung Hwa Group untuk mengikuti perayaan ini. Dari mulai mempersiapkan materi, mendesain balon udara, membantu menjahit balon dan mengerjakan semuanya. Ini benar-benar sangat merepotkan dan Kyuhyun merasa sangat diperbudak.

Kyuhyun sengaja memilih bentuk balon yang tidak biasa, agar Jung Hwa Group tidak terpilih dalam daftar pemenang lomba. Namun, sepertinya Yong Hwa tampak senang-senang saja dan tidak menyadari bahwa Kyuhyun sedang mengerjainya.

Selama ini Kyuhyun menahan diri agar tidak marah. Ia adalah adik sepupu terdekat dari Yong Hwa, tapi ia sama sekali tidak pernah diperlakukan seperti layaknya saudara. Kyuhyun merasa harga dirinya terlalu tinggi untuk disia-siakan. Mentang-mentang ia berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, ia selalu dipandang remeh oleh keluarga Yong Hwa.

Kyuhyun memperhatikan nyala api dari pembakaran, setengah jam lagi balon akan segera terangkat dan Yong Hwa harus berada di atas balon untuk mengendarainya, mengikuti lomba.

^^

“I want this candy,” ujar Yong Hwa, menunjuk permen berwarna merah muda. Seohyun mendongak.

In-guk pun menoleh ke arah Seohyun. Mereka saling berpandangan sejenak.

“I’m so sorry, I’m not a salesgirl,” ucap Seohyun sopan diiringi senyum ramah. Ia hanya sedang berdiri dibalik stand untuk melihat-lihat.

“Sorry, but your aprons?” Yong Hwa bertanya lagi, ia menunjuk ke baju Seohyun. Seohyun melongo dibarengi dengan senyum In-guk yang tertahan. Seohyun meneliti pakaiannya dan menarik nafas pendek.

“This is a latest fashion trends, didn’t you know?” Seohyun berusaha menjelaskan bahwa yang dimaksud Yong Hwa sebagai ‘celemek’ dipakaiannya adalah mode terbaru fashionita. Saat In-guk meneliti pakaian yang dikenakan adiknya, itu memang seperti celemek, ia pun mati-matian menahan tawa.

“Oh, sorry. Maybe I should buy a Chefs-latest trends.” Ujar Yong Hwa sambil langsung mengambil permen yang diinginkannya.

In-guk tak kuat lagi menahan tawa. Ia membayangkan pria di depannya mengenakan pakaian a la koki restoran dengan topi di kepalanya. Seohyun mengerucutkan bibirnya.

“…with a hat in my head,” lanjut Yong Hwa sambil meringis dan menyesap permennya.

“Hahaha, you’re kindly funny. Where did you come from?” Akhirnya In-guk pun tertawa sambil menawarkan keramahannya.

“Oh, I’m from Korea. Are you come from same country with me?” tanya Yong Hwa.

“Ne. Annyeong-haseyo. Perkenalkan, aku Seo In-guk dan dia adikku, Seohyun. Senang bertemu denganmu. Rasanya kita pernah bertemu sebelum ini,” ujar In-guk.

Yong Hwa mencoba mengingat-ingat.

“Aaaa, kita bertemu tadi! Saat bertabrakan! Aku Jung Yong Hwa,” Yong Hwa menjabat tangan In-guk.

‘Bertabrakan?’ Seohyun bertanya dalam hati.

“Benar sekali!” ujar In-guk makin melebarkan senyumnya. “Kita memang berjodoh,” ujarnya.

‘Berjodoh?!’ Seohyun berkata tidak percaya. Meragukan kewarasan kakaknya.

Yong Hwa mengangguk-angguk.

“How much I should pay?” tanyanya lagi pada penjaga stand yang sebenarnya.

“It’s free for a member of festival, Sir. Thank you for visiting,” penjaga stand membungkukkan badannya dan tersenyum ramah.

“Oh, thank you very much,” ujar Yong Hwa.

“Whaaa, kau bisa mendapatkannya gratis. Permen ini cukup mahal,” Seohyun melirik permen ditangannya.

Yong Hwa menunjukkan ID Card yang tergantung dilehernya dengan wajah bangga. Seohyun mencibir kecil.

“Karena aku peserta festival. Oh ya, kalau begitu, apakah kalian bukan peserta festival ini?” tanya Yong Hwa pada In-guk dan Seohyun.

“Anio, kami hanya kebetulan sedang berlibur. Aku sedang menyelesaikan studiku di University of Melbourne dan adikku mengunjungiku kemari,” jelas In-guk. Yong Hwa mengangguk-angguk mendengar penjelasan itu.

“Untuk mengambil gelar Strata 1 kau jauh-jauh datang kemari?” tanya Yong Hwa, bersikap sedikit meremehkan.

“Ani. Ia sangat cerdas. Ia sudah hampir meraih gelar Magister dan akan bekerja menjadi dosen di Korea sambil melanjutkan kuliah S3-nya,” Seohyun segera meralat tuduhan Yong Hwa dan menggandeng tangan kakaknya. In-guk tersenyum senang.

“Kalau begitu aku akan segera memiliki teman seorang doktor muda,” Yong Hwa tertawa.

“Kamshamnida untuk doanya,” ujar In-guk. Yong Hwa tertawa lagi.

“Geurae, karena kalian sedang berlibur, bagaimana jika kalian turut ikut terbang bersama dengan balonku?” tawar Yong Hwa.

“Senang sekali mendengarnya,” sambut In-guk yang sebenarnya ide itu diam-diam tidak disetujui Seohyun. Seohyun tidak merasa nyaman dengan orang tampan di depannya ini.

Namun, Yong Hwa terpana sesaat setelah melihat wajahnya maksudnya balonnya yang sangat jelek sekali dimatanya.

^^

“SAJAAANG-NIIIM, sajang-niiiiim!!!” seseorang berteriak dan melambai-lambaikan tangannya ke arah Yong Hwa. Seohyun, In-guk dan Yong Hwa melihat itu.

“KAU HARUS SEGERA NAIK!!! KAU HARUS SEGERA NAIK!!!” ujar seseorang itu makin berteriak, yang tidak lain tidak bukan adalah Kyuhyun.

“Mwooo?!” Yong Hwa yang malah hanya berdiri saja dan melihat dari kejauhan berpura-pura tidak mendengar.

Seohyun dan In-guk memandangi kejadian itu dengan wajah mereka yang sangat keheranan.

“KAU HARUS SEGERA NAIK!!!!!” Kyuhyun mengulangi lagi kata-katanya. Merasa hampir kehabisan nafas. Tangannya yang satu berusaha menahan laju angin yang kini sedang berusaha mengangkat keranjang balon gas atau tempat kendali balon, dibantu para kru lainnya. Tangannya yang satu lagi sibuk melambai-lambai memanggil bosnya yang sepertinya tampak sekali tidak mempedulikannya.

“PALLI!!!” ujar Kyuhyun menyuruh Yong Hwa agar bergegas.

“KAU SAJA YANG NAIK! KAU SAJA YANG NAIK!” Yong Hwa balas berteriak.

“MWOOO???!!!” Kyuhyun berteriak panik. Ia tidak mengerti maksud Yong Hwa.

“KAU SAJA YANG NAIK!!! AKU MENDUKUNGMU!!!” teriak Yong Hwa. Kyuhyun tampak berwajah bengong di depan sana dan itu membuat Yong Hwa tersenyum dengan lebar.

Tidak ada waktu lagi, harus ada orang yang segera menaiki balon udara ini, waktu perlombaan pun sudah di mulai, dan balon gas milik Jung Hwa Group ini menempati grup pertama yang balonnya harus segera diterbangkan.

Balon gas tidak bisa diterbangkan bersamaan terlalu banyak. Balon-balon gas akan terbang secara bergiliran. Waktu terbang di udara pun hanya dibatasi 15 sampai dengan 30 menit sesuai waktu tempuh reguler, menyesuaikan dengan ketersediaan bahan bakar. Selain itu juga untuk memberikan kesempatan balon-balon udara yang lain untuk terbang.

“Rasakan kau!!!” pekik Yong Hwa berusaha menahan tawa dengan wajah yang geram.

Seohyun mendengar jelas kata-kata itu dan menangkap sinyal yang berbahaya. Ia merasa tergugah untuk berbuat sesuatu.

^^

“Turunkan pemberatnya! Aku yang akan mengendarai balon ini!” ujar Kyuhyun pada teman-temannya.

“Ini berbahaya! Apakah kau sudah berlatih?!” tanya Donghae.

“Bukankah bos kita yang angkuh itu yang sudah belajar menerbangkan balon udara?” sela Eunhyuk, temannya yang lain.

“Sudahlah! Apakah kalian mau perusahaan kita dipermalukan?! Nampaknya ia memang hanya ingin mengerjai kita!” sungut Kyuhyun.

“Kau pikir siapa yang mengerjainya pertama kali?! Kau kan yang membuat desain balon sejelek ini?!” ujar Eunhyuk lagi setengah kesal. Kyuhyun balas menggerutu.

“Aku kan masih amatir, belum bisa membuat desain balon yang bagus,” Kyuhyun membela diri dan tersenyum kecut.

“Ia sedang balas dendam terhadap kita!” pekik Donghae.

“Aku tidak mau ikut terbang denganmu! Aku belum mau mati!” ujar Eunhyuk.

“Yaaa! Siapa yang mengajakmu untuk mati?!” teriak Kyuhyun.

“Baiklah, aku akan terbang sendiri. Biarlah aku mati seorang diri,” Kyuhyun pasrah pada nasib yang melanda dirinya.

“Kyuhyun-ah…,” Eunhyuk mulai merajuk dan meratap. Kyuhyun segera bersiap.

Pemberat mulai dijatuhkan satu-persatu, Kyuhyun sudah melompat ke dalam keranjang,

“Chakkamaaan!!!” seseorang asing tiba-tiba muncul sambil berlari-lari entah datang dari arah mana. Kyuhyun, Eunhyuk dan Donghae dibuat terpana karena kedatangan seseorang itu. Seseorang gadis yang sangat cantik menawan.

“Aku akan ikut naik denganmu!” ujar Seohyun dengan suara meyakinkan.

“Ne?” Kyuhyun melongo.

Seohyun minta segera dibantu naik ke dalam keranjang balon yang sudah setengah mengapung itu. Eunhyuk dan Donghae hanya bisa saling berpandangan dan menatap Kyuhyun.

“Berapa lama kita akan terbang?” tanya Seohyun.

“Se-setengah jam. A-agasshi, aku mohon jangan. Kau tidak ingin mati sia-sia, bukan?” pinta Kyuhyun.

“Aku ingin mewakili Yong Hwa untuk kalian. Tenang saja, kita tidak akan mati,” ujar Seohyun dengan sangat berani. Ia pun berusaha naik sendiri ke keranjang itu. Dengan ragu, akhirnya Kyuhyun pun membantu gadis cantik itu naik. Kyuhyun meraih tangan gadis yang belum dikenalnya itu.

“Kau mengenal Yong Hwa-sshi?” tanya Kyuhyun yang belum sempat dijawab Seohyun.

Dari kejauhan, In-guk berteriak panik dan berlari dengan terlambat. Ia tidak sempat memperhatikan keberadaan adiknya disampingnya, tiba-tiba saja, Seohyun sudah menghilang. Yong Hwa yang tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini hanya bisa melongo.

“Bagaimana ini?!” ujar In-guk. “Kau harus bertanggungjawab untuk keselamatan adikku!” ancam In-guk pada Yong Hwa.

“Nega?” Yong Hwa menatap In-guk tak percaya. Menatap ke balon udara miliknya yang tampak aneh dan menyebalkan.

^^

“Kau yakin ingin terbang dengan balon jelek ini?” tanya Kyuhyun pada Seohyun. Seohyun hanya mengangguk. Kyuhyun menarik nafas dan berdoa di dalam hati.

Donghae dan Eunhyuk melepas pemberat yang tergantung di sisi-sisi keranjang balon gas dan perlahan balon gas itu pun bersiap terbang.

“Whaaa, menakjubkan!” ujar Seohyun dengan wajah sangat antusias.

“Bagiku ini menakutkan,” ujar Kyuhyun dalam hati.

Eunhyuk menatap iba pada Kyuhyun, seperti menyiratkan salam perpisahan untuk sahabatnya itu.

“Ya, Eunhyuk-Hyung, kenapa dengan wajahmu? Kau tidak perlu khawatir. Aku sudah mempersiapkan diri untuk hal seperti ini!” teriak Kyuhyun dengan penuh percaya diri. Terlebih saat ini ada seorang gadis cantik yang berdiri di sampingnya, ia merasa semakin tertantang.

“Kau yakin?!” Donghae yang mewakili Eunhyuk untuk bertanya.

“Yakin sekali!” teriak Kyuhyun.

Donghae dan Eunhyuk pun melambai-lambaikan tangannya pada Kyuhyun dan Seohyun. Seohyun dengan semangat membalas lambaian tangan itu. Sedang Kyuhyun mulai sibuk dengan tugasnya sebagai pengendali balon gas.

Dan, balon itu pun terbang ke udara dengan tampilannya yang sangat jelek. Namun, Seohyun merasa sangat senang. Ini pertama kalinya ia naik balon udara. Kyuhyun hanya bisa meringis disamping Seohyun.

Kyuhyun sedang berusaha mengatur laju balon udara dengan memperhatikan besar dan kecilnya nyala api di tungku pembakaran. Sebenarnya ia sudah cukup berlatih tentang hal ini. Namun, dengan gadis cantik disampingnya sekarang ini, membuat semua teknik latihannya selama ini tampak memudar dari ingatan.

“Aku Seohyun, namamu siapa?” tanya Seohyun sambil tersenyum amat manis pada Kyuhyun.

^^

~to be continued… ๐Ÿ˜€

Fanfiction EXO – #twitterland

Ini adalah buku keenam saya. Sekarang beralih ke EXO sesuai permintaan dari penerbit terkasih saya. Semoga suka ya. Mau baca sinopsisnya dulu sebelum beli? Silakan… Hehe ๐Ÿ˜€

“Lima orang asing berkenalan melalui twitter. Mereka adalah Suho, Soo Ra, Kris, Chanyeol dan Eun Ji. Awal perkenalan mereka, Suho dan Soo Ra sudah memiliki ketertarikan satu sama lain. Di awal pertemuan mereka belum mau berterus terang tentang kekurangan yang mereka miliki masing-masing. Seperti Suho yang mengaku fotografer profesional, Soo Ra yang mengaku penulis naskah besar, Kris yang pengusaha sukses, Chanyeol yang berhasil dengan band-nya dan Eun Ji yang seorang pegawai bank. Ternyata mereka sama-sama saling menyembunyikan sesuatu mengenai profesi mereka.

Pertemuan kedua, akhirnya mereka saling mengakui kekurangan masing-masing. Kris juga mulai berani menyatakan perasaan yang sesungguhnya pada Soo Ra dan akhirnya membuat Suho berniat membantu Kris untuk mendekati Soo Ra. Suho pun berusaha mengingkari perasaan yang sebenarnya terhadap Soo Ra. Di sisi lain, Eun Ji ternyata menyukainya. Soo Ra yang tidak bisa menghadirkan perasaan lain terhadap Kris berusaha sebaik mungkin untuk menghindar.

Disaat Hyang Gi, anak angkat Soo Ra mengalami sakit yang semakin serius, teman-teman dari #twitterland memberi semangat pada Soo Ra, terutama Suho. Akhirnya Kris dan Eun Ji tersadar bahwa kemungkinan besar perasaan mereka tidak akan terbalas. Mereka berlima akhirnya fokus pada cita-cita dan menyadari tujuan mereka bersahabat. Bagaimana akhir ceritanya? Temukan kisah dunia maya yang berakhir pada dunia nyata di #twitterland.”

“Cinta yang berhasil adalah cinta yang datang apa adanya. Dia jatuh saat ingin jatuh dan hinggap saat ingin hinggap. Tanpa memilih dan dipilih. Karena cinta, hanyalah jatuh.”

Jeongmal-gomawo-saranghaeee :*

Fanfiction SeoKyu “Your Wedding Singer”

โ€œKenapa bukan kau saja yang memakai rok bunga daisy pada saat itu sehingga aku bisa mengenalimu lalu melamarmu?โ€ tanya Kyuhyun pada Seohyun.

“Setangkai bunga daisy, gadis kecil berkepang dua, sebuah notebook dan seorang wedding-singer adalah sesuatu yang membawa Kyuhyun mengingat bahwa Seohyun adalah wanita pujaan hati dan takdirnya di masa lalu. Namun, ia baru menyadari pesona Seohyun saat gadis itu bernyanyi di hari pertunangannya dengan gadis lain. Menurut Kyuhyun, pernikahan hanya bisnis untuk melanganggengkan kejayaan Kangsan Group miliknya.

Seohyun adalah gadis kurang beruntung yang memiliki ayah pemabuk dan sering memukulinya. Ia memilih jalan menjadi wedding-singer untuk menghormati mendiang ibunya dan bekerja keras mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia memiliki impian memiliki sebuah perkebunan bunga dan buah kemudian lepas dari segala kemiskinan dan kesusahan yang melanda dirinya.

Dengan berusaha semampunya, Kyuhyun bermaksud mendekati Seohyun dan mendapatkan hatinya. Sementara di sisi Seohyun, ada Siwon yang memperhatikan dan sayang padanya. Seohyun mampu berbahagia karena kebaikan Siwon, walau akhirnya mengetahui masa lalu Siwon dengan Yuri, tunangan Kyuhyun. Saat menemukan kenyataan bahwa Kyuhyun adalah seseorang di masa lalunya, Seohyun menjadi tertarik untuk mulai mengenal Kyuhyun.

Akhirnya Seohyun membuat heboh perusahaan milik Kyuhyun dengan adanya gosip skandal di antara mereka. Disamping itu, ayah Seohyun terlibat hutang dengan para mafia dan membuat nyawanya terancam. Ia melarikan diri ke perkebunan dan bertemu dengan Sung Min yang ingin sekali bekerja di Kangsan Group. Kyuhyun membantunya diam-diam untuk lepas dari belitan masalah itu. Selamat menikmati Your Wedding Singer.”

Coming soon, ditunggu ya. Selanjutnya saya akan beralih ke EXO^^ Gomawoyo~

Fanfiction SeoKyu “Blueberry on the Valley”

Launching Buku Ketiga…

…judulnya “Blueberry on the Valley,”

blueberry

Inspirasinya datang saat saya selesai menceritakan soal buah berry di TheCrowdVoice. Ternyata buah ini menarik sekali untuk ditelusuri. Saya sampai browsing banyak materi supaya bisa menghasilkan cerita yang cukup berbobot.

“Blueberry on the Valley” bercerita tentang perkebunan blueberry yg dirawat oleh keluarga miskin yang memiliki putri cantik dan cerdas, bernama Seohyun, sehingga bisa mengolah blueberry menjadi minuman dan kue sampai ia pun mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Perkebunan tersebut dimiliki keluarga kaya yang memiliki putra bernama Kyuhyun, yang jatuh cinta pada putri pemetik blueberry. Mereka berteman akrab sejak remaja, namun hubungan itu terputus saat putra kaya itu dijodohkan dengan teman masa kecilnya. Putra kaya itu tidak mau menyerah memperjuangkan cinta putri paman petani yang dicintainya sampai ia rela dibuang oleh ayahnya. Bagaimana ya endingnya? Yuk, temukan bukunya di toko buku terdekat. Semoga berjodoh dengan bukunya dan berkenan dengan ceritanya yaaa. Annyeong ๐Ÿ˜€

Oh ya, buku keempat sedang digarap, mudah-mudahan bisa cepat selesai dan di-acc lagi. Mohon doanya ya, semua. Amin.